Inter Melejit, Liverpool Terjepit
Pada hari dan tanggal yang sama, 16 Februari 2007. Dua tim dari dua negara dan dua laga yang berbeda. Bertanding melawan musuhnya masing-masing, Inter Milan di lanjutan lega Calcio sementara Liverpool di babak ke-5 piala FA.
Kesamaannya adalah, yaitu sama-sama menjadi tuan rumah dan sama-sama melawan tim semenjana. Nerrazzuri menjamu Livorno, dan The Reds menjamu tim antah berantah datang dari Divisi I, Barnsley namanya.
Ada lagi bedanya, Nerrazzuri berhasil berlari cepat dari kejaran Juventus dan AS Roma yang saling “membunuh” (Juventus menang).
Sedang The Reds malah kalah memalukan, terkubur di ajang piala FA.
Ajang yang sebenarnya bisa jadi pelipur lara kala posisinya di EPL kian tak menentu, terlebih masalah manajemennya-pun. Tentang duo yankee yang mulai gerah akan sepak terjang Rafael Benitez. Ikut-ikutan membawa masalah psikologis.
Melambatkan laju The Reds mengejar The Gunners, The Red Devils dan The Blues
Di ajang FA saja, mereka harus legowo disingkirkan “tim kemaren sore” Barnsley
Padahal saat itu Liverpool tampil dengan formasi terbaiknya,
kecuali Gerrard yang tidak tampil jadi starter.
Itu terlihat dari serangan kedua sayap, Babbel di kanan dan Benayoun di kiri.
Juga tusukan Kuyt dan Crouch yang kerap mengancam benteng Barnsley.
Mereka begitu sporadis gencar menekan tiada henti.
Tapi Barnsley tak patah arang, bermodalkan hanya dengan serangan balik.
Mereka justru sanggup menyamakan kedudukan,
bahkan melumat The Reds dirumahnya.
Kesamaan kedua adalah sama-sama miliki tumpukan pemain-pemain bertalenta di semua lini, yang kerap malah membuat pusing tujuh keliling pelatihnya.
Namun Inter beruntung memiliki pelatih berjiwa muda yang sanggup menyatukan ego kebintangan dan menghasilkan racikan tim solid. Hingga julukan kuburan para bintang yang sempat hinggap di tubuh Inter Milan-pun, hilang secara perlahan.
Bandingkan ketika masa dimana Don Mancio belum hadir disana.
Nama-nama macam Andrea Pirlo, Dennis Bergkamp, Roberto Carlos,
dan Clarence Seedorf, seakan menguap begitu saja.
Kunci sukses Don Mancio adalah optimalisasi yang dia dengungkan setiap saat.
Kita bisa melihat, dia gak mau sembarangan mengganti Cambiasso dan Stankovic.
Bahkan sosok Jimenez yang berstatus “dapat minjem” saja, bisa tampil optimal
Itu belum termasuk predator asal Honduras David Suazo, yang bila diberi mandat penuh akan bermain kesetanan. Suazo mencetak kedua gol Inter, pada laga melawan Livorno di menit ke-14 dan ke-18. Pembuktikan bahwa dia masih miliki refleks dan kecepatan yang luar biasa.
Sementara Liverpool dengan deretan bintang yang mereka punyai, mau gak mau memaksa Benitez lakukan tindakan rotasi secara berkelanjutan.
Itu sama artinya makin mengaburkan arti kerjasama tim bahkan makin menjauhkan arti kolektifitas buat keutuhan tim itu sendiri.
***
(bersambung : Optimalisasi versus Rotasi)



[…] (untuk kilas baliknya, baca lagi kisah : Inter Melejit, Liverpool Terjepit) […]
liverpool tetap akan jadi juara champions walaupun harus menghadapi intermilan di Giuseppe Meazza.jayalah liverpool untuk selamanya.
Blowjob races….
Free blowjob mpegs. Blowjob video clips free samples. Blowjob. Free blowjob pics. Free blowjob videos….