Antara Aragones dan Del Bosque
Alkisah kita kembali kurang lebih seperempat abad ke belakang, tepatnya di tahun 1984. Piala Eropa di tahun tersebut menjadi satu-satunya kebanggaan berkelas bagi Spaniard (panggilan kesayangan) publik matador di benua biru.
24 tahun kemudian, tepatnya di Swiss-Austria. Spanyol akan datang kembali. Mungkin ya, mungkin tidak (baca : Antara Spanyol dan PSSI). Yang jelas mereka datang dengan status pinggiran. Dipinggir oleh tetangga Viking di Eropa Utara, yang terkenal dengan Calvin Klein melalui salah satu modelnya, Fredrik Ljungberg.
Saya hakul yakin, tidak banyak yang akan menjagokan Spanyol untuk Piala Eropa nanti.
Spanyol di tangan Luis Aragones, adalah tim keras kepala. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya….kekerasan hati kakek tua Luis, tidak membuat Spanyol bermain dengan caranya sendiri. Spanyol ramuannya adalah murni kerja keras dan determinasi, tanpa nyawa, tanpa hati dan tanpa sentuhan teknik dan gemulai tarian lapangan ala latinos.
Aroma cuatan yang menjadi outputpun menjadi mandeg. Saya jadi teringat dengan Vicente del Bosque. Pengharum Real Madrid dengan 2 gelar La Liga PLUS 2 Piala Champions, World Club Cup, dll. Sebelum didepak oleh presiden klub “pengumbar janji” Florentino Perez. Dan Madrid menerima karmanya, dengan kegagalan demi kegagalan menjadi yang terbaik di Eropa, for the past 6 years…
Del Bosque, adalah figur yang pendiam, dirinya sangat dekat dengan pemain, sportif, protektif dan hampir tidak pernah menyalahkan pemain (meskipun pemain tersebut bersalah). Dengan caranya tersebut, Madrid bermain dengan fokus dan (selalu) memulai pertandingan dengan keyakinan bahwa kami lebih baik dari tim di belahan rumput lain, saat ini.
Del Bosque, menjadi calon kuat sebagai suksesor Aragones. Terutama setelah keyakinan bahwa Aragones tidak akan menjabat pelatih kepala Spanyol setelah Piala Eropa. Apakah Del Bosque lebih baik dari Aragones ? Saya katakan YA.
Del bosque adalah personal yang lebih baik dari Luis (paling tidak beliau tidak pernah mengatai Henry dengan sebutan monyet). Dan jika ukurannya gelar, saya jamin lemari piala bung Del jauh lebih penuh daripada Luis.
Kumis yang melintang lebat di atas bibir, menguatkan wibawa sang empunya. Del Bosque selalu punya tempat di hati para pemain Madrid. Coba tanyakan, tidak ada satu hal jelekpun yang pernah tercuat dari mulut eks pemain Los Galacticos, yang pernah dipegangnya, dari dulu sampai sekarang.
Keharmonisan tim dalam balutan pemain multi talenta dan bernilai market tinggi, tidak membuat dirinya kebingungan dalam penentuan prioritas formasi maupun strategi.
Del Bosque mampu menempatkan dirinya secara tepat dan proporsional, bahwa tugas pelatih adalah di lapangan, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak perlulah berurusan dengan finansial dan marketing. Apalagi memberi statement terhadap pemain klub/negara lain, yang memang bukan pada tempatnya.
Only God can judge me…
That is the fact, at least it makes him better than Mr. Luis


