Two Horse Race, CHELSEA or MAN UTD ?

alex-ferguson.jpgMichael Ballack, gelandang Internasional Jerman, musim ini hanya mengecap 16 penampilan bagi klubnya Chelsea. Namun siapa sangka, dengan penampilan yang boleh dibilang minim, Ballack dapat dikatakan sebagai aktor kunci, jika di akhir musim Chelsea menggenggam gelar Premiership.

Fakta ini menyusul kontribusi Ballack pada penampilannya yang teranyar Sabtu lalu, ketika dirinya memborong 2 gol kemenangan Chelsea atas musuh utamanya, Manchester United. Hasil ini sekaligus membuka peluang Chelsea dalam menggapai gelar EPL. Apapun masih bisa terjadi, di sisa 2 pertandingan yang akan dihadapinya.

Dua game yang menentukan akan dihadapi Chelsea adalah menghadapi Newcastle (away) dan menutup musim di kandang, ketika menjamu Bolton Wanderers. Man Yoo sendiri akan bermain kandang ketika menghadapi West Ham dan di penghujung musim bermain away melawan Wigan Athletic.

Secara teoritis, Manchester United patut diunggulkan dalam drama Two Horse Race ini. Baik dari jadwal yang dihadapi maupun keunggulan selisih gol yang dimiliki (53 berbanding 37). Namun secara psikologis, Chelsea lebih punya kelebihan. Dengan posisi underdog, dan berstatus “mengejar”, The Blues punya semangat “nothing to lose”. Man Yoo sendiri jika tak berkonsolidasi, dapat mengalami kepanikan dan kehilangan gelar Premiershipnya.

Home Advantage jelas terasa di Stamford Bridge. Stadion ini masih menyimpan magi yang tak berkesudahan dalam 3 tahun terakhir. Tak heran, Chelsea tercatat belum pernah kalah di kandang, dalam kurun waktu tersebut. Termasuk ketika menghadapi Man Yoo.

Diawali oleh sebuah sundulan keras, Ballack membuka keunggulan The Blues. Rooney kemudian membuat jantung pendukung tuan rumah berdegup kencang, ketika berhasil menyamakan kedudukan, memanfaatkan kesalahan back pass, Ricardo Carvalho. Meski demikian Chelsea tetap bermain tenang dan sabar, dan di penghujung pertandingan, tepatnya di menit 86, anak-anak asuhan Avram Grant memperoleh penalti akibat Michael Carrick menyentuh bola dengan tangannya.

Penalti dieksekusi dengan dingin oleh another Michael, yang tidak lain adalah Ballack. Gol ini disambut oleh rekan-rekan Ballack dengan cara yang unik. Secara serempak mereka memperlihatkan kaus dalam yang bertuliskan “PAT LAMPARD RIP”. Hal ini sekaligus menunjukkan simpati tim terhadap kematian ibu dari Frank Lampard, yang meninggal hari kamis lalu.

Kemenangan ini, membuat Chelsea kembali bermimpi, bahwa peluang merebut kembali gelar EPL yang pernah digenggam 2 tahun lalu, kembali muncul. Kaki-kaki pejuang biru, terlihat segar dan bergairah, menyusul game-game penting di Liga Champions dan Liga Domestik.

Yang lebih nyata lagi, dewi fortuna sepertinya juga memihak mereka. Sebuah gol John Arne Risse, rabu lalu, membuktikan hal itu. Chelsea berpeluang besar untuk lolos ke final Liga Champions, karena gim berikutnya akan dimainkan di Stamford Bridge, di mana Chelsea punya rekor yang spesial, dan Man Yoo pun telah merasakan efeknya.

Satu-satunya yang mungkin menjadi penghambat The Blues adalah jadwal pertandingan mereka
. Chelsea masih harus menghadapi Newcastle, yang sedang meningkat permainannya di kandang lawan. Newcastle secara head to head juga jauh lebih kuat dibandingkan Wigan yang juga dihadapi Man Yoo dalam partai away.

Meski demikian Man Yoo juga punya handicap. Rooney dkk akan menghadapi lawan yang secara historis sukar untuk dikalahkan, West Ham. West Ham semasa dilatih Harry Redknapp merupakan lawan tangguh buat MU dari masa ke masa. Tak jarang MU sering imbang dan bahkan kalah jika menghadapi tim dari kota London ini. Dan fakta ini pun berlanjut sampai sekarang, meski West Ham sudah berganti pelatih. Terakhir, MU dilalap oleh West Ham, 1-2 di Upton Park.

Sir Alex Ferguson, kembali harus berpikir keras. Setelah sukses dengan perjudian memasang Owen Hargreaves sebagai bek kanan, sebagai bagian dari rencana besar memancung produktivitas anak-anak Catalunya, Alex perlu merekonstruksi komposisi timnya dalam menghadapi Barcelona pekan depan.

Alex pasti tahu, bahwa hasil buruk yang didapat di Liga Champions akan berefek pada kelanjutan di Liga Domestik. 2 pertandingan akhir di EPL adalah penentuannya.

Masih ingat ketika Milan menyalip Fiorentina di 2 game terakhir, dan merebut scudetto 1998/1999 ?
Sepanjang musim Fiorentina memimpin klasemen, sedangkan Milan berstatus “pengejar”, namun dalam 2 kesempatan akhir, Milan berhasil memuncaki klasemen.

Chelsea menapaktilasi sejarah tersebut, ketika sepanjang musim mereka selalu berada di bawah bayang-bayang MU. Dan sekarang mereka menuai hasilnya.

Akankah Fergie membiarkan hal itu ? Kita tunggu jawaban the Gaffer from Scotland, dalam 2 pekan mendatang !!!!

No comments yet.

Write a comment: