Penantian panjang, Irfan Bachdim
19 tahun 6 bulan dan 6 hari, adalah waktu yang dibutuhkan seorang pemuda keturunan Indonesia, untuk melakoni partai penuh professionalnya di Liga Utama Eropa.
Nama sang pemuda adalah Irfan Bachdim. Beliau lahir dari ayah seorang Indonesia, Noval Bachdim dan ibu asli Belanda. Dengan tinggi 172 cm, Irfan memainkan posisi sebagai gelandang tengah di klub semenjana FC Utrecht.
FC Utrecht saat ini bertengger di papan tengah Eredivisie. Tim ini banyak dihuni pemain muda, yang berharap-harap cemas untuk siap “merumput” kapan saja. Termasuk seorang duta bangsa Indonesia, Irfan Bachdim. Dengan keuletan, dan sedikit bumbu keberuntungan, Bachdim mendapat “ganjarannya”.
Buah kerja kerasnya selama hampir 20 tahun, menghasilkan awal yang cerah dalam 2 x 45 menit di Galgenwaard Stadium. Di hadapan belasan ribu pasang mata, Bachdim berhasil menunjukkan performa maksimum, yang membuahkan sebuah tendangan penalti bagi timnya.
Dan meski sang eksekutor, gagal membuahkan gol dari titik 12 pas, hal tersebut tidak mengurangi prestasi Bachdim dalam debut penuh pertamanya. Irfan konstan bergerak di sisi sayap, satu hal yang mungkin kurang sreg dalam pikirannya. Karena posisi favoritnya adalah playmaker.
Namun pelatih punya pikiran lain, dengan tubuh yang tidak terlampau tinggi, Irfan dianggap punya nilai lebih dalam hal kecepatan. Dan pembuktian telah dilakukan.
Partai Utrecht melawan VVV Venlo memang menghadirkan sisi unik, khususnya bagi warga Indonesia. Selain Irfan Bachdim, sosok pelatih tim lawan, VVV Venlo yaitu Andre Wetzel, juga punya darah Indonesia. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh BOLANOVA.
Kembali ke Irfan Bachdim. Awal perjuangan telah dimulai. Pilihan ada di tangannya, dengan terbukanya kesempatan yang lalu, Bachdim punya banyak kesempatan merajut menit demi menit pada pertandingan berikutnya.
Belajarlah dari kasus Kurniawan DY, ataupun Bima Sakti. Bahwa persaingan sepakbola Eropa memang sangat ketat. Bahwa mempertahankan performa akan jauh lebih sulit daripada merebut suatu posisi di lapangan.
Dan saya yakin, Bachdim punya karakter yang beda dari pemain lainnya. Dengan memutuskan berkarir semenjak usia 12 tahun di negeri seberang, dirinya pasti sudah memperhitungkan karir hidupnya secara matang.
Maju terus Irfan Bachdim, kami tunggu aksi-aksimu nun jauh di sana, di bumi nusantara !!!!!
Source : www.djenol.blogspot.com (Photo)



ini baru mantrap……!!!!!!!!!!
orang indonesia, muda, maen untuk tim papan tengah divisi utama. udah prestasi yg membanggakan itu melihat persepakbolaan indonesia sekarang….
hanya satu yg mengganggu pikiran saya yaitu kenapa si irfan ini ga maen di inggris aja walau akan sangat sulit berkembang karena kondisi EPL yg kurang bersahabat akhir2 ini. tapi paling ga jgn buat si andy seneng karena si irfan ini bakal maen di italia walau begitu saya akui belanda bagus buat perkembangannya si irfan.
@ seno :
weleh…weleh…weleh….viva HOLLAND bung seno….. irfan memulai karir di Belanda karena selain punya keturunan setempat, juga karena alasan kemudahan bermain secara professional
Kalau bermain di Inggris, sangat2 sulit….permasalahan ijin kerja di negara tersebut sangat ketat. Bahkan sudah beberapa kali muncul kasus pemain hebat sekalipun (NON-EU) ditolak visa kerjanya, dan gagal merumput di EPL.
Satu lagi, biaya hidup di Belanda jauh lebih murah daripada di Inggris, dan fyi, Irfan bukanlah berasal dari keluarga berada, sehingga lebih realistis utk berkembang di Belanda daripada di Inggris
Mudah2n ini jadi pembuka buat orang2 Indonesia yg lain untuk unjuk gigi di benua biru. Btw, Irfan bisa (dan mau) masuk timnas Indonesia nggak nih?
CUMA MAIN DI HOLLAND AJA DACH BANGGA BANGET
CAPE DECH…….
MAIN TU DI INGGRIS KEK
IRFAN PALING GA MAU BELA TIM INDONESIA YANG ISINYA CMA PMAIN AMATIRAN
@ ali budi
kayaknya memang harus bangga donk mas. liat aja pemain2 hebat indonesia yg lain, mulai dari dulu ampe sekarang, ga da yg bisa maen di eropa tanpa “campur tangan pemerintah” lewat program primavera (bener ga tulisannya yaa???). irfan tuh merintis dari nol di negri orang sana, saya pribadi baru tau kalo ada pemain muda indonesia yg bisa nembus tim senior belanda dan anak itu bernama irfan bachdim… menurut saya pribadi sepak terjang irfan memberikan sedikit harapan dan penegasan bahwa ga da yg salah dengan pemain indonesia. yg salah itu adalah system terutama system pembinaan dan kompetisinya..
kayaknya faktor pemain timnas indonesia yang mas bilang “amatir” bukan jadi yg utama untuk bahan pertimbangan irfan, mungkin kalau pun dia menolak itu lebih di karenakan faktor kondisi persepakbolaan kita yg murat marit kayak sekarang….
regards…
Maju terus TIMNAS MERAH PUTIH
BERSIHKAN PSSI DARI ORANG2 GUOBLOK DAN MIKIRIN PERUT DOANK….
Timnas Indonesia jgn ampe kecolongan!
Melihat bakat dan potenso Irfan, mereka harus bergerak cepat dgn memanggilnya ke Timnas Senior Indonesia..
Apalagi, kabarnya Irfan lbh suka bermain di Negeri Kelahiran ayahnya itu..
So, jgn sampai Timnas Belanda menyerobot Irfan!
Maju terus Sepakbola Indonesia!
@ ALI BUDI @
ALI BUDi sok tau kaya dirinya sendiri bisa main di inggris aja….
u sendiri bisa kaga main di inggris?…..jangan cuma bisa ngomong doang,
biar team amatir tapi indonesia masih bisa main bola, dari pada situ bisa kaga main di level
LIGA INDONESIA aja deh u buktiin dulu jangan cuma ngomong doang..
Sebenarnya kalau kita berbenah, baik itu pemain bola, atau atlit apa saja, profesional lain sampai ke tukang insinyur semua sama.
Pada dasarnya orang kita cepat puas dan lupa diri disanjung, terkenal sedikit merasa gede kepala, hidung kembang kempis waktu diwawancara, sekalian berpesta pora dengan tajuk sukuran.
Sebenarnya sih typical kebanyakan orang kita kaya katak dalam tempurung, dan terlalu memegang pepatah kuno dengan interpretasi menghibur diri kalau nggak mau kerja keras untuk mencapai dan mempertahankan kesuksesan.
Hujan batu di negri senditi lebih dari Hujan Emas di negri orang, ini one hundred fuckin pencent wrong, makanya gunakan hadist yang diturunkan Tuhan ke Nabi Muhammad SAW yang berbunyi Tuntutlah Ilmu pengetahuan dari Ayunan sampai ke Liang Kubur.
Salah satu maksudnya gunakan akal sehatmu untuk hidup dunia dan akhirat, kejarlah cita-cita dan timbunlah hartamu seolah kamu akan hidup seribu tahun, dan jangan lupa kepada penciptamu seolah kamu akan mati besok.
So dengan ini apa salahnya kita kenegri orang ngumpulin emas dari hujannya, ntar kalau emas dah terkumpul kita bayar ahli yang bisa bikin atap rumah atau payung yang bisa nagkis hujan batu,……………… ha ha ha pintar gue.
