Pertaruhan Terakhir Rijkaard
Liga Champions 2007/2008 memasuki tahap-tahap menegangkan. 1 wakil dari Spanyol akan “dikeroyok” oleh klub-klub yang berasal dari negeri yang justru tidak akan hadir di Piala Eropa, juni nanti. Sekedar sebuah pembuktian atau gempita sesaat ?
Entahlah, yang jelas banyak hal yang perlu disikapi sebelum memberi komentar seperti di atas. Sepakbola sudah sedemikian global, sehingga negara asal sebuah klub mungkin hanya sebuah persinggahan, karena di balik itu semua, pemilihan pemain, pelatih dan pemilik klub, sudah tidak memiliki batas yang signifikan.
Kembali ke LC. Partai yang boleh saya bilang “The Real Final” antara Barcelona VS Manchester United akan tersaji Kamis pagi di Indonesia.
Sebuah partai sengit, yang akan menjadi pertaruhan terbesar dan terakhir Rijkaard di klubnya. Frank Rijkaard dalam tempo sedemikian singkat telah menjadi satu dan indentik dengan Barcelona. Gaya Rijkaard yang mensettle up tempo offense dibalut dalam possession football, didukung penuh oleh Presiden Klub, Joan Laporta. Azulgrana, sebagai penghuni tetap Catalunya pun cukup menikmati hasil torehan gelar LC dan juara Liga pada musim 2005/2006.
Tetapi itu cerita 2 tahun lalu. Masalah muncul ketika tahun lalu, Barca miskin gelar. Disalip Madrid di penghujung kompetisi, terasa sungguh menyakitkan. Musim ini, kans Barca juga semakin kecil, selalu dalam posisi tertinggal dari Los Merengues selama hampir 1 musim kompetisi.
Untuk itu, segala asa dan harapan serta motivasi, sungguh sudah sewajarnya digantungkan pada Liga Champions. Rijkaard harus lebih sabar dan bijaksana untuk tidak terfokus terhadap Real Madrid saja. Berpikirlah ke dalam, jangan melihat pencapaian tim lain, di kala masih banyak pekerjaan rumah yang dihadapi.
Bermain terlalu terbuka, meski butuh kemenangan di partai kandang melawan Manchester United, sama seperti menggali lubang kubur sendiri. Lihatlah AS Roma, yang terbantai di kandangnya. Atau belajarlah dari kekalahan Barcelona, tahun lalu, dari klub Inggris lainnya, Liverpool. Saat itu Barca terlalu mengeksploitasi partai kandangnya demi hasil kemenangan, dan akibatnya fatal.
Rijkaard harus mampu mengejawantahkan anak-anak asuhannya untuk bermain lebih sabar dan mengutamakan penguasaan wilayah. Memasang gelandang macam Xavi, Iniesta/Deco dan Yaya Toure sebaga breaker, akan membuat Barca lebih mudah dalam mengontrol permainan.
Menanti MU masuk perangkap, dan terbawa arus permainan Barcelona, adalah konsep utamanya, meski Alex Ferguson tentunya tidak akan tinggal diam. Trio R-R-T (Ronaldo, Rooney, Tevez), adalah yang terdepan untuk menghancurkan pertahanan Barca. Nama pertama yang disebut, menjadi MVP bagi LC yang sedang berjalan ini.
Barcelona butuh seorang Eric Abidal untuk bermain statis di sisi kiri pertahanannya. Menjaga mati seorang Ronaldo, akan menjadi prioritas utama Rijkaard pada gim kali ini. Tidak menjadi masalah, karena secara individu pun naluri menyerang Eric tidak sebagus kompatriotnya di kanan, Gianluca Zambrotta.
Meski demikian, kelemahan Barcelona untuk menghadapi bola-bola silang dan serangan balik yang cepat, juga perlu dikoreksi. Peranan Carles Puyol dan Gabriel Milito dalam memberikan komando kepada rekan-rekannya, harus perlu dilakukan selama 90 menit penuh.
Penyusunan komposisi Henry-Eto’o dan Messi di depan akan berhulu ledak lebih baik, dibandingkan memaksakan keinginan publik yang berharap trio Bojan-Eto’o dan Messi. Thierry Henry akan “bernostalgia” masa-masa indah EPL dengan bertemu musuh bebuyutannya. Tak terhitung berapa kali dalam ingatannya, cara-cara mengelabui bek-bek Premiership. Henry pasti paham seluk beluk kebiasaan dan tata cara strategi mereka. Selain tentunya, Henry jauh lebih produktif dibanding Bojan, dengan kontribusi 4 berbanding 1 gol di Liga Champions.
Duel yang sangat pantas untuk ditonton pada minggu ini. Dan sebagai pertaruhan terakhir pelatih berambut kriwil, Rijkaard, saya condong kepada Azulgrana dengan skor 2-1. Dengan satu catatan, HENRY dipasang !!!!


