Depor yang tak lagi “Super”

depor_370.JPGPecinta La Liga, dijamin (pasti) pernah terngiang akan Deportivo La Coruna. Ketika dengan gagah berani, tim berkostum biru bergaris putih, pernah “menghantam” hegemoni duet abadi kemapanan Liga Spanyol, Barcelona-Real Madrid.

Tetapi itu dulu, ketika klub yang pernah melahirkan si kaki kiri maut, Rivaldo Barbosa, merajai La Liga pertengahan tahun 1999-2004. Dalam 5 tahun perjalanan, Depor tidak pernah keluar dari area 3 besar. Kalau tidak juara, yah runner up atau minimal peringkat 3.

Sebenarnya ada di mana posisi Depor saat ini ?

Ibarat kata, ubahlah perspektif anda dalam melihat sesuatu. Jika anda terbiasa melihat dari atas ke bawah, kini saatnya anda membaca klasemen secara terbalik. Ya di situ anda akan menemukan posisi terkini dari La Coruna. Tepatnya di urutan 18 atau 3 dari bawah.

Publik Estadio Municipal “harus” terbiasa mengalami kekalahan demi kekalahan. Stadion Riazor tidak lagi menjadi tempat yang “bersahabat” bagi tuan rumah, dan realitanya memang begitu. Dengan materi pemain yang tidak terlampau bagus, plus faktor pelatih yang belum nyetel dengan “iklim” Depor, membuat prestasi tim menjadi tersendat.

Sang entrenador, Miguel Angel Lotina, sebenarnya bukan pelatih kacangan
. Gelar Copa Del Rey yang direngkuhnya bersama Espanyol di musim 2005-2006, bukanlah prestasi sembarangan. Lotina pula yang berhasil membawa tim-tim semenjana, macam Celta Vigo maupun Real Sociedad, menjadi tim-tim yang sukar dikalahkan. Prestasi untuk (minimal) lolos ke Piala UEFA pun, sering dicapai oleh klub-klub yang memakai jasa dari Lotina.

Dan pola pikir seperti itulah yang membawa petinggi klub Deportivo, mengambil Lotina sebagai pelatih kepala. Kerusakan kronis yang menimpa Depor dalam 2 musim terakhir (Peringkat 8 dan 13 La Liga), perlu untuk dihentikan. Anehnya, prestasi jelek Depor dalam 2 musim itu, justru terjadi ketika dipegang oleh pelatih yang secara teknis punya kapasitas lebih hebat dari Lotina, yaitu Joaquin Caparros.

Ketika banyak orang mengagumi Juande Ramos (sekarang pelatih Tottenham Hotspur), berkat torehan 2 gelar Piala UEFA bersama Sevilla, saya justru salut akan kehebatan Caparros. Lho kok bisa ?

Sevilla memang melejit bersama Ramos, namun banyak yang tidak tahu, bahwa fundamental teknis Sevilla, sebenarnya dikembangkan oleh Joaquin Caparros. Caparros berhasil membentuk tim muda yang hebat, yang menjadi tulang punggung Sevilla saat ini. Jose Reyes, Sergio Ramos, Jesus Navas, merupakan pemain-pemain hasil didikan Caparros.

Kembali ke Depor…. Materi yang dimiliki Lotina, memang tidak parah-parah amat. Tim ini masih punya kekuatan cukup di belakang. Alberto Lopo, Filipe, Coloccini, dan Barragan, punya potensi besar sebagai kuartet “muda” yang tangguh. Di tengah, masih ada sisa-sisa kejayaan dari Juan Valeron, yang didukung oleh gelandang muda Juan Rodriguez maupun sayap bagus yang terbuang dari Roma, Christian Wilhelmsson.

Dan akhirnya, terjawab sudah kebobrokan tim Depor, di mana sisi terlemahnya, yaitu sektor depan
.

Sungguh memalukan, bagi tim yang (selalu) punya goleador hebat (baca : pencetak gol ulung). Mulai dari Rivaldo, Roy Makaay, sampai Diego Tristan. Sekarang, ada siapa di Depor ? Catat nama-nama ini, Bodipo, Riki, Adrian dan Xisco.

Who are they ? Memicingkan mata tentu merupakan hal yang lumrah dilakukan anda jika mendengar nama-nama di atas. Wajar saja, karena selain Bodipo, pemain lainnya lama berkelana di klub-klub kelas dua. Dan mungkin juga kemampuan mereka hanya “kelas dua”.

Tidak bisa tidak, Depor harus memboyong 1-2 pemain hebat di paruh kedua kompetisi. Dengan kondisi keuangan klub yang sedang-sedang saja (tidak buruk, dan juga tidak bagus), Depor bisa menambah amunisi melalui opsi pinjaman.

Setahu saya, ada beberapa striker bagus yang “terbuang”. Saviola dan Soldado di Madrid, sebenarnya menyimpan potensi besar, daripada sekedar menjadi “penghias” bangku cadangan Los Merengues.

Atau jika harus tetap bertahan dengan komposisi yang ada, mungkin seorang Juan Riquelme perlu diboyong dari Boca Juniors. Memanfaatkan kondisi “sakit hati” yang dialami the Lazy Magician, terhadap bekas klubnya, Villareal, akan berdaya guna ganda bagi Depor.

Kualitas permainan yang mengkilap, sekaligus mendapatkan suplai surplus bagi para strikernya, akan jauh membuat hulu ledak Deportivo berdengung kencang.

Yah ini mungkin hanya sekedar usulan, atau malah cuma “impian” ??? Yang jelas saat ini, Depor tak lagi Super…..

No comments yet.

Write a comment: