Dilema Striker Liga Portugal
Keberhasilan FC Porto “mengangkangi” Benfica dan Sporting Lisbon, memunculkan nama Lisandro Lopez sebagai aktor utama kebangkitan tim biru putih dalam meraih gelar juara Liga Portugal, untuk ketiga kalinya dalam 3 tahun terakhir.
Lopez, bomber asal Argentina, mencetak 21 gol, hampir 50% dari total gol FC Porto di Liga domestik (49 gol). Berbanding terbalik dengan prestasi fenomenal tersebut, Lopez yang berumur 25 tahun, sepertinya akan melanjutkan “kutukan” bagi para bomber Liga Portugal !!!!
Bomber-bomber maut yang dihasilkan dari Liga Portugal, punya satu kesamaan dari tahun ke tahun. Meski hebat dalam jumlah gol, mereka nyaris tidak dilirik oleh bursa klub dunia. Hal ini sangat kontradiktif dengan Liga Belanda misalnya. Meski secara umum, kualitas klub dan persepakbolaan kedua negara tersebut, relatif sama, namun bomber-bomber produksi Eredivisie lebih laku di pasaran.
Anda mau fakta ?
Liedson, bomber kurus tapi licin, 2 kali menjadi topskor Liga Portugal 2004/2005 dan 2006/2007. Hasilnya ? Tidak ada klub yang tertarik dan masih bermain di Sporting sampai sekarang.
Albert Meyong, topskor 2005/2006, tidak terkenal dan masih bermain di klub kelas dua Portugal, Belenenses.
Musim 2002/2003 melahirkan 2 topskor kembar, Fary Faye yang sekarang “cuma” bermain anteng di Boavista, dan Simao Sabrosa, yang sebenarnya bukanlah seorang striker, baru musim ini pindah ke Atletico Madrid , itupun dengan permainan yang biasa-biasa saja.
Yang lebih “luar biasa” top skor musim 2000/2001, Renivaldo Pena, sepertinya sudah lenyap ditelan bumi, tidak ada kabar di mana sekarang dirinya bermain…(mungkin malah sudah gantung sepatu).
Bahkan seorang Mario Jardel pun, yang merajai gelar striker paling subur selama 5 musim kompetisi berturut-turut (1995-2000), tidak pernah digemari oleh klub elit Eropa.
Satu-satunya anomali dalam kejadian ini, mungkin terjadi pada diri Benny McCarthy. Benny topskor musim 2003/2004 dengan 23 gol, sekarang bermain bagus di Blackburn Rovers, Inggris (ini pun sebenarnya hanya klub kelas menengah kan ?)
Sekarang kita bandingkan dengan Eredivisie (baca : Liga Belanda).
Afonso Alves, sang bintang “karbitan” saja mampu diambil Middlesbrough (klub sekelas dengan Blackburn Rovers) dengan harga menjulang. Klaas Jan Huntelaar, meski masih bermain di Ajax Amsterdam, setiap tahun, dan mungkin tahun ini, selalu dihujani oleh tawaran fulus dari klub besar.
Dirk Kuyt, top skor Liga Belanda 2004/2005, sudah mantap di Liverpool, Mateja Kezman “The Kezmanian Devil”, sudah bermain untuk Chelsea dan Atletico Madrid, sebelumnya akhirnya berlabuh di Fenerbahce. Lebih mundur ke belakang ? Sang raja gol musim 98-00, Ruud van Nistelrooy, sangat sukses di Manchester United dan Real Madrid.
Jadi, apa masalahnya dengan Liga Portugal ?
Sepertinya masalahnya ada dalam karakter/tipe permainan striker yang besar dan matang di Liga Portugal. Striker semodel Lisandro Lopez, terlalu malas untuk membuka ruang dan bekerja bagi tim, ibarat kata masih sangat individualis. Belum lagi kontribusi golnya yang melempem ketika diadu dengan tim-tim yang relatif sama kualitasnya dengan FC Porto, dalam ajang Liga Champion. Akibatnya klub elite, enggan untuk memberikan penawaran, meski secara ekonomis harga pemain di Portugal masih relatif murah.
Alasan yang kedua adalah soal postur serta mental. Meski masuk dalam komunitas EU (Eropa bersatu), Portugal masih dianggap “jelek” dalam membina kematangan atletnya. Bakat memang terasah, namun kedewasaan mental dan kedisiplinan, masih kalah dari para negara tetangganya, seperti Belanda dan Perancis.
Ambillah contoh Mario Jardel, berkali-kali dirinya menjadi striker tersubur di Eropa, namun karena masalah “mental” yang lemah, hanya menjadi pesakitan yang terbuang di klub Ancona dan Bolton Wanderers.
Jika Jardel yang sedemikian hebatnya saja, masih gagal , apalagi yang lain ?


