Mencari Jati Diri Jerman No. 1

manuel-neuer.jpgWeserstadion, 12 April 2008, menit pertandingan menunjukkan angka 76, Manuel Neuer baru saja memungut bola dari gawangnya. Dan pada akhirnya dalam tempo 2 babak, Neuer dkk, dipaksa bertekuk lutut oleh Bremen and the Gank.

Neuer boleh malu, ketika seorang Ivan Klasnic, yang pernah divonis gagal ginjal, bisa mengelabuinya sampai 2 kali !!! 5-0 adalah pertanyaan bagi kepantasan Manuel untuk menjadi nominasi terbaik di bawah gawang untuk negaranya.

Di sisi lapangan yang berbeda, berdiri Torhuter berbadan tegap, terlihat digdaya dengan kemenangan besar pada hari ini. Namun setali tiga uang dengan kompatriotnya di Schalke.

Tim Wiese, adalah kiper yang sudah kebobolan 41 gol. Prestasi terburuk, apalagi dibandingkan dengan 3 tim penghuni papan atas lainnya (Muenchen, Schalke, Hamburg).

Beralih ke negeri seberang, di sebuah kota buruh London, kita menemukan seorang kiper yang di umur 36 tahun berperangai bagai anak kecil. Wajar sang pemilik nama Jens Lehmann, bertindak kekanak-kanakan, akibat posisi tradisionilnya sebagai pemilik kostum no 1 di Arsenal, tergusur oleh seorang peranakan Spanyol-Inggris yang namanya mirip-mirip dengan bahan pembuat alat-alat rumah tangga (jika dilafalkan).

Lehman berkoar-koar terus di media, bahwa dirinya jauh lebih baik. Namun tiada yang menggubrisnya, tidak juga Arsene Wenger, yang notabene adalah pucuk manajer di klub tersebut.

Lain lagi apa yang terjadi di Valencia. Di klub berlambang kelelawar hitam, Timo Hildebrand mengalami krisis klub yang kronis. Masa transisi kepelatihan dari Quique Flores kepada Ronald Koeman, menambah panasnya kamar ganti.

Konflik Internal klub, mengakibatkan rusaknya harmonisasi tim, dan berujung pada kekalahan demi kekalahan. Timo juga kena imbasnya, kurang konsentrasi dan gawangnya sering bobol.

4 hal sudah saya kupas, Jerman sedang punya masalah besar di bawah gawangnya
. Tiada kandidat yang cukup dominan, jika indikasinya dihitung hanya pada musim kompetisi kali ini. Bahkan saya sangsi Jerman akan juara, jika Piala Eropa dilangsungkan pada detik ini juga.

Jerman yang sedari dulu punya nama tengah staying power. Defensive awareness dan tight marking adalah brand imagenya. Kita mengenal dengan fasih siapa Sepp Maier, yang membuat Johan Cruyff dkk, menangis di Piala Dunia 1974. Dilanjutkan dengan dinasti Harald ‘Toni’ Schumacher, yang tenar dengan aksi horornya terhadap Battiston.

Sesudahnya, masih ada Bodo Illgner, yang tidak “sebodoh” namanya, karena aksi heroiknya di tos-tosan semifinal Piala Dunia 1990, ketika menghadapi Inggris. Aksi yang kurang lebih sama dihadirkan kembali dalam rupa Andreas Koepke untuk membawa Piala Eropa 1996, kembali ke negeri yang terkenal dengan Perang Dunia I dan II.

Tak habis rasanya jika membicarakan daftar panjang kefasihan kiper-kiper Jerman. Atau mungkin memang bergitulah kiper Jerman berbicara ? Di klub mereka melempem, di negara mereka berbusung dada.

Mungkinkah fakta ini akan terjawab kembali ? Atau malah kita perlu kembali kepada seorang tua renta bernama Oliver Kahn ?

4 comments:

  1. athos, 19. April 2008, 20:37

    Bagaimanapun juga, Jerman tetaplah Jerman. Bicara performa pemain Jerman saat di klub dan timnas memang menarik. Pemain Jerman sendiri mengakui, bila mereka sudah membela timnas, kekuatannya bisa dua kali lipat.

    Faktanya, mereka memang dikenal sebagai tim spesialis turnamen. Saya rasa bukan hanya kiper yang bersifat demikian. Peran posisi yang lain juga sama. Yang pasti, Jerman sekarang sudah berubah. Mereka tak lagi suka memainkan pemain senior. Semenjak Klinsi membesut Jerman, yang gaya kepelatihannya mengadopsi sistem American football, Jerman tak lagi mengandalkan 3-5-2 nya.

     
  2. Andy N. Gultom, 20. April 2008, 7:27

    @ Athos
    Bicara sejarah memang menguatkan….namun fakta terbaru tak bisa terbantahkan, dimulai dari Klinsmann yg sudah digantikan oleh Joachim Loew, artinya pola Jerman sudah berbeda.

    Dilanjutkan dengan kekalahanpada pertandingan terakhir melawan Czech di kandang sendiri, membuka mata dunia, bahwa Jerman masih menyimpan banyak kelemahan

     
  3. Athos, 21. April 2008, 8:40

    Dilanjutkan dengan kekalahanpada pertandingan terakhir melawan Czech di kandang sendiri, membuka mata dunia, bahwa Jerman masih menyimpan banyak kelemahan..

    Dan itu lebih baik terkuak di awal dan sebelum turnamen berlangsung. Ketimbang, kelemahan itu baru diketahui pada turnamen penting. Disini uniknya Jerman, masih ingat di penyisihan WC 2002? Jerman mengalami kekalahan telak dari tamunya Inggris 5-1. Tapi ya itu tadi, berkat mental dan tradisinya mereka mampu melenggang ke final.

     
  4. Seto, 22. April 2008, 7:17

    Jerman juga terkenal dengan sebutan tim diesel karena selalu terlambat panas. Rata-rata Jerman dlm suatu turnemen pernah mengalami kekalahan di babak penyisihan. Contoh di WC’74 yg notabene Jerman juaranya, di babak penyisihan grup mereka kalah dari Jerman Timur 0-1, begitu pun di WC’86 mereka kalah dari Belgia, di Euro 92 mereka dihajar Belanda 3-1 di fasa grup. Tetapi setelah susah payah lolos grup, Jerman unstopable di babak eliminasi dan terus sampai final.

    Mengomentari kiper Jerman, tim panser ini selalu mempunyai tradisi kiper yg jago menghalau tendangan penalti. Sepp Meier, Toni Schumacher, Illgner,Koepke,Lehmann adalah jagonya. Mungkin hanya Kahn yg bukan master of penalty kick blocker. Untuk Euro’08 saya menjagokan Neuer sbg Jerman number 1 karena hanya dia yg mempunyai reputasi sbg penalty blocker diantara kiper2 Jerman yg lain.

    Germany for Euro’08….Nasionalisme tinggi dari para pemainnya lah yg selalu membuat saya mengidolakan tim ini

     

Write a comment: