Inggris : Ironis, Tragis! (II)

England_National_TeamOleh Rijal M. Z.
(Kontes Menulis Bolanova III)

Kini episode baru telah dimulai. Inggris yang legendaris, punya pemain bertalenta luar biasa, dan permainan kick and rush yang memukau, nyatanya hanya mejadi penonton pada Euro mendatang. Tak ada aksi ciamik Rooney, dribbling meliuk-liuk khas Joe Cole, atau deadly tackling khas Ferdinand.

Bagi kebanyakan rakyat Inggris, sepak bola adalah “agama”. Ah, berlebihankah?, ternyata tidak. Lihat saja pengakuan Nick Hornby, sastrawan Inggris yang menjadi fans fanatik Arsenal.

“Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, jika bola berubah menjadi gol. Sejak tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa diduga dan tak kan dapat terulang lagi. Disinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dalam benturan itulah bola memberikan kebahagiaan.”


Ungkapan Hornby hanyalah sebagian kecil ungkapan kecintaan dan kefanatikan terhadap sepak bola yang mendarah daging. Konon, di negeri Ratu Elizabeth ini, jumlah gereja kalah banyak dengan jumlah stadion dan lapangan bola. Bahkan, di kota Manchester, “haram” hukumnya pendukung Manchester United berpacaran dengan supporter Manchester City. Gila?, memang.

Sebagai “agama”, Wembley Stadium menjadi katedral agung nan keramat, yang mnengingatkan old glory of the three lions 41 tahun silam, saat Bobby Charlton Cs mengangkat trofi Jules Rimet. Liverpool, Manchester, London, adalah “kota suci”yang menjadi kandang klub-klub top. Sir Alex Fergusson, Rafael Benitez, Arsene Wenger, dan Sven Goran Erikson, adalah beberapa “imam madzhab” yang meracik kredo dan dogma permainan. “Fiqh”nya terpatri begitu sempurna, (halal) menang dan (haram) kalah. Para pemain, adalah public figure yang dipuja dan dicinta. Tentu saja makmumnya adalah para supporter yang selalu mendukungnya. Adapun struktur paling puncak –sebagaimana agama mapan– baik yang bersifat eklesiastik maupun hierarkis, berada di tangan FA yang bertindak sebagai ’penjaga keimanan’ (guardian of the faith), yang menetukan hitam-putih dan maju mundurnya persepak bolaan Inggris.

Kini, kerinduan para pemeluk “agama” sepak bola Inggris untuk meraih kejayaan sebagaimana 41 tahun silam, harus pudar. “Yang satu roboh, yang lain tegak megah. Dengan kepala, dengan kaki ia meloncat. Ia bertahan, dengan menaruh kepala pada kakinya.” tulis Dante dalam Infernale Firenze. Kini, apa yang ditulis sastrawan Italia itu ada benarnya, sepak bola telah menjadi miniatur drama kehidupan. Satu menang, yang lain pecundang.

No comments yet.

Write a comment: