Three Little Warriors

diego-cunha.JPGMeski selalu dipandang sebelah mata, performa Bundesliga di musim 2007/2008, menunjukkan trend yang memikat. Kebangkitan Bayern Muenchen, yang (masih juga) ditempel oleh Werder Bremen, memberikan aroma persaingan tersendiri.

Kualitas permainan tim secara keseluruhan juga semakin meningkat, membuat tim-tim Liga Jerman tidak kalah “angin” ketika menghadapi tim dari Liga Inggris, Italia atau pun Spanyol. Fakta bahwa adanya signifikansi perubahan permainan mulai mencuat ketika tim-tim elit Bundesliga, semakin condong untuk menggunakan playmaker. Sungguh suatu hal yang boleh dibilang langka, mengingat pola permainan yang sering dikembangkan oleh Jerman adalah defensive power and awareness.

Trend dunia secara umum, memang semakin menghadirkan ruang sempit bagi sang ruh pengendali permainan . Zinedine Zidane, (mungkin) adalah generasi terakhir dari kelahiran pemain jenius berjuluk gelandang serang. Setelah era Platini, Maradona dan Francescoli, nama gelandang kelahiran Aljazair tersebut, benar-benar mendefinisikan seorang maestro distributor bola, yang memberikan arti lebih terhadap sepakbola itu sendiri.

Ditambah lagi manifestasi sepakbola modern, yang menjadi sebuah industri, dengan muatan komersil (baca : uang) sebagai subyek dan obyek dari permainan lapangan hijau. Artinya, tim dituntut bermain untuk menang. Percuma bermain cantik, namun tidak menang. Lebih baik bermain minimalis dengan hasil maksimal. Sesuai dengan prinsip ekonomi, toh……

Sebagai imbas dari tuntutan harus menang, banyak klub lebih suka menggunakan gelandang bertahan daripada playmaker. Seorang gelandang bertahan, lebih banyak berkutat di area tengah, sampai belakang. Mereka terkadang hanya menjadi tembok semata, karena memang tujuan utamanya adalah bermain safe (jangan sampai kalah). ‘

Coba bandingkan dengan playmaker, yang area kerjanya sangat berisiko. Seorang playmaker, punya daya magi untuk berimprovisasi untuk melewati satu atau dua penjaganya, sebelum memutuskan untuk memberikan umpan atau menuntaskannya sendiri. Itu, kalau berhasil, nah kalau tidak ? Sebuah lubang di lini tengah yang ditinggalkan oleh sang playmaker, kerap menjadi bencana bagi tim secara keseluruhan. Posisi yang ditinggalkannya membuat tim lawan, dapat melakukan serangan balik yang cepat dan mematikan. Belum lagi ditambah fakta bahwa, para playmaker dikenal “malas” untuk bertahan.

Meski demikian, kehadiran playmaker selalu dinanti-nanti. Fans dan terkadang klub-klub yang punya marketing brand besar, sangat suka terhadap figur tersebut. Begitu juga yang terjadi dengan Bayern Muenchen, Werder Bremen maupun HSV Hambung. Playmaker adalah jaminan hiburan sepakbola menyerang tingkat tinggi. Sebuah aksi meliuk maupun passing akurat dalam sekejap mata, mengundang decak kagum dan helaan nafas para fansnya.

Franck Ribery,Diego Ribas da Cunha, dan Rafael van der vaart adalah trio “mungil” playmaker yang paling membahana di Bundesliga, saat ini. Trio yang dijuluki pers eropa sebagai pint size playmaker, bukan hanya berhasil membawa timnya ke dalam rangking posisi yang lebih baik. Secara individu pun, ketiganya masuk kedalam gelandang paling produktif di daftar top skorer.

Diego dan Van der vaart, memimpin daftar top skor dengan 10 gol. Sedangkan Ribery, meski belum muncul, tetap menjadi vitalis bagi Bayern. Gerakan kejutnya tak tercatat oleh sensor bek tangguh dan kaku Liga Jerman, meninggalkan ruang terbuka bagi Luca Toni sebagai finisher.

Diego diboyong Bremen dari Porto. Dirinya adalah rekan seangkatan Robinho, namun kerap berada di bawah bayang-bayang pemain Madrid tersebut. Diego adalah permata yang belum terasah sempurna. Dia tidak seeksplosif Kaka, namun passingnya sangat akurat, menyamai The Lazy Magician, Roman Riquelme. Sayang, kemampuannya kerap tak muncul jika bertemu tim-tim kuat.

Van der vaart lain lagi ceritanya. Menerima tawaran dari klub tanggung Hamburg, adalah perjudian terbesar karir sepakbolanya. Hamburg memang tidak lebih besar daripada Ajax, namun Hamburg membuat van der vaart, tampak “lebih besar” di balik fisik mininya. Kaki kiri van der vaart sangat mahsyur di sini. Ditambah kebebasan ber-free role, Rafael semakin menancapkan eksistensi yang kuat sebagai jembatan lini tengah dan depan.

Franck Ribery adalah petualang klub. Sudah 5 klub ia singgahi, di usia yang baru mencapai seperempat abad. Namun akhirnya beliau sukses besar di Muenchen. Ribery tidak punya passing bagus, tetapi visi dan imajinasinya sangat capable, yang banyak membantu dirinya untuk langsung melakukan penetrasi ke salah satu area lapangan. Seperti seorang tentara yang masuk ke area musuh, Ribery “membabi buta” melakukan ancaman, sehingga meninggalkan ruang kosong di kotak 12 pas. Ruang yang nantinya menjadi area kekuasaan Luca Toni dan Klose. Area tembak leluasa bagi keduanya, untuk membombardir gawang lawan dengan gol.

Ketiga pemain di atas memberikan precedence tersendiri bagi Bundesliga. Di kala era striker sangat berkuasa, sungguh nyaman melihat kehadiran playmaker mampu menjadi motor penggerak timnya yang krusial. Pertanyaannya, akankah mereka sanggup bertahan sampai akhir musim ? Atau ini hanya sekedar euphoria sesaat ?

Form is temporary, but class is permanent….

1 comment:

  1.  

    […] sebuah ungkapan dalam sepakbola yang mengatakan “form is temporary, but class is permanent”. Performa […]

     

Write a comment: