Inggris : Ironis, Tragis! (I)

England_National_TeamOleh Rijal M. Z.
(Kontes Menulis Bolanova III)

Ini sepak bola, Bung!, bukan catur. Segala ramalan, prediksi, atau analisa di atas kertas bisa berbalik 180 derajat di lapangan. Tak ada yang memprediksi bahwa Denmark, yang datang ke Euro 1992 sebagai tim pengganti, bakal pulang membawa trofi setelah menekuk Jerman, jawara Piala Dunia 1990. Begitu pula, hanya sedikit yang memprediksi Yunani bakal menjadi kampiun di tanah Portugal pada 2004.

“Sepak bola itu penuh misteri,” kata maestro totaalvoetbal, Rinus Michles. Sang Meneer tentu berkaca pada kegagalan Belanda di final World Cup 1974 dan 1978. Diperkuat Johan Cruyff, Ruud Krol, hingga Johan Neesken, De Oranje gagal meraih trofi, meski tampil dengan simfoni totaalvoetbal yang memukau. Sabda Michel juga menjadi kutukan belanda yang tak lolos World Cup 2002.


Kini, misteri sepak bola dan falsafah bola itu bundar, benar adanya. Kredo ini benar-benar dibuktikan timnas Inggris. Tak ada yang menyangka the three lions gagal melaju ke Euro 08, hanya sedikit yang meramalkan Kroasia bakal membuat keok gerrard Cs, di stadion Wembley yang terkenal “angker”.

Penampilan Lampard, Defoe, Richards, yang moncer di klub, nyatanya hanya menjadi aksi teatrikal di lapangan internasional. Sang dirigen, Steven Gerrard, bahkan bingung dengan partitur yang sedang dimainkan. The tree lions main dengan semangat, tapi tidak dengan hati . Tak ada greget dan permainan memukau seperti biasanya. Mereka turun tanpa mental juara.

Episode tragis Inggris mengulang tragedi kegagalan lolos World Cup 1994. Jika Anda asyik menyimak persiapan Gerrard Cs menuju Austria-Swiss, maka anda memang layak berkomentar, ada yang salah pada anak asuh McClaren ini. Yap, betul. Harus ada yang mampu menyentuh hati para punggawa Inggris, hingga mereka mampu tampil sebagai tim. Inggris butuh figur “ibu” yang cerewet, mommy yang bisa menjewer telinga anaknya ketika nakal, dan memaksanya giat belajar saat nilainya buruk. Ibu yang tak segan melontarkan pujian saat anaknya berhasil. Sosok pengayom seperti inilah yang tak ada pada figur McClaren. Ia cenderung lembut, dan tak ada spirit solidarity maker.

Sebagai kontruksi para pemain bintang yang berego tinggi, timnas Inggris butuh sosok manajer jenius-koppig (keras kepala) seperti Aime Jacquet, pelatih “diktator” yang cerdik semacam Fabio Capello, atau manajer provokator nan cerdas selayaknya Jose Mourinho. Pelatih berjiwa batu karang seperti di atas, dibutuhkan untuk mengkonstruk solidaritas tim, mengasah kekompakan, serta melunturkan ego para pemain Inggris.

(bersambung)

No comments yet.

Write a comment: