Premiership Dicengkram Asing

Alan CurbishleyRibut-ribut wacana memainkan partai ekstra, sebanyak 10 laga EPL di luar negeri menyulut banyak kecaman di dalam negeri Inggris. Pasalnya globalisasi ala premiership itu makin kuat membuktikan bahwa arena EPL memang ajang bisnis para investor kakap dari seluruh dunia.
Yang tentu saja makin menitipiskan atmosfer sepakbolanya itu sendiri

Alan Curbishley pawang West Ham United pernah mengkritik kebijakan duo yankee tycoons yg punya Liverpool, tentang kebijakan mereka yang “mendekati” Klinsmann di California secara diam diam.
Yang kemudian disusul para legenda The Reds yang ikutan bersuara lantang
Diantaranya Kenny Dalglish dan Ian Rush…

They are not football lover, they are a bussinessmen…” sungut mereka


Belum selesai masalah kepemilikan klub-klub Inggris yang jatuh ke cengkraman asing. Kini kondisi itu malah diperparah dengan wacana “kasar” mainkan laga di luar Inggris (berani dijamin, unsur bisnis cari keuntungan semata yang dilirik…)

Siapa saja orang orang asing yang mencengkram itu?
Randy Lerner ASTON VILLA OWNERRandy Lerner yang punyai Aston Villa
George Gillet dan Tom Hicks di Liverpool
Semua orang itu adalah yankees…alias orang orang Amerika Serikat
Manchester City dipunyai Thaksin Shinawatra
Fulham, punya Mohamed Al-Fayed orang Mesir..

Yahudi blasteran juga ikut bermain-main di bisnis EPL
yg mampu mengeruk untung berkarung-karung dari merchandise, tiket, dll..

Joel dan Avram Glazer miliki Manchester United (Yahudi Amerika Serikat)
Roman Abramovich yg punya Chelsea (Yahudi Rusia)
Sementara Portsmouth dimiliki oleh Alexandre Gaydamak (Yahudi Rusia-Prancis)
Tycoon asal Islandia aja, Bjorglofur Gudmundsson sampe ikut-ikutan
membeli West Ham United

Itu baru dari sisi pemilik….
Dari sisi pelatih-pun rata-rata didominir orang orang asing…
Coba simak hingga laga pada pekan ke-26 kancah EPL,
pada posisi terhormat (10 besar)
Hanya ada 2 orang Englishmen…
Harry Redknapp (Portsmouth, posisi 8) dan
Alan Curbishley (West Ham United, posisi 10)

Mereka berdua harus rela “mojok” dikeroyok oleh cengkraman asing.
ARSENE WENGER ARSENAL
Arsene Wenger-Prancis (Arsenal, 1)
Alex Ferguson-Skotlandia (Manchester United, 2)
Avram Grant-Israel (Chelsea, 3)
David Moyes-Skotlandia (Everton, 4)
Martin O’Neill-Irlandia Utara (Aston Villa, 5)
Rafael Benitez-Spanyol (Liverpool, 6)
Sven Goran Errickson-Swedia (Manchester City, 7) dan
Mark Hughes-Wales (Blackburn Rovers, 9)

Bandingkan dengan 10 besar Lega Calcio…di pekan yang sama.
Semua tim timnya dilatih oleh orang orang Italia tulen….
Don Mancio, Lex Spalleti, The Midas Ranieri, Cesare Prandelli (Fiorentina), Don Carletto, Pasquale Marino (Udinese), Walter Mazzarri (Sampdoria), Luigi Del Neri (Atalanta), Gian Piero Gasperini (Genoa), dan Francesco Guidolin (Palermo)

Hebatnya lagi, 10 besar tim tim Lega Calcio itu, 100% dimiliki oleh orang orang Italia tulen.

Cengkraman asing bukan hanya di sektor kepemilikan dan berseraknya pelatih saja
Masih ada “sisi gelap” lainnya yang makin memundurkan persepakbolaan Inggris,
Yakni di sektor pemain yang bercokol di klub-klub mapan Premiership.
Sudah jadi rahasia umum kalo Justin Hoyte, Theo Walcott dan Henri Lansbury hanya jadi “ban serep” saja bagi Arsenal. Elemen-elemen penting justru datang dari sosok sosok Fabregas, Hleb, Flamini, Rosicky, Gallas, Adebayor, Almunia dan Toure.
Atau Rooney dan Ferdinand di Manchester United yang rela dikeroyok kaki kaki emas asing. Itu belum termasuk Gerrard dan Crouch di Liverpool.
Atau Lampard, duo Cole, Wayne Bridge, SWP dan Terry di Chelsea.

Jadi jangan heran ketika Inggris tidak lolos ke Eropa tahun 2008, tidak pernah juara eropa dan hanya sekali menjuarai piala dunia (1966)
(baca lagi : Catatan Ringan Jelang Euro 2008 - Ironi Negeri Moyangnya Sepakbola)

Kembali menyoal kuatnya unsur bisnis di hingar bingarnya premiership tadi…

Dari negeri kita saja ada yang pintar baca peluang itu,
walo itu baru sebatas sponsor-partners
Tapi sudah ikut terjun merambah ke bisnis empuk di arena EPL
Grup Sampoerna dengan bendera Mansion-nya jadi sponsor-partnersnya Tottenham Hotspurs. Konon, mereka sebenarnya mengincar Manchester United.
Tapi ditolak mentah-mentah oleh manajemen MU saat itu.

Padahal duit trilyunannya mending buat bangun Persib kek, ato Persipura kek…
Tapi mana mau Group Sampoerna nanem duitnya di Indonesia ya
Lhaaaa… nonton bolanya aja bau aroma “kematian” (baca: rusuh, bakar, bunuh)
Sedang kalo nonton EPL, bisa mencium aroma harum “semerbak bunga”..

Para ivenstor asing jelas lebih pintar dalam mencium “semerbak bisnis”
yang mekar dan menguntungkan di ajang EPL…

Hmmmm….sedaaaap……………

No comments yet.

Write a comment: