Pesan Singkat untuk Tuan-tuan di PSSI

pssi.jpgOleh : Bukti ‘Choki’ Sihotang (Pengamat Sepakbola Nasional)

Kebusukan itu setamsil bangkai : tak bisa disembunyikan.

Sejarah itu bergulir pada 1 Juli 1948 dari kawasan gersang bernama Bei Je’ez yang terletak di antara Tel Aviv dan kota suci Jerusalem. Be’eri, sang komandan regu tembak yang tak berpikiran jernih, berdiri pongah di hadapan Meir Tobianski. Mereka siap mengirim Tobianski ke alam baka.

Sebelum senjata menyalak, Tobianski masih sempat membeberkan riwayat hidupnya, dengan harapan mendapat iba. “Saya telah bekerja kepada Haganah selama dua puluh dua tahun. Paling tidak, perkenankanlah saya mengirimkan pesan kepada putra saya”. Suara letusan menjawap permohonan Tobianski. Tubuhnya bolong-bolong. Darah zionisnya, pelan namun pasti, mengalir membasahi tanah. Sedetik kemudian dia mangkat.

Apa salah Tobianski?

Mahkamah militer Israel yang diketuai Be’eri menuding Tobianski berkhianat kepada negara : membocorkan letak-letak kekuatan militer kepada musuh. Menjaga rahasia negara memang menjadi prioritas utama yang harus dipegang teguh seluruh anggota Haganah, tentara bawah tanah Israel. Dan Tobianski dianggap indisipliner.

Kematian Tobianski menyulut kecurigaan, setidaknya buat Lena, istri Tobianski. Lena mengendus ada sesuatu yang tidak beres. Dia menilai, eksekusi terhadap suaminya merupakan despotis. Dia lalu menghadap Ben Gurion, Perdana Menteri Israel. Kepada Gurion, Lena meminta agar keputusan mahkamah militer dikaji ulang. Gurion mengangguk setuju.

Penyelidikan berakhir setelah Be’eri dinyatakan bersalah. Para penyidik menyimpulkan, Tobianski merupakan korban purbasangka dan sama sekali tak diberi kesempatan untuk menggunakan hak jawabnya. Dengan kata lain, hak jawab dianggap sesuatu yang najis, diharamkan.

“Tobianski tidak diberi hak dasar seorang pengacara guna membelanya. Eksekusi dianggap tak sah,” kata Gurion. Be’eri, perwira menengah berpangkat letnan kolonel itu pun dipecat, ditahan. Gurion melakukan reorganisasi badan intelijennya dan tak lama berselang, Mossad terbentuk.

Nasib Tobianski tak jauh beda dengan nasib pesepakbola, klub, maupun suporter di Indonesia. Selalu jadi kambing hitam, di tengah ketak becusan PSSI. Tapi, seperti akhir cerita Tobianski, kebenaran pasti berpihak kepada kebenaran itu sendiri. Berkacalah, PSSI. Berkacalah…

Source : www.mysportsblog.com (Photo)

6 comments:

  1. ronald, 19. March 2008, 14:46

    Hanya orang-orang yang berbobot yang bisa baca artikel ini

     
  2. ester, 19. March 2008, 15:07

    setuju

     
  3. arema-cok!, 21. March 2008, 12:08

    FROM AREMA WITH “S 1 J”
    Dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional,mari kita galang kekuatan segenap elemen bangsa yang perduli akan nasib persepak-bolaan negri ini.
    REVOLUSI PSSI ADALAH HARGA MATI!!!
    Kalo tidak bisa dengan cara baik2,ternyata kita harus turun ke jalan…robohkan “setan”Nurdin &para antek2nya yang telah mempermalukan bangsa ini.Mari kita singkirkan sejenak ego kita masing2,nggak ada Kera Ngalam,nggak ada Arek Suroboyo,nggak ada Anak Jakarte,nggak ada Boedak Bandung,nggak ada Cah Solo,nggak ada Anak Medan,..yang ada RAKYAT INDONESIA YANG PEDULI AKAN NASIB NEGERINYA…
    BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI….

     
  4. yoes, 20. June 2008, 22:32

    PSSI SEGERALAH KAU BERBENAH DIRI……

     
  5. sugi, 17. July 2008, 11:08

    bismillah
    untuk seluruh jajaran PSSI jangan berbenah yang harus dibenahi adalah displin semua pihak yang terkait.
    untuk tim senior indonesia kalo bisa latih tanding ama persatuan sepakbola perempuan jangan lawan australia sebagai ajang mending lawan persatuan sepakbola wanita tapi negara keren kayak italia amerika bahkan jerman ato australia women soccer biar mentalnya tergembleng bukan memalukan tapi biar mental pemain kagak kendor kayak pemain liga kampung

     
  6. sugi, 17. July 2008, 11:16

    lagi ah bapak PSSI yang terhormat
    olahraga itu hobi dan kesenangan biar pemain senior kita bagus coba cetak tim bayangan yang merekrut dari pemuda bertalenta diseluruh negri untuk training ekstrem misal lari digunung pake beban training latih tanding antar kampung seluruh indonesia pilih 44 pemain dan seleksi secara ekstrim rata-rata umur 14-16 th umur 21 bisa dipanen dijadikan sekuad untuk permanen tapi punya semangat juang tinggi untuk jadi yang terbaik bukan semangat uang kalo metode ekstrim ala tentara diterpin bagi pemain dengan body fisik dibawah standar diumur belia umur21-23 th bisa diolah skillnya dibrazil ato argentina pokoknya jangan di eropa soale dieropa itu lembek dan hanya cari pemain udah jadi

     

Write a comment: