Optimalisasi Versus Rotasi
(untuk kilas baliknya, baca lagi kisah : Inter Melejit, Liverpool Terjepit)
Walaupun di lini depan, Zlatan Ibrahimovic dan Julio Cruz sudah “cocok” satu sama lain, tapi David Suazo bisa menjadi senjata rahasia yang mematikan
Sementara Torres, masih belum juga menemukan “teman” yang pas di lini depan. Sayang sekali bila Kuyt ataupun Crouch, duduk berlama-lama di bench.
Ironisnya, justru kedua tim. Liverpool yang gemar mainkan rotasi dan Inter Milan yang sudah mematenkan lini tengahnya dengan optimal
Akan beradu dalam lanjutan babak knock-out Liga Champions, Selasa (19/2) di Anfield.
Optimisme Don Mancio-pun mengemuka sudah, terlebih setelah melihat Liverpool calon lawannya terkapar di putaran kelima Piala FA dari Barnsley.
Yang tentu akan mempengaruhi mental The Reds sebelum menjamu pasukannya.
Jadi melejitkah Inter Milan dengan optimalisasi-nya?
Atau Liverpool yang semakin terjepit karena rotasi yang tak berkesudahan?
Bayangkan, disaat Inter Milan telah menemukan “jati diri” skema tengah-nya dalam diri Cambiasso-Zanetti-Stankovic. Peran Maniche dan Jimenez bisa jadi opsi lain untuk mencari bentuk skema serang alternatif, tanpa mengubah fondasi dari kaki kaki Cambiasso, Zanetti dan Stankovic.
Optimalisasi itulah yang membuat Nerrazzuri menang 18 kali, 5 kali bermain imbang dan tanpa sekalipun menderita kekalahan. Sementara Liverpool dengan gaya rotasinya hanya mampu bercokol di posisi 6 klasemen EPL dan tersingkir secara memalukan di ajang Piala FA
Liverpool masih kebingungan akan pemilihan posisi sayap kanan, Babbel atau Pennant. Dua bek kiri mereka Finnan dan Aurelio juga sama bagusnya.
Untungnya tubrukan Sissoko-Mascherano sebagai tukang rebut bola telah usai. Sissoko lebih memilih Juventus sebagai labuhan berikutnya.
Apakah optimalisasi saja cukup buat Nerrazzuri?
Harus pula diingat, bahwa The Reds kerap membuat kejutan tak terduga…
Di perjalanannya di UCL tahun ini saja, mereka bahkan hanya punya sebiji poin dari 3 laga awal yang telah dijalani saat itu. Pesimistis, cibiran bahkan ejekan melanda mereka, tapi apa yang terjadi adalah The Reds berhasil menjungkalkan semua ramalan orang. Besiktas dilumat 8-0, mengalahkan FC Porto 2-1,
semuanya terjadi di Anfield. Malah ketika “sowan” ke kandang Marseille, The Reds sukses menghajar mereka di rumahnya dengan skor telak 0-4.
Hingga membuat Marseille terusir ke ajang UEFA.
Kejutan paling fenomenal tentu saja, kalah 3-0 di babak pertama, dalam laga
final UCL 2004-2005 dari AC Milan. Pertandingan yang sangat mencegangkan
Tapi akhirnya malah mereka menang adu penalti., karena sukses menyamakan skor.
Kemenangan inilah yang paling fenomenal, kejutan tak terduga yang tak masuk akal
Jadi, buat Don Mancio… bersiaplah menghadapi fanatisme di Anfield,
dan fenomena kejutan tak terduga yang kerap menghampiri tim Meyerside itu.



LIverpool bantai aja inter dengan skor 15-1