YOUNG GUNS, Attacks To The Red Devils (episode 1)
(Jelang Putaran 5 FA Cup 2007-2008)
Suara bergemuruh derap cepat kaki-kaki kuda memecah hening dan pekatnya malam di kawasan berbukit nan terjal yang dipenuhi puluhan kaktus raksasa
Tanpa mempedulikan sengatan hawa dingin dan kelebatan burung-burung pemakan bangkai, derap itu semakin cepat diiringi dengan nafas para penunggang kuda yang tersengal-sengal… ngos…ngos…ngooosss…
Bahkan kilau cahaya dari mata-mata liar serigala dan dengus nafas suku-suku kanibal yang menyaksikan mereka dibalik batu-batu-pun tak dihiraukan
Thomas Rosicky, salah satu anggota The Gunners yang paling pintar mengatur irama serangan membabi buta, nampak memacu kudanya di posisi terdepan menemani para Young Guns-nya The Gunners. Sosok penembak ulung dan penembak tercepat itu begitu dihormati para gunners muda baru, hingga mereka menjulukinya dengan sebutan The Little Mozart…
Young Guns, memang kini menjadi pembicaraan hangat dimana-mana usai mereka menjadi penguasa altar keramat di satu rimba bernama rimba EPL
Aksi tembak menembak seringkali menewaskan beberapa gang-gang elit disana, berondongan pelor pelor panas kerap menghujam kala terjadi pertempuran sengit di benteng Emirates maupun benteng-benteng musuh
Dooorrrrr…………!!!
“You’re dead….dead…dead….” Fabby young gun berwajah bocah namun memilik naluri mengumpan nan mematikan itu menirukan gaya Billy The Kids sesaat setelah menuntaskan perlawanan anak buah Mark Hughes, 2 pelor tanpa balas…
Fabregas, Persie, Clichy, Flamini, Hleb, Sanderos menarik tali kendali di leher kudanya masing-masing. Para Young Guns itu terus memacu mengikuti kecepatan kuda sang mozart…..Dan menghentak-hentakkan kaki ke perut kuda hingga laju kuda merekapun bertambah kencang….membelah pekatnya malam
“Haiiiiiiyaaaaaaaaaaaa…..”
Rencana menyerang dan membumi hanguskan markas gang kuat dan pesaing utama saat ini di dataran Britons. Hal itulah yang membuat para Young Guns dan The Little Mozart mempertaruhkan nyawa menyambangi dukun putih di kawasan berbukit nan terjal itu.
Dukun putih yang lihai meracik ramuan mesiu dan jago memilih hulu ledak buat pistol-pistol yang biasa digunakan para Young Guns menghabisi musuh-musuhnya. Suku-suku Indian setempat maupun penduduk asli Britons, biasa menyebut dukun itu dengan sebutan sang professor…!!
“Hadapi mereka, bunuh mereka dengan ramuan ini..” sang professor memberikannya ke Little Mozart sambil memegang erat jemari sang penembak cepat itu.
“Mereka punya setan bersayap…” Fabby Fabregas tiba-tiba memecah kesunyian
“Itu julukan, prof…” timpal Sanderos takut celotehan Fabby menyulut emosi sang professor
(sang professor emang terkenal anti dipanas-panasin)
“Ya benar prof..julukan buat Christiano Ronaldo, yg dulu bersama Running Man Giggsy pernah terlibat keributan dengan para pendahulu Keown, Parlour, Viera dan Laurent” ujar Little Mozart dengan bijak menjelaskan
“Dia semakin matang, di tangan sir Fergie, prof…” sekali lagi Little menambahkan
“Bloody Hell….kalian tahu? bagaimana racikan saya dua kali membunuh The Reds musim lalu ?”sungut sang professor karena gerah mendengar nama itu disebut-sebut
“Atau ingat juga di musim silam, waktu kalian hanya bersepuluh, membekap Blackburn, huh?!” nada tinggi professor menghangatkan suhu dingin di goa tempat dukun itu tinggal
“Cool…. Professor….cool….” jawab Young Guns serempak…
Sementara Fabby masih bergidik ketakutan, akibat celotehannya itulah membuat The Professor murka sesaat.
***
Pertumpahan darah akan segera terjadi, dan itu tidak bisa dihindari..
Dukun putih sudah mengasah kampak perang membakar semangat para Young Guns
(bersambung untuk episode ke-2)


