Ketika Tulip Merekah di Kremlin

rusia-football.jpgDalam 1 bulan ke depan, sontak semua mata akan memandang ke salah satu negara dengan luas cakupan wilayah 1/8 bagian bumi. Negara yang dikenal dunia dengan Red Army-nya, akan menggeliat menyambut 2 event penting.

Perhelatan pertama, dimulