When age does matter…
Rangkaian lokomotif tua itu hancur sudah….
Dilibas oleh modernnya eurostar yang melintasi negeri Ratu Elizabeth. AC Milan, raja Italia yang kenyang gelar, harus mengakui keunggulan tim London Utara, Arsenal.
Semua rekor sejarah dan bukti statistik lenyap sudah. Rekor tak terkalahkan oleh tim Inggris apapun sepanjang masa di San Siro, terhenti pada pertandingan yang ke 12.
2 gol penghukum, dalam 10 menit akhir pertandingan, semakin menunjukkan kedigdayaan mental the Gunners, sebuah hal yang ironisnya menjadi keunggulan Milan dalam beberapa tahun belakangan.
Maldini dan kawan-kawan sebenarnya memulai pertandingan dengan start bagus. Beberapa peluang langsung diperoleh melalui Inzaghi ataupun Kaka. Namun pelan tapi pasti, “penyakit lama” Milan kambuh lagi.
Entah disengaja (instruksi dari Ancelotti) atau tidak, di tengah-tengah permainan, Milan memperlambat tempo, dengan memainkan pola umpan lambung langsung ke jantung pertahanan. Kecondongan permainan yang lebih didominasi Arsenal, sepertinya “memaksa” Milan menjadi “takut” dan mengubah alur strategi.
Terbukti kembali kisah lama Ancelotti, sebagai pelatih yang cari aman. Terlepas dari kekuatan fisik, pressing dan skill anak-anak The Gunners. Carletto terlihat lebih cenderung mengharapkan aksi individu trio Kaka, Inzaghi dan Pato, sebagai kumpulan “juruselamat” Milan.
Di tengah uzurnya sekelompok bek dan gelandang, darah muda yang bisa diandalkan memang hanya sektor depan. Namun semuanya hanya tinggal menunggu waktu.
Berkali-kali di babak pertama, Adebayor, Hleb maupun Fabregas menunjukkan kerjasama satu sentuhan yang menawan. Aksi berjibaku tak kenal lelah juga dikapitalisasi secara gamblang oleh Flamini. Milanello bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan kami terus tertekan ?
Babak kedua menunjukkan secercah harapan. Bukan dari sisi Rossoneri, tapi dari kemunduran tim lawan. Arsenal seperti terhipnotis dan mengikuti pola lambat nan tak terarah yang diusung Milan seperti di babak pertama.
Dan ketika gim berlangsung membosankan, dan publik berharap akan babak perpanjangan, teringatlah Wenger kepada kartu as-nya, sang bocah kecil harapan Inggris yang belum sanggup menembus starting line up, Theo Walcott.
Walcott seperti memberi peruntungan bagi kubu The Gunners. Tak sampai 5 menit di lapangan, gol pun tercipta. Aksi tembakan keras indah dari jarak 25 meter oleh Cesc Fabregas, tak mampu diraih terjangan sisa-sisa kekuatan tangan renta Zeljko Kalac,1-0.
Sebuah gol yang diyakini oleh semua orang yang menonton pada saat itu (termasuk saya tentunya), sangat pantas dan cukup untuk menutup peluang juara bertahan Liga Champions menuju babak selanjutnya.
Dan itu belum cukup, sampai pada suatu ketika, Walcott menembus penjagaan Kaladze, menusuk kotak penalti, memberi umpan, untuk dihabisi oleh Adebayor, 2-0
It’s over Milan…it’s over now. Tiada lagi tempat penyelamatan muka bagi Carlo Ancelotti. Mungkin taktikmu tidak usang, namun yang jelas usia tak bisa dilawan.
Hadapilah realita, “Last night at San Siro…., I believe that age does matter “



kalo menang orang bilang ” wah hebat, emang pengalaman berbicara ” tapi kalo kalah orang bilang ” emang faktor umur…. yah namanya juga anak muda ngelawan opa-opa ”
selama masih ada alasan ya gpp lah….. yang penting klub inggris menang… hhahahhahahhah
nb : tinggal nunggu liverpool yg menang lawan inter….
goodbye ancelotti……welcome maurinho!
Obral aja opa2 di milan
klo yg nama umur da smpai di atas kpla tiga itu ga kuasa menghadapi gmpuran2 meriam muda dri arsenal… ya hadapila kenyataan yg tua ga mgkin menang lwan muda… jual z opa2 milan an ganti dgn darah muda.. vorzaaa….a milano
welcome drogba, mourinho, dan carlvalho, gantikan kakek kita di milanelo
don’t be sad milan,
just hope…………………..
they will come to u………….
In next season, amien………………….
Selemat untuk AS ROMA, singkirkan musuh-musuhmu di liga Champion and selamat tinggal buat MADRID!!!
Ini mmg pelajaran yang pahit buat Milan, biar mereka sadar sehingga mereka bisa bangkit lagi di season berikutnya…..tp hikhikhik…sedih juga ga liat mereka & Kaka di season ini ……. gimanapun gw ttp fans berat mereka….
kenapa umur selalu dimasalhin sih ama cerita2 suksesnya arsenal? kalo kalah diblg gugup atau mental gak siap, kalo menang diblg tenaganya lbh kuat. trus umur jg selalu disalahin kalo timnya kalah….itu liga eropa bro, bkn liga indonesia yg pemaen timnasnya aja cuma kuat lari 75 menit aja max
usia matang pemaen sepakbola memang di umu2 kyk pemaen arsenal kok. inget ajax pas juara 13 thn lalu? inget mayoritas pemain prancis pas juara dunia 1998? atau yg lainnya. cek deh level latihan fisik disana, jauh beda cara kerjanya dgn disini. usia bukan isu, apa yakin kalau yg macem maldini maen di liga indonesia larinya akan kalah kenceng sama aliyudin yg jago sprint itu?
berhenti berpikir bahwa umur itu masalah, bangsa kita ini orang2nya pada cepet tua. baru 26 dah suka blg “udah tua gua nih,” baru punya anak 1 dah gak mau dugem krn alasan “inget umur…inget umur,” apa lah umur itu? apa ada di tabloid2 kita yg nulis soal umur pas ac milan juara thn lalu? pas juara antar klub dunia? ada yg cerewet ama umurnya maldini pas dia bikin gol ke gawang libverpool atau mematikan baros schellotto? itu baru beberapa bulan lalu lho
mending bikin bhn, knp prestasi mrk stabil dan sanggup bermain bertahan dgn baik…sumpe deh
btw, pemaen2 NBA yg olahraganya lbh keras, rataan usia pemainnya lbh tua2 lho. shaq aja skrg udah 36 dan disana gak ada yg rewel soal umurnya, jga media kita…..mgkn krn NBA gak ngetop jg sih disini jd pada lupa hehe