Catatan Ringan Jelang Euro 2008 - Ironi Negeri Moyangnya Sepakbola

Beberapa hari yang lalu kita menjadi saksi, “kebangkitan” Inggris di tangan pelatih barunya. Saksi dimana, saat Inggris lakukan friendly match dengan calon tuan rumah Piala Eropa 2008, Swiss.
DAVIDJAMESAda kemajuan yang telah dicapai Inggris, diantaranya adalah kembalinya sang pesolek nan modis David James dan barisan harapan baru The Three Lions,
Gareth Barry, David Bentley dan Matthew Upson.
David James adalah jawaban atas turun drastisnya penampilan Paul Robinson dan masih miskin pengalamannya Scott Carson maupun Chris Kirkland.
Sementara Barry dan Bentley adalah jawaban atas kebutuhan sektor tengah yang kerap bolong. Upson sendiri adalah “ban serep” lini belakang yang kerap timpang dan pas pasan akibat lini itu pemainnya banyak yang didera cedera.


Namun kemunduran nampaknya masih terus berakrab akrab dengan Inggris.
Kemunduran dalam hal sektor pelatih, yang hingga kini masih dikendalikan oleh campur tangan pihak asing. Inggris menang, walo sempat tertinggal lebih dulu, namun semua itu berkat kecerdikan seorang Fabio Capello.
Ironisnya, Don Fabio yang memang dikenal miliki sense of tactic yang mumpuni, adalah seorang pria Italia tulen.

Inggris melalui FA-nya lagi-lagi..tidak malu-malu “mengemis”
kepada orang asing, guna membangun tim tangguh sepakbola dalam negerinya.

Secara negara yang katanya asal muasalnya bola,
sebenarnya hal ini adalah sebuah kemunduran yang lumayan akut.
Ketidakberdayaan Inggris dalam membangun sebuah tim sepakbola tangguh
Menjadikan negara-nya Pangeran Charles itu layaknya,
seperti negara dunia ketiga saja di kancah sepakbola internasional.

Kita tidak perlu heran ketika Jepang, Saudi Arabia dan beberapa
negara Timur Tengah begitu menggilai pelatih-pelatih asal Brasil
Korea Selatan yang akhir-akhir ini selalu Belanda-minded
Atau negara-negara di Afrika yang bergantian menarik
pelatih-pelatih asal Prancis, Jerman dan Belanda
Maklumlah, semua negara-negara itu adalah negara ketiga di dunia sepakbola internasional.
Jadi masih perlu “bimbingan” negara-negara yang tradisi sepakbolanya sudah mendarah daging, kuat tradisi bolanya macam Brasil, Jerman, Belanda dan Prancis
Inggris yang boleh dibilang sejajar dengan negara-negara
yang kuat tradisi sepakbolanya. Malah seperti negara ketiga yang masih butuh bimbingan. Tragis memang.
Inggris lewat FA-nya seperti patah arang, putus asa dan cemas
Ketakutan dipertanyakan dunia, sebagai negara tempat lahirnya sepakbola
Yang tidak pantas mengemban predikat moyangnya sepakbola
Hal itulah yang mulai, perlahan dirasakan Inggris!

Ada dua poin penting mengapa Inggris hanya sekali menjadi juara dunia dan tidak pernah menjadi juara Eropa

1.Ketidakmampuan Inggris memaksimalkan generasi emas
Bobby Charlton 1Hingga berpuluh-puluh tahun sejak lahirnya generasi emas Bobby Charlton, Geoff Hurst, Jack Charlton dan Bobby Moore di tahun 1966, Inggris belum juga melahirkan penerus mereka yang sukses meraih gelar dunia maupun gelar Eropa.
Mulai dari era Kevin Keegan, era Gary Lineker, era David Beckham, hingga era Frank Lampard yang hanya menjadikan Inggris seperti tim penggembira di ajang piala dunia maupun piala Eropa…

2.Ketidakberdayaan Inggris melahirkan pelatih dalam negeri berkualitas
Bayangkan, ketika Jerman punya Sepp Herberger, Helmut Schon, Jupp Derwall, Franz Beckenbauer dan Berti Vogts.
Begitu pula dengan Italia yang punya Vittorio Pozzo, Ferrucio Valcarregi, Enzo Bearzot dan Marcello Lippi
Mereka pelatih-pelatih cerdas dengan sense of tactic yang mumpuni, produk dalam negeri masing-masing, dan sukses memberi piala dunia & piala Eropa buat negaranya.
Sir Alf RamseyInggris cuma punya Sir Alf Ramsey seorang yang telah berjasa,
dengan hanya memberi gelar piala dunia 1966 saja..!
Terry Venables, Glenn Hoddle, Graham Taylor, Keevin Keegan,
dan Steve McLaren adalah barisan pelatih lokal yang kebingungan gimana menata generasi emas yang dilahirkan di ranah Britons.
Hanya Sir Bobby Robson saja yang lumayan prestasinya, walopun tidak sehebat Ramsey, tapi Robson sukses membawa Inggris hingga semifinal di piala dunia 1990.
Sedangkan untuk masa sekarang, hanya Harry Redknapp dan Alan Curbishley saja yang lumayan punya taji. Sisanya hanyalah pelatih-pelatih yang kurang miliki selera taktik dan tidak mampu menerjemahkan bahasa permainan dengan baik dan benar.

Indikasi itu sangat kentara bila kita melihat geliat EPL yang kini berlangsung makin hingar bingar saja.
Hingga laga ke-26, peringkat “terpandang” yaitu 5 besarnya, kini dikuasai bukan oleh orang-orang Inggris tulen. Tapi oleh Wenger dari Prancis,
Sir Fergie dari Skotlandia, Avram Grant dari Israel, David Moyes dari Skotlandia, dan Martin O Neill dari Irlandia Utara. Menyusul Rafael Benitez dari Spanyol dan SGE dari Swedia.

Harry Redknapp dan Alan Curbishley harus rela “terpojok” di posisi 8 dan 10 saja. Posisi 9 malah diusik oleh Mark Hughes asal Wales

Sungguh hal aneh dan tidak masuk akal buat negara yang mengaku sebagai nenek moyangnya sepakbola… Tragis dan Ironis

Mengaku moyangnya sepakbola tapi bergantung pada campur tangan asing
Itu sama saja dengan negara-negara Kamerun, Tunisia, Ghana, Senegal, Korea Selatan, Jepang dan Yunani yang memang notabene negara dunia ketiga dalam sepakbola internasional. Inggris-pun dikecam, Inggris dicemooh…

Mengaku moyangnya sepakbola tapi hanya sekali juara dunia tahun 1966
Tahun 1930, 1934 dan 1938 tidak ikut..
Tahun 1974, 1978 dan 1994 tidak lolos…

Mengaku moyangnya sepakbola tapi tidak pernah juara Eropa
Tahun 1960 tidak ikut..
Tahun 1964, 1972, 1976, 1984 dan 2008 tidak lolos..

Tidak terlalu penting membandingkan Inggris dengan Jerman dan Italia
Negara-negara itu memang memang miliki tradisi bola yang mengakar kuat
Kecuali Inggris, semuanya sudah sukses merengguk nikmatnya lebih dari sekali
menjadi juara dunia dan juara Eropa.
Namun Inggris mestinya belajar banyak dan mencontoh teladan
yang telah dilakukan Jerman dan Italia..
Jerman dan Italia hingga kini sangat mengharamkan pelatih asing
mencampuri urusan dalam negeri sepak bola negerinya

(selanjutnya : Teladan Jerman dan Italia)

3 comments:

  1. Premiership Dicengkram Asing | BOLANOVA.COM (Pingback), 18. February 2008, 6:45
     

    […] Jadi jangan heran ketika Inggris tidak lolos ke Eropa tahun 2008, tidak pernah juara eropa dan hanya sekali menjuarai piala dunia (1966) (baca lagi : Catatan Ringan Jelang Euro 2008 - Ironi Negeri Moyangnya Sepakbola) […]

     
  2.  

    […] Itu belum termasuk produk dalam negeri masa kini milik negeri pizza yakni Don Carletto, Don Mancio, dan tentu saja Don Fabio yang kini tangani Inggris. […]

     
  3.  

    […] Untuk kilas balik dan mengingat kembali, silahkan baca tulisan saya disini. […]

     

Write a comment: