Life begins at 40
Saya pernah membaca sebuah artikel yang judulnya sama dengan kalimat di atas. Dalam sebuah kutipan, tertulis …“ di usia 30-40, seseorang dianggap memiliki kestabilan hidup, materi dan non materiil, yang membuat dirinya lebih bebas dalam mengaktualisasikan kemampuan diri pribadi…”
Pikiran saya langsung melintasi benua biru, tepatnya di kota London, di mana sebuah klub menggeliat dengan segenap pemain importnya dilengkapi amunisi lokal setengah uzur. Klub asuhan Harry Redknapp, yang (selalu) punya rekor bagus dalam menghadapi penguasa EPL, Manchester United.
Tidak, saya tidak membicarakan lebih lanjut tentang Portsmouth. The Pompeys yang punya “baju doping”, or u name it yourself….
Saya lebih tertarik kepada seorang figur atletis di bawah mistar. Pribadi yang justru semakin meroket dengan tatanan rambut afro Amerikanya, dibanding ketika berkepala plontos ataupun bercat kuning.
David James, sang figur, menapak jalur baru karir cemerlang, tak hanya di klub namun terlebih di timnas Inggris. James baru saja memperpanjang masa edarnya di EPL dengan penandatanganan kontrak, yang membuat dirinya bertahan sampai usia 40 tahun.
Di usia yang ke 37, James justru menancapkan cengkraman sebagai England Player Number 1. Hal yang tak pernah terpikir oleh siapapun, ketika umurnya di usia emas 24-28 tahun. James muda lebih dikenal dengan sebutan bebek buruk rupa. Seburuk penampilannya di Liverpool yang sering membuat blunder.
James juga dianggap tidak punya mental, mirip dengan Stan Collymore, koleganya yang pernah dianggap “bakat jenius” dunia sepakbola, namun tidak kuat dalam menghadapi tekanan dan berakhir sebagai pesakitan.
Pelan tapi pasti, peruntungan James berubah. Justru setelah tersingkir dari The Reds, dan berlabuh di klub medioker, West Ham, Man. City dan Portsmouth. Sisi mental James semakin terpoles, dan memberikan kepercayaan diri, yang berujung pada polesan teknik yang meningkat mulus.
James seperti menapaktilasi jalur khusus kiper timnas Inggris, yang memang selalu terlambat bersinar.
Lihatlah Peter Shilton yang mengakuisisi Gordon Banks ketika sudah uzur, lalu bagaimana David Seaman melakukan hal yang sama kepada si kriwil Peter. Bahkan di era David Seaman, bukan cuma dirinya seorang yang melakukan hal serupa. Tercatat ada nama-nama lain seperti Tim Flowers ataupun Nigel Martyn. Kedua pemain tersebut juga baru bersinar di umur 30-an.
Tidak ada kata terlambat. Anomali kiper Inggris memang sudah menjadi habit dari tahun ke tahun. Di kala striker ataupun gelandang britania bersinar di usia muda, (Owen dan Gerrard) adalah contohnya, posisi kiper punya tendensi berbeda.
Sekarang biarkan James mengenyam hasilnya. Ketika Robinson mengikuti jejak muda David James, yang sering membuat blunder, James punya sepenggal kata bijak untuknya.
“Waktumu akan datang, santai saja, nikmati pertandingan dan belajarlah sampai umurmu 32-an
“



Betul, betul. Umur 30-an semakin membuat seorang pemain makin matang, misalnya intelejensianya, pengendalian dirinya, dan sebagainya.
tapi di usia segitu juga menurunkan kondisi fisik pemain seperti respon, kekuatan tangan dalam menghalau bola, lompatan, kecepatan dan beberapa faktor fisik laen walaupun bisa di tutupi dengan pengalaman dan kematangan tapi tetap ga bisa di pungkiri bahwa faktor fisik juga ga bisa di kesampingkan buat pemain di posisi apa saja…
@ Syahadah :
ibarat buah, sudah matang dan siap dipanen…tidak ada sukses instan, dan mereka yang berusia 30-an tinggal mengenyam hasilnya
@ seno :
utk posisi non kiper, fisik mungkin sangat berperan sen….tetapi ini kiper, fisik memang perlu, tapi bukan yg terutama, justru dgn pengalaman yg segudang, dan kepercayaan diri yang bagus (baca:mental), sang kiper akan lebih tangguh dalam menjaga gawangnya
di game fm ajah tips dari gamenya, untuk posisi kiper pada umur 30 ke atas akan menikmati karirnya….
hhhmmm sebenernya memang bener sih kata bang andy ama bang kamal tapi buat pecinta pemain2 muda seperti saya tetep aja bakal nyari kiper muda berbakat… kayak FM saya milih kiper2 muda dari pada yg udah pengalaman…heheheheheh