Ebbsfleet United
BOLANOVA pernah mengulas bagaimana akuisisi sebuah klub sepakbola dapat dimiliki oleh para suporternya (baca : Should Football adopt American System ? ) dan sekarang hal tersebut telah terealisasi dengan hadirnya Ebbsfleet United.
Ebbsfleet United, mencatatkan dirinya dalam tinta emas sejarah persepakbolaan, sebagai klub sepakbola pertama di dunia, yang diakuisisi sebuah komunitas website, beranggotakan 28 ribu orang.
“Ini adalah akuisisi klub sepak bola pertama di dunia yang dilakukan oleh sebuah komunitas website. Bahkan, setahu saya, ini akuisisi pertama yang dilakukan komunitas website untuk semua bidang usaha,” kata Will Brooks, juru bicara Ebbsfleet, kepada AFP.
Komunitas website bernama My Football Club yang beralamat url di www.myfootballclub.co.uk , setiap anggotanya membayar 35 poundsterling (Rp. 600.000). Total dana yang terkumpul adalah 700.000 poundsterling. Angka ini sudah cukup untuk mengakuisisi seluruh saham Ebbsfleet United.
Dengan demikian segala macam keputusan yang terjadi di dalam klub tersebut, harus diambil dengan persetujuan seluruh member. Seperti apa yang terjadi pada 20 Februari 2008 lampau, ketika ingin diputuskan apakah klub perlu memecat pelatih Liam Daish atau terus bertahan ? Melalui voting dari member di seluruh dunia, mayoritas member setuju untuk mempertahankan kelanjutan Daish.
Ebbsfleet United sendiri adalah klub yang sekarang bercokol di lower league Inggris Raya. Tepatnya di Conference National League. Jadi wajar, jika anda jarang mendengar nama klub tersebut.
Sekarang, yang jadi pertanyaan, mengapa Ebbsfleet? Mengapa MyFC memilih klub yang tak pernah mencicipi atmosfer divisi terendah Liga Inggris sekali pun itu? Ternyata, itu memang sudah jadi komitmen MyFC sejak pertama dirilis. Komunitas tersebut ingin mencari klub lower league (klub nonliga) yang punya potensi untuk berkembang.
Ebbsfleet dinilai punya potensi untuk itu. Klub yang berdiri pada 1946 dan sebelumnya bernama Gravesend & Northfleet tersebut saat ini tinggal terpisah satu setrip dari League Two, kasta terendah Liga Inggris. Selain itu, klub yang berbasis di Northfleet di Selatan Inggris itu punya basis massa lumayan untuk ukuran klub nonliga.
Nilai lebih lain Ebbsfleet adalah klub itu berada di kota yang dilewati jalur kereta internasional dengan rute Inggris-Prancis-Belgia. Jadi, Ebbsfleet mudah diakses oleh para pemiliknya yang berasal dari segenap penjuru bumi tersebut.
Dampak akuisisi bersejarah itu juga langsung terasa. Begitu deal antara MyFC dan manajemen klub yang berkandang di Stadion Stonebridge Road itu diumumkan, sponsor berdatangan. Salah satunya adalah Eurostar, perusahaan kereta api transnasional yang sepakat menyediakan perlengkapan tim.
Guyuran dana sebesar 625 ribu dari MyFC sebagai biaya pembelian 75 persen saham tadi juga membuat Ebbsfleet bisa bernapas lega. Klub yang biasanya merugi 30 ribu pounds per musim itu kini tak lagi dibelit kesulitan finansial. Perburuan pemain untuk menyongsong musim depan bisa leluasa dilakukan.
Tapi, pelatih Liam Daish tetap tak bisa sembarangan membeli pemain. Sebab, dia harus meminta persetujuan 28 ribu anggota MyFC. Itulah sisi unik dari akuisisi tersebut. Hak untuk menentukan seleksi dan transfer pemain berada di tangan semua anggota MyFC, bukan di tangan manajemen seperti di klub-klub profesional pada umumnya.
Mekanismenya, pelatih mengajukan nama-nama yang ingin diburu beserta curriculum vitae mereka, dan 28 ribu anggota MyFC akan melakukan voting secara online apakah setuju atau tidak.
Ribet? Daish tidak merasa demikian. “Sebab, toh saya sendiri yang mencari dan memilih pemain, baru minta persetujuan para anggota,” kata mantan bek Coventry City itu yang nasibnya di Ebbsfleet juga ditentukan oleh voting semua anggota MyFC kepada BBC.
Akuisisi ala MyFC tersebut memang seperti antipoda terhadap model takeover di Liga Inggris selama ini yang umumnya dilakukan konglomerat atau perusahaan raksasa. Motivasi MyFC juga bukan untuk mereguk keuntungan seperti Roman Abramovich di Chelsea atau Tom Hicks-George Gillet Jr di Liverpool.
“Para anggota MyFC tak akan mendapat pembagian keuntungan atau dividen. Model akuisisi ini memang semata dimaksudkan untuk lebih mendekatkan sebuah klub sepak bola dengan akar rumput, yaitu para fans. Di klub ini, seorang suporter yang menjadi anggota website bisa turut memilih pemain. Tiap habis pertandingan, seorang suporter juga dapat bersantai sambil minum bir dengan para pemain yang mereka pilih,” ujar Will Brooks.
Jelas, hal itu tak akan pernah bisa dilakukan suporter Chelsea, Liverpool, atau Manchester United. “Karena itu, saya yakin model perekrutan seperti ini akan jadi alternatif di masa depan,” tegas Brooks.
Source : www.zoel.co.nr



Speechless…kyknya baru kemarin saya baca ulasan bung Andy mengenai kepemilikan suatu klub sepakbola oleh para fansnya, ternyata sekarang sudah ada yang merealisasikannya,saya rasa MFC membaca ulasan anda bung, hehehe…..
Kapan hal ini akan diikuti oleh Indonesia ya? salut buat anda, bung andy……atas ulasan2 yang sgt inovatif……