Ajax dan Feyenoord, kok bisa akur ?
Satunya simbol kemapanan, dan perwakilan kaum elite kelas atas. Yang lainnya perwakilan kaum buruh dan masyarakat pinggiran. Masih kurang lagi ? Sang kaum elite adalah kota industri yang besar. Sedangkan kaum buruh terdapat di kota pelabuhan.
Begitulah kira-kira penggambaran Ajax Amsterdam dengan Feyenoord Rotterdam. Bak air dan minyak, keduanya tidak dapat dipertemukan dalam suasana yang harmonis.
Bahkan dibandingkan dengan tim elite Liga Belanda lainnya, yaitu PSV Eindhoven, persengketaan diantara keduanya, terlalu banyak untuk dikisahkan dalam artikel ini.
Beberapa tahun silam, perang suporter diantara keduanya, menghasilkan korban jiwa. Belum termasuk aksi boikot dan pelarangan fans untuk menonton jika bermain tandang. Sebagai contoh, Ajax melarang suporter Feyenoord untuk menonton laga timnya di Amsterdam Arena. Aksi ini “dibalas” oleh Feyenoord, yang tidak menjamin keselamatan fans Ajax jika menyaksikan laga di Rotterdam.
Namun, secara tidak sengaja, “keharmonisan” mungkin dapat terjalin diantara keduanya, berkat jasa-jasa industri perbankan.
Fortis, sebuah bank, sekaligus perusahaan investasi yang cukup terkenal, berhasil mengakuisisi ABN Amro (Info lengkap, klik di sini).
Fortis sendiri pada musim ini, tercatat sebagai sponsor utama di baju Feyenoord Rotterdam, sedangkan ABN Amro, adalah merk dagang Ajax selama 10 tahun terakhir. Pertanyaannya ? Apakah dengan sendirinya Fortis akan muncul di kostum Ajax, menggantikan ABN Amro yang telah dicaploknya ?
Jika ini benar-benar terjadi, hal tersebut merupakan peristiwa langka, yang menjadi sejarah penting bagi sepakbola Belanda. Semoga saja KNVB (PSSI-nya Belanda), berhasil memanfaatkan momen ini, terutama untuk mengakhiri kisruh Ajax-Feyenoord selama 1 dekade ini.
Source : www.hollandinchina.org (Photo)



Duh, kalo Ajax-Feyenoord akur Eredivisie jadi gak seru lagi dong???
@ Bolanisti :
tenang…tidak perlu takut….sponsor boleh sama, tapi persaingan tetap terjaga…..yg akur hanya para petinggi, sedangkan “akar rumput” tetap berjalan normal, alias penuh dengan konflik fanatik