Keputusan Bertahan atau Menyerang

Oleh Aris Adhidarma
(Kontes Menulis Bolanova III)

Apa yang dipikirkan pelatih sangat tidak masuk di akalku. Dengan hanya mengandalkan Baryanto didepan sebagai targetman tunggal, apa yang bisa kita perbuat dalam ketinggalan satu – kosong seperti sekarang ini? Seolah dia berkata kebobolan satu gol sudah cukup daripada dipermalukan dengan lebih banyak gol. Semua inisiatif ofensif kami bagai padam begitu saja akibatnya.

Hidayat keluar lapangan digantikan oleh Ahmadi yang bernaluri bertahan. Empat-dua-dua menjadi lima-empat-satu. Jepang lawan kami ini memang sangatlah cepat terutama dari sayap. Gol mereka pun tercipta karena kecepatan tersebut. Passing, wallpass dilanjutkan dribbling kilat ke sector kiri – kanan, dengan akhir trackball yang menusuk.

Sebagai pemain-pemain tengah, Aku, Simangunsong, Ilyas dan Rumbewas harusnya segera mengetahui dari passing-passing mereka siapa yang kira-kira si kilat yang akan membawa bola dari sayap. Begitu tik-tak itu diketahui perkiraannya akan kemana maka 2 dari kami melakukan pressure mencegah umpan kearah pendribbling serta 1 orang melapis bersiap memarking. Sementara dibelakang kami wingback ditempat yang tertekan siap mengambil keputusan apakah ikut melapis marking ataupun tetap merapat menerapkan zonal. Celakanya pola menyerang mereka sangat abstrak dengan 3 orang berkemampuan sprint yang seimbang. Kadang kami merasa seperti menghadapi serbuan gelombang beberapa gelandang menyerang sekaligus. Padahal mematahkan serangan sayap mereka sedini mungkin sebelum sempat trackball ke kotak penalty adalah sangat penting mengingat keunggulan mereka yang hampir mutlak di bola-bola atas.

Suatu ketika, disaat si Jepang no 10 bermanuver sambil melakukan umpan pendek ke depan yaitu ke keriting no 17. Secara insting aku merasa bahwa akan ada wall pass kembali kepada no 10 atau 8. Ilyas sudah berusaha memotong garis imajiner operan ke no 8, sementara Rumbewas dan Simangunsong melakukan pressure. Bola yang kuperkirakan akan wallpass kembali tersebut ternyata benar adanya, dan tanpa diduga dengan sedikit usaha saja jatuh ke … kakiku.

Bagai kilat aku sekuat tenaga berlari melebar diagonal ke sayap kiri. Keterkejutan pemain-pemain Jepang rupanya hanya sementara saja, dan sesegera itu pula aku telah dipressure oleh 2 orang sekaligus. Untung pada saat yang sama 3 orang rekanku membantu dari belakang. Bagai tidak mengindahkan perintah pelatih untuk lebih bertahan, mereka berlari mencoba membantuku.

Doktrin serangan balik memang harus secepatnya dan setajam-tajamnya. Sementara itu posisi Rumbewas, Ilyas maupun Simangunsong dalam waktu sekejap saja menjadi lebih termarking jika aku tidak segera memberikan umpan. Baryanto sangat tidak bisa diharapkan melihat penjagaan terhadapnya yang sangat ketat.

Passing terbaik adalah kepada Ilyas karena posisinya yang relatif belum terjaga. Tetapi apa manfaat dari hal tersebut aku tidak tahu selain mempertahankan possesi, suatu hal yang sangat bertentangan dalam doktrin serangan balik. Tiba-tiba saja secara instingtif aku memberikan bola kepada Simangunsong yang sudah lebih dahulu kedepan. Simangunsong seperti membaca pikiranku saja, melakukan tricky passing yang sangat bagus kepada Ilyas.

Posisi segitiga antara Aku, Simangunsong dan Ilyas dengan dilakukannya passing-passing tadi menjadi lebih pendek karena memberi waktu Ilyas melakukan sprint ke depan memperpendek jarak diantara kami bertiga. Lari sekuat tenaga Ilyas meyambut passing tadi bagaikan babirusa liar lurus secepat-cepatnya dan rupanya diakhiri dengan suatu spekulasi cannonball dari jarak 20-an meter. Tidak ada yang menyangka bahwa pola serangan putus asa gila seperti itu akan kami lakukan, dan malah itulah kekuatan yang menyebabkan begitu banyak keterkecohan dan … sebuah gol yang manis.

Itulah konyolnya atau bagi kami lebih tepat keajaiban permainan bola. Belasan peluang emas dengan penyelesaian hanya 1 gol atau tidak sama sekali, melawan hanya satu peluang emas yang membuahkan hasil. Memang sebuah kesempatan emas sekecil apapun layak untuk diperhatikan dengan resiko apapun yang dibawa olehnya.

No comments yet.

Write a comment: