Liverpool & Fenerbahce, 2 Tim Non-Favorit Yang Bikin Sensasi
2 pertandingan yang benar-benar berkelas. Liverpool, yang tidak difavoritkan oleh bursa taruhan BWIN, mampu menahan imbang Arsenal 1-1. Dan hal ini membuktikan bahwa Liverpool adalah monster di UCL. Pertandingan yang satu lagi, juga tidak kalah menarik. Menarik karena Fenerbahce menunjukkan bukan lagi sebagai kuda hitam, tapi benar-benar klub elit Eropa. Mari kita tilik jalannya pertandingan keempat tim tersebut.
Liverpool vs Arsenal
Berawal dari tendangan penjuru Robin van Persie di sisi kanan, striker jangkung Arsenal, Emmanuel Adebayor menyambar bola dengan tandukan kepala. Bola meluncur deras ke pojok kanan atas tanpa mampu dihalau kiper Jose Reina. 1-0 The Gunners memimpin.
Sial buat Arsenal. The Reds langsung memberi respon. Determinasi Steven Gerrard tidak mampu dihentikan defender lawan. Umpan silang kaki kiri Gerrard langsung disambar Dirk Kuyt yang lebih cepat dari antisipasi Gael Clichy. Kedudukan imbang 1-1. Arsenal terkejut dan ini dimanfaatkan Liverpool untuk mengembangkan permainan. Tapi sampai babak pertama usai kedudukan tidak juga berubah.
Untuk menambah daya gedor, Theo Walcott masuk menggantikan Van Persie. Dan serangan anak asuh Wenger jadi lebih lincah dari sebelumnya. Baru saja masuk Walcott sudah mengancam. Mengandalkan kecepatannya, sayang tendangan penyerang belia itu masih melebar.
Belum juga menembus pertahanan tamunya, menit ke-67 Wenger mengoptimalkan serangan dengan memasukkan pemain jangkung dari Denmark, Nicklas Bendtner. Peluang terbaik adalah ketika tendangan Fabregas yang sudah menemui sasaran dan tidak mungkin terselamatkan pemain Liverpool ternyata tertahan Bendtner di mulut gawang. Di paro kedua ini Arsenal jelas terlihat mendominasi alur serangan. Mereka juga kerap kali mengurung pertahanan lawan, tapi Liverpool dengan tenang mampu mengantisipasi serbuan Arsenal. Sampai wasit Pieter Vink membunyikan peluit panjang kedudukan 1-1 tetap tidak juga berubah.
Fenerbahce vs Chelsea
Sukru Saracoglu benar-benar tampak angker. 60 ribu lebih penonton dirayapi oleh publik lokal. sedangkan jatah suporter Chelsea hanya 1000 bangku. Namun, keangkeran Sukru Saracoglu tiba-tiba sirna saat Chelsea mencetak gol pertama, terlebih gol tersebut dibukukan oleh striker Fenerbahce, Deivid de Sousa. Gol bunuh diri Deivid diawali umpan silang rendah yang dilepaskan Florent Malouda. Bola tersebut coba dihalau dari gawang oleh Deivid, namun bola malah melucur masuk ke gawang. Gol 1-0 bagi Chelsea.
Setelah unggul satu gol, para pemain Chelsea memegang kendali permainan. Beberapa peluang lahir dari kaki para pemain The Blues. Yakni melalui tembakan Ballack, Muvheal, Drogba. Bahkan, sebelum rehat, Chelsea menancam gawang Fenerbahce. Kedudukan babak pertama pun diakhiri dengan kekalahan tim tuan rumah, 0-1.
Di babak kedua, demi mengejar ketinggalan satu gol ini, pelatih Fenerbahce memasukkan dua darah baru, yakni Colin Karim-Richards dan Smithy Senturk. Usahanya membawa hasil, sepuluh menit menginjakkan kaki di lapangan, ia sudah menciptakan gol bagi Fenerbahce. Diawali bola kiriman Aurelio, Karim-Richards yang longgar penjagaannya berhasil mengecoh kiper Chelsea, Cudisini. 1-1.
Sepuluh menit menjelang pertandingan usai, para fans tuan rumah kembali bersorak. Kali ini, Fenerbahce mencetak gol kedua sekaligus gol kemenangannya. Adalah Deivid yang sebelumnya membuat gol bunuh diri, kali ini menjadi pencetak gol. Tembakannya dari jarak 27 meter tak dapat dihentikan oleh Cudicini.
Setelah gol Deivid, permainan Chelsea sama sekali tidak menujukkan sebagai klub bertaraf Internasional. Dan hal ini membuat Chelsea sepertinya tidak pantas untuk menjadi juara UCL musim ini.
***
Referensi: LiputanBola.com



klo menurut aku yg membedakan klub besar dan klub kecil bukan para pemain mahal yg bermain utk klub tersebut tapi dari mental juara klub yg di tularkan kepada para pemainnya…..
Benar2 tidak disangka-sangka…Chelsea kalah…