Hubungannya denga Irfan Bachdim, kejar cita cita mu sebagai pemain bola kalau memang itu jalan yang kau pilih, mau pakai bendera apa (Indonesia or Belanda) up to you coz you have been content of both of this country.
Disini boleh nggak minta sama pemerintah buat merefisi UU kewarganegaraan anak yang mempunyai orang tua berbeda kewarga negaraan, supaya anak ini bisa mempunya DUAL NATIONALITY (CITIZASHIP) kayak kebanyakan negara negara Eropa, untuk mempertahankan potensi manusia yang lebih cendrung memilih career dari barat, karena rate nya lebih baik dari kebanyakan asia, menyangkut ke hidup seseorang akan memilih yang terbaik utk hidupnya, apa salahnya kita beri kesempatan, hitung-hitung kalau dia bayar pajak dengan rate penghasilan eropa kan lumayan buat devisa ketimbang dia lepas kewarga negaraan indonesia karena dia harus memilih.
Terima kasih Irfan Bachdim, kamu jadi inspirasi saya menulis ini, sekalian saya juga mengharapkan ini bisa terjadi karena anak saya akan senasib dengan Irfan.
Sebenarnya kalau kita berbenah, baik itu pemain bola, atau atlit apa saja, profesional lain sampai ke tukang insinyur semua sama.
Pada dasarnya orang kita cepat puas dan lupa diri disanjung, terkenal sedikit merasa gede kepala, hidung kembang kempis waktu diwawancara, sekalian berpesta pora dengan tajuk sukuran.
Sebenarnya sih typical kebanyakan orang kita kaya katak dalam tempurung, dan terlalu memegang pepatah kuno dengan interpretasi menghibur diri kalau nggak mau kerja keras untuk mencapai dan mempertahankan kesuksesan.
Hujan batu di negri senditi lebih dari Hujan Emas di negri orang, ini one hundred fuckin pencent wrong, makanya gunakan hadist yang diturunkan Tuhan ke Nabi Muhammad SAW yang berbunyi Tuntutlah Ilmu pengetahuan dari Ayunan sampai ke Liang Kubur.
Salah satu maksudnya gunakan akal sehatmu untuk hidup dunia dan akhirat, kejarlah cita-cita dan timbunlah hartamu seolah kamu akan hidup seribu tahun, dan jangan lupa kepada penciptamu seolah kamu akan mati besok.
So dengan ini apa salahnya kita kenegri orang ngumpulin emas dari hujannya, ntar kalau emas dah terkumpul kita bayar ahli yang bisa bikin atap rumah atau payung yang bisa nagkis hujan batu,……………… ha ha ha pintar gue.
Hubungannya denga Irfan Bachdim, kejar cita cita mu sebagai pemain bola kalau memang itu jalan yang kau pilih, mau pakai bendera apa (Indonesia or Belanda) up to you coz you have been content of both of this country.
Disini boleh nggak minta sama pemerintah buat merefisi UU kewarganegaraan anak yang mempunyai orang tua berbeda kewarga negaraan, supaya anak ini bisa mempunya DUAL NATIONALITIES (CITIZASHIP) kayak kebanyakan negara negara Eropa, untuk mempertahankan potensi manusia yang lebih cendrung memilih career dari barat, karena rate nya lebih baik dari kebanyakan asia, menyangkut ke hidup seseorang akan memilih yang terbaik utk hidupnya, apa salahnya kita beri kesempatan, hitung-hitung kalau dia bayar pajak dengan rate penghasilan eropa kan lumayan buat devisa ketimbang dia lepas kewarga negaraan indonesia karena dia harus memilih.
Terima kasih Irfan Bachdim, kamu jadi inspirasi saya menulis ini, sekalian saya juga mengharapkan ini bisa terjadi karena anak saya akan senasib dengan Irfan.
SALUT! DAH JAUH TAPI MASIH INGET MA NENEK n KAKEK MOYANGNYA . MOGA SUKSES BWT IRFAN……OK
minta kabar rigan agachi donk..