Inggris, belajarlah kepada Amerika !!!!

england-usa.jpgSaya tahu, dan sangat percaya, penggemar liga eropa di Indonesia, didominasi oleh English Premier League (EPL) Mania. Dan bukan karena itu, saya sengaja menampilkan tulisan ini.

Saya pribadi sebenarnya juga bukan penggemar liga Inggris. Saya lebih senang dengan Liga Italia. Namun bukan karena alasan itu juga, saya membuat tulisan dengan judul seperti di atas, untuk “menyerang” negeri yang dikenal dengan nenek moyangnya sepakbola.

Last but not least.., saya juga bukan pendukung negara adidaya, USA, yang dengan segala kebijakannya, membenarkan dominasi tanpa batas terhadap bangsa lain.

Saya hanya ingin menampilkan sisi lain dari negeri Paman Sam, yang semoga dapat dijadikan suri tauladan oleh negara lain di dunia, khususnya dalam pengembangan industri olahraga.

Tidak sedikit masyarakat Britania Raya, yang menolak terhadap sebuah wacana mengenai melangsungkan pertandingan EPL di luar Inggris, khususnya pertandingan di awal musim. Usulan ini dianggap prematur, tidak masuk akal dan “menghilangkan” soul dari England Football.

Menjadi tambah lengkap, ketika usulan ini muncul dari Glazer and “the American Gank’s”. Fans Inggris menggangap kapitalisme ala koboi Amerika yang merambah sepakbola sudah keterlaluan. Benarkah begitu ?

Saya pikir, TIDAK. Bangsa Inggris seharusnya berkaca kepada dirinya sendiri. Mereka tidak sadar bahwa mereka sudah jauh lebih kapitalis, bahkan lebih daripada Amerika Serikat, sekalipun !!!

Tahukah anda, bahwa “uang sangat berkuasa” di London (contohnya). Sebuah klub di sana, dikuasai oleh taipan Rusia, dilatih oleh warga negara Israel (setelah sebelumnya ditangani oleh orang Portugal, Italia dan Belanda), memiliki pemain dari seluruh penjuru dunia. Tim ini juga menggunakan apparel dari Jerman dan bersponsor sebuah perusahaan elektronik asal Korea. Wow, sangat global bukan ???

Tim di Amerika jauh lebih baik. Ambil contoh dari klub American Football, New York Giants, yang baru saja menjuarai Superbowl 2008, tidak menjadi juara karena uang yang dimilikinya. Seorang pemain hebat macam quarterback, Peyton Manning tidak akan pernah diperjualbelikan dengan harga $ 20-30 juta. Asasnya jelas, bahwa di USA, ada salary cap (batasan gaji), yang tidak memungkinkan sistem transfer gila-gilaan seperti di sepakbola dapat terjadi.

Yang lebih bagus lagi, Amerika mengenal sistem pemerataan. Bahwa tim terlemah di musim kompetisi yang lalu, mendapat kesempatan mengambil pemain terbaik dari college melalui sistem draftpick. Akibatnya persaingan dapat terjaga, dan jurang antara tim kuat dan lemah menjadi tidak jomplang.

Pemain-pemain dari Universitas di Amerika Serikat, selalu terpakai di Liganya, dan sebaliknya schoolboy maupun youngster di Inggris, malah diperjualbelikan di lower League, bahkan tak kadang, tidak memperoleh minutes play, atau bahkan berganti profesi.

Sepakbola Inggris ternyata telah menjelma menjadi sepakbola tanpa peraturan yang baku dan jelas. Di mana harus lebih banyak lagi inovasi dilakukan, khususnya untuk menjaga kelangsungan jati diri St George Cross di masa depan.

Tidak usah malu, untuk belajar dari saudara muda, negara adidaya USA, yang ironisnya, justru tidak pernah punya akar sepakbola yang kuat.

4 comments:

  1. Hedi, 3. March 2008, 2:58

    AS itu gudangnya showbiz. Soal kemampuan meracik industri kompetisi, mereka salah satu yg terhebat. Kelemahan mereka (MLS) cuma satu, soal hak siar dan pernak pernik siaran langsung televisi. Soal itu, mereka terus terang belajar pada Bundesliga, bukan Premiership :D

     
  2. seno, 3. March 2008, 12:27

    emang beberapa musim belakangan udah ga terlalu keliatan lagi pemain muda berbakat asli inggris (walcot is suck) yg main di EPL atau di liga manapun…. inggris…inggriss… malang benar nasib mu…. (si andy pasti senyum2 sekarang) wakakkakakka

     
  3. Andy N. Gultom, 3. March 2008, 13:42

    @ hedi :

    USA memang showbiz master, lihat saja NBA, NFL, MLB, or NHL
    thx atas infonya, mengenai MLS belajar dari Bundesliga utk soal siaran televisi.

    @ seno :
    yah itu dia sen, boro2 bisa bersinar, pemain Inggris ga banyak dpt minutes play di timnya masing2…ditambah hrg pemain inggris mahal2 pula, kalah murah dan kualitas dari pemain eropa lainnya

     
  4. seno, 3. March 2008, 16:46

    @ andy
    kayaknya dari pada mubazir tuh pemain2 inggris yang muda-muda di iket jadi satu trus di cemplungin aja kelaut..( kesel aku liatnya ) padahal aku rasa kalo di kasi kesempatan yg memadai tuh pemain2 muda inggris banyak yg punya talenta yang mungkin ga di miliki ama pemain manapun di luar inggris ( kayak gerrard yang ulet dan punya umpan cihuy trus tendangan gledek ) kita doain aja pihak klub dan FA cepet sadar kalo TIMNAS itu lebih baik jika di bangun dari pemain2 muda… nah klo masalah pelatihnya aku rasa FA harus memupuk rasa percaya kepada pelatih lokal jangan kayak pepatah belanda yg berbunyi “gara2 nila setitik, rusak susu sebelanga” heheheh…. jangan gara2 satu pelatih lokal geblek semua dianggap longorrrr…

    hidup inggris…. selamatkan PSSI dari bang napi…

     

Write a comment: