Masih Ada Harapan Untuk Roma Dan Schalke

perempat final liga championPrediksi saya meleset. Schalke ternyata kalah dari Barcelona. Padahal saya berharap akan ada kuda hitam yang menembus semifinal Liga Champions. Oh. Tunggu. Masih tersisa 1 pertandingan lagi bukan? Yup. Semoga harapan saya terkabul.

Sekarang kita sudah mengetahui bahwa MU dan Barca menang. Kira-kira, leg kedua, siapa yang bakal jadi pemenang betulan dan lolos kesemifinal?

Secara teori: peluang Roma dan Schalke sangatlah tipis, karena masing-masing harus memetik kemenangan di kandang lawan. Theater of Dream dan Nou Camp adalah kandang yang terkenal angker. Dan kemenangan yang bisa diraih hanya bisa bila banyak pemain pilar dari MU atau Barcelona terkena cidera dan tidak bisa bermain. Tapi. Biarpun teori berkata sangatlah tipis, bukan berarti tertutup. Mungkin sedikit analisa untuk Schalke dan Roma bisa membantu beri pengharapan pada kita seperti dijelaskan berikut ini.


Untuk Roma, cara untuk menebus kekalahan nanti, taktik yang perlu dilakukan adalah menumpuk pemain tengah. Hal ini dilandasi karena pada saat pertandingan pertama kemarin, serangan MU lebih hidup ketika Rooney ditengah dan membiarkan Cristian Ronaldo menggantung di depan.

Kedua, bayangan kekalahan 7-1 tahun lalu, harus benar-benar dihapus dari pikiran para pejuang Roma. Haus akan kemenangan harus ditumbuhkan. Cuma sayangnya, pernyataan Om Spalletti ini sedikit mengganggu:
"Kekalahan ini sangat menghukum kami, karena kami akan sulit lolos ke babak semi-final karena tertinggal selisih dua gol. Untuk itu, kami harus mencari tahu apa yang terjadi dan mencoba membalikkan keaadaan"

Karena kami akan sulit lolos -> Cara berpikir yang salah. Lidah bisa menyengat pak Spalletti. Belum tentu akan sulit lolos. Kita masih ingat ketika AS Roma bisa mencetak dua gol di Bernaebau, kandang Madrid. Itu merupakan hal yang luar biasa. Lakukan sekali lagi dan anda akan berhak mendapatkan adu penalti.

Untuk Schalke, cara untuk menebus kekalahan nanti, mungkin taktik yang perlu dilakukan adalah mencari pemain bek kanan yang memiliki kekuatan super sprinter. Gol 1-0 yang dilesakan oleh Bojan Krkic sebetulnya karena kekalahan menutup ruang gerak Thiery Henry.

Kedua, kekalahan 0-1 sebetulnya adalah hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Cukup mencetak 1 gol lagi, Schalke bisa berharap melalui adu pinalti.

3 comments:

  1. kaitokid724, 2. April 2008, 14:44

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/sepak_bola/masih_ada_harapan_untuk_roma_dan_schalke/

     
  2. Al, 3. April 2008, 1:28

    Yup, saya setuju dengan pendapat bahwa peluang Roma dan Schalke sangatlah tipis untuk lolos ke babak berikutnya dalam Champions League.
    Saya lebih tertarik untuk memberikan opini, bagaimana taktik Roma agar dapat mengalahkan MU di Old-Trafford. Untuk Schalke, jujur saya benar-benar tidak terlalu mengenal team ini, jadi saya tidak akan mengomentarinya.

    Saat Roma dikalahkan MU pada leg pertama, terbukti bahwa Totti benar-benar merupakan roh dan playmaker Roma. Hal tersebut terlihat dari setiap serangan yang dibangun oleh Roma, cenderung kurang mengigit. Peran Totti sebagai second-striker sangatlah diperlukan untuk mengacak-acak pertahanan MU yang cenderung lemah saat menghadapi situasi tidak terduga.
    Giuly pun merupakan pemain yg penting. Memang pada leg pertama, Giuly main, tetapi ia tidak dijadikan starter dan baru masuk dipertengahan babak ke-2. Giuly merupakan pemain yang cukup penting. Terlihat pada leg pertama, sesaat setelah Giuly masuk, Roma mampu beberapa kali mengancam gawang MU. Giuly merupakan tipe pemain right side-winger dengan kecepatan lari yang masuk kategori cepat. Dia juga mampu mencetak goal.
    Untuk pertahanan, kesalahan Roma adalah Mexes menjaga Ronaldo yang notabene merupakan pemain yg acak dalam penempatan posisinya. Ronaldo cenderung memiliki pergerakan dari sisi kanan, kiri, maupun tengah. Strategi man-mark terhadap Ronaldo sudah tepat, tetapi man-mark tersebut sebaiknya tidak dilakukan oleh defender (Mexes = defender Roma), karena akan meninggalkan lubang dipertahanan. Ada baiknya Roma memperhatikan saat musim lalu MU dikalahkan oleh Milan. Saat itu pergerakan Ronaldo dijaga ketat oleh Gattuso yg sering berperan sebagai Defensive Midfield, meski berada disisi kanan. Dengan cara itu maka defender dapat berkonsentrasi pada pertahanan. Mungkin bagi Roma, ada baiknya Rossi yang menjaga Ronaldo.
    Selain Ronaldo, pemain lain yang patut diwaspadai adalah Scholes, Giggs, dan Anderson. Mereka merupakan tipe pemain tengah yang memiliki naluri untuk melihat situasi dan memutuskan bola akan dioper pada pemain mana. Scholes merupakan pemain terlama di MU untuk posisi ini. Dia berpengalaman, pintar membaca situasi, mampu melakukan penetrasi ke depan, dan melakukan tembakan dari luar kotak penalti lawan. Tetapi tugas utamanya adalah untuk membaca situasi lalu menyusun serangan dari tengah lapangan. Bagaimana dengan Giggs? Ok, mungkin banyak yang bertanya-tanya, “Giggs itu pemain winger bukan central midfield.” Dulu memang Giggs merupakan tipe pemain winger, tetapi seiring dengan bertambahnya usia sehingga mengurangi kecepatan dribbelnya dan banyaknya pemain winger yang dimiliki MU, maka Giggs sering diplot untuk mengisi posisi central midfield. Dia cukup mampu untuk melakukan tugas barunya dan kadang pula dribbelnya digunakan untuk melakukan penetrasi ke daerah penalti lawan. Terakhir adalah Anderson. Dia merupakan tipe pemain seperti Scholes tetapi dengan usianya yang relatif muda, ia cenderung terbawa emosi. Kemampuannya dapat dianggap setara dengan Scholes, kecuali kemampuan mencetak goalnya yang belum terbukti.
    Untuk Rooney atau Tevez, mereka berstatus striker tetapi jika kita jeli melihat permainan MU, maka sebenarnya mereka tidak murni sebagai striker. Kadang mereka bergiliran berganti posisi dengan Ronaldo atau Nani atau Ji Sung. Hal tersebut untuk membingungkan defender, maka strategi bagi defender Roma akan lebih baik melakukan zone-mark (penjagaan terhadap posisi masing-masing, bukan terhadap pemain lawan).
    Belajar dari leg pertama, MU lebih banyak diserang dari sisi kirinya. Sisi kiri MU berarti sisi kanan Roma. Hal tersebut dikarenakan defender MU yang biasanya terdiri dari Brown-Ferdinand-Vidic-Evra (berurutan dari sisi kanan MU ke sisi kiri MU). Ferdinand dan Vidic merupakan centre back. Mereka jarang melakukan penetrasi ke depan, kecuali saat corner kick, maka mereka akan mencoba untuk melakukan sundulan. Brown sebagai right side-back cenderung maju untuk membantu serangan dan melakukan crossing. Tetapi dia jarang menjelajah. Berbeda dengan Evra (left side-back) yang rajin menjelajah dan melakukan penetrasi. Hal tersebut mengakibatkan sisi kiri pertahanan MU cenderung rapuh dari counter-attack.
    Strategi bertahan merupakan strategi yang dapat dipilih Roma. Saat serangan MU gagal, maka Roma dapat membangun serangan secara tiba-tiba melalui strategi counter-attack ke sisi kiri MU. Serangan ke sisi kiri MU memerlukan pemain winger yang memiliki pergerakan cepat. Giuly merupakan pemain right side-winger Roma yang tepat untuk peran tersebut.

     
  3. Bolanisti, 3. April 2008, 6:58

    Peluang Roma tipis? Betul bgt deh kayanya. Tapi Schalke belum tertutup lho peluangnya karena mereka bakal tampil nothing to loose ti Nou Camp nanti. Kita tunggu saja…

     

Write a comment: