Javier Pedro Saviola, Kelinci Yang Sering Kehilangan Induknya
Punya talenta besar, tapi sering tidak pernah cocok dengan kebutuhan pelatihnya. Itulah Javier Pedro Saviola. Saviola, yang biasa dikenal dengan si kelinci kecil, saat ini harus menerima kondisi yang tidak mengenakkan terkait dengan kurang puasnya Bernd Schuster dengan lini depan Madrid. Alhasil, Schuster telah meminta manajemen Los Blancos untuk merekrut seorang penyerang baru di bursa transfer musim panas mendatang.
Untuk memuluskan rencana tersebut, Schuster bakal menendang salah satu dari keenam tukang gedor jala gawang lawan yaitu sang kapten Raul Gonzalez, Ruud van Nistelrooy, Robinho, Gonzalo Higuain, Roberto Soldado, dan Javier Saviola. Sosok yang tidak dibutuhkan atau tidak termasuk dalam skema Schuster di musim depan adalah The Little Rabbit, penyerang Timnas Argentina yang berusia 26 tahun ini.
Walaupun kebintangan Saviola sedang turun, kita tidak bisa menampik kehebatan pria yang lahir pada tahun 11 Desember 1981 ini dikala mudanya. Khususnya ketika masih merumput di River Plate.
Saviola memulai debutnya di River Plate pada umur 16 tahun. Dia menjadi top skor. Bersama River Plate, saviola telah membantu memenangkan piala Apertura pada tahun 1999 dan piala Clausura pda tahun 2000. Pada tahun 1999 dia meraih penghargaan South American Footballer of the year. Masih berumur 18 tahun, dia sudah meraih reputasi yang fenomenal.
Pada tahun 2001, saviola ikut menjalani piala World Youth Cup di Argentina. Saviola berhasil menjadi top skor dan terpilih menjadi pemain terbaik. Tidak Cuma itu, Saviola berhasil membawa Argentina menjuarai World Youth Cup ini. Dan lebih gilanya lagi, dia mencetak 11 gol. Gol terbanyak sepanjang sejarah World Youth Cup.
Setelah berkarir di River Plate, Saviola pindah ke Barcelona. Dimusim pertama dia berhasil mencetak 17 gol dan menjadikannya peringkat 3 besar la liga. Di musim keduanya, keberuntungan Saviola mulai berkurang. Dipecatnya Louis Van Gaal dan diganti dengan Radomir Antic, membuat prestasinya menurun.
Di musim 2003-2004, masuknya Frank Rijkaard juga tidak membuat prestasinya membaik.
Akibatnya, dia dipinjamkan ke AS Monaco. Setelah dari AS Monaco, Saviola tidak langsung balik lagi ke Barcelona, tapi dipinjamkan kembali ke Sevilla. Di Sevilla, prestasi Saviola mulai membaik dan berhasil mengantarkan Sevilla menjuarai piala UEFA tahun 2006.
Berkat keberhasilannya di Sevilla, Barcelona menarik kembali Saviola. Dan dimusim 2006-2007, Saviola bermain 18 pertandingan. Tapi sayangnya, dia hanya mampu mencetak 5 gol.
Melihat rapor yang kurang baik, Saviola akhirnya dijual ke Madrid.
Ketika berlabuh di Santiago Bernabeu pada 10 Juli 2007 lalu, Madrid dianggap berhasil ‘menaklukkan’ Barcelona. Setelah hanya tampil dalam 18 pertandingan dan mencetak lima (5) gol di musim 2006-07, publik memperkirakan, bersama Raul dkk Saviola punya kesempatan yang lebih dibanding apa yang dialaminya di Nou Camp. Faktanya, Saviola yang kerap bolak-balik ruang perawatan medis klub sejauh ini baru tampil dalam enam (6) pertandingan La Liga dan menyumbang dua (2) gol.
Karena itu, meskipun Saviola diikat kontrak selama empat tahun atau sampai musim panas 2011,Madrid (baca: Schuster) tidak keberatan jika Saviola bergabung bersama klub lain di musim depan. Tentu, bukan dengan status free transfer. Karenanya, sebelum bursa dibuka, Madrid berharap sejumlah klub bakal menyodorkan inquiry atau permintaan keterangan terkait Saviola.
Akankah kisah sedih Saviola akan terus berlanjut? Berlanjut ibarat kelinci yang benar-benar kehilangan induknya?
* * *
Sumber: Wikipedia



Penampilan gemilang Saviola adalah saat dipinjamkan ke AS Monaco dan Sevilla. Lucu ya, saat bermain untuk klub yang mengontraknya dia malah berprestasi jelek. Sayang sekali, padahal talentanya luar biasa lho…
@bolanisti:
betul juga. kalau di pinjemin, saviola malah jago… kalau dikontrak, malah kurang bagus…
semoga ditempat barunya nanti dia bisa makin bagus.