Saga FITNA dan Mourinho
Jika kita menelusuri kata apa yang paling sering dicari warga Indonesia (mungkin dunia) melalui Google atau search engine lainnya selama 1 minggu terakhir, jangan kaget jika yang muncul adalah FITNA.
Fitna, sebuah karya documenter, namun lebih tepatnya kliping compang-camping, adalah buah advertensi seorang Geert Wilders.
Geert Wilders adalah seorang politikus, ketua Partai Kebebasan di negeri kincir angin, Belanda. Jadi wajar saja, jika hasil filmnya tidak akan diganjar sebuah Piala Oscar, dan sangat buruk dari sisi sinematografi apalagi alur ceritanya.
Namun, efek ketenaran dan popularitas sesaat melambungkan dirinya, bagai sebuah film box office di Hollywood. Wilders berhasil memicu konflik antar ras dan agama, melalui propaganda negatif, yang memang sengaja diletupkannya dengan tujuan sesaat.
Banyak yang tidak tahu, bahwa Wilders adalah seorang yang licik, namun cerdik. Wilders adalah seorang politikus ulung, yang dengan serta merta mampu membuat semua mata terfokus kepada dirinya, suatu hal yang umum dilakukan untuk memperoleh suara dan simpati dari publik demi perluasan pengaruh di parlemen.
Sekarang mari kita beralih ke tokoh sepakbola, Jose Mourinho.
Jose Mourinho, seorang pelatih berkharisma tinggi, dijuluki The Special One. Membawa Porto, juara Liga Champion 2004, dan diteruskan dengan 2 gelar EPL berturut-turut, bagi tim cosmopolitan asal London Chelsea.
Prestasi Jose, “sejalan” dengan ketenaran individu yang dimilikinya. Jose adalah gemerlap lapangan hijau itu sendiri. Seorang vokalis dengan kepercayaan diri tinggi, disertai bualan tak mau kalah dari siapapun. Tak terhitung berapa kali komentar langsungnya menjadi pengusung konflik dan bumbu sedap dari jualan sebelum pertandingan dimulai.
Jose, bagaikan seorang figur yang selama ini dicari oleh media dan nyamuk pers Inggris yang terkenal ganas dan hobi mengkritik. Jose merupakan antitesis pemecah kebuntuan atas aristokrasi gaya sopan khas britania.
Dan ketika Jose keluar dari hingar bingar Premiership, aneka komentar cercaan , pujian dan rasa sesal bermunculan. Alex Ferguson, Wenger dan Benitez sepakat, bahwa mereka merindukannya, merindukan tindak-tanduk Mourinho di dalam dan di luar lapangan.
Wilders dan Mourinho, serupa…
Keduanya senang mengemukakan pendapatnya. Keduanya tahu bahwa komentar kontroversial akan memicu perdebatan di kalangan media dan publik. Keduanya juga mengerti bahwa setiap komentar akan mengalir bak air, dan membuat mereka dirindukan oleh media dan selalu mendapat sorotan massa.
Tapi keduanya juga tak sama…
Wilders adalah pecinta diri sendiri. Ketika dia berharap one man show dalam setiap aksi, ketika dia hanya mementingkan posisi politiknya, tak ada yang bisa mengaturnya, dan hanya dirinya yang tahu apa yang akan dilakukannya.
Mourinho tak seindividu seperti kelihatannya. Banyak yang belum paham, bahwa komentar miring dan aksi vokal di luar lapangan, adalah permainan sandiwara pelatih ganteng asal Portugal tersebut.
Mourinho, bermain “cantik” dengan sengaja membuat media dan publik terfokus pada dirinya. Sehingga pemain asuhannya, merasa “terlindungi” dan lepas dari beban sebelum pertandingan. Akibatnya pemain dapat fokus bermain dengan baik.
Bahkan saat timnya kalah pun, Mourinho sering berkomentar, “We are still better than them” !!!! Suatu komentar digdaya, yang disitir oleh media dan publik sebagai ucapan omong kosong tak berdasar dan tak mau kalah…. Mereka seakan-akan “tersihir” dan tidak menyadari, bahwa Mourinho sengaja berujar agar para pemainnya tidak disalahkan atas kekalahan tersebut.
Jika ada yang salah, maka sayalah yang harus disalahkan…mungkin seperti itulah kira-kira yang mau diungkapkan Mourinho. Jose adalah seorang team player, yang sengaja menciptakan “keributan” demi keutuhan tim besutannya.
1 tahun tiada Mourinho, we all miss him…. 1 tahun tiada Wilders, we don’t even care…..



ya jelas beda….wilders sih preman kampung, siapa juga dijadiin masalah…kalo mourinho jentelmen
Wilders = Arogansi yang kelewatan!
Seperti menggali kubur sendiri..
Viva fair play..
Gile ndi. Brani juga ente nganalogiin Mourinho ama tokoh sensasional itu. BTW Wilder emang bikin komentar macem-macem. Dua duanya juga punya mulut gede. Bekoar. Kontroversi abis.
Ah gak sabar nunggu ke mana pelabuhan berikut Special One
Kali aja mourinho mau nglatih di sini, biar bikin ribut sama tuan2 di PSSI
[…] Mourinho ini, pernah ditulis oleh Andy N. Gultom sebagai permainan sandiwara. Menurut Andy N. Gultom, Mourinho, bermain “cantik” dengan sengaja membuat media dan publik […]
[…] Paragraf ini pernah ditelurkan oleh penulis Bolanova yaitu Andy Nahil. Sekarang, mendekati akhir musim liga Italia Seri A, Mourinho kembali melakukan tugasnya untuk dengan sengaja membuat media dan publik terfokus pada dirinya supaya para pemain Inter Milan dapat fokus bermain dengan baik. Tidak terganggu gunjingan media. […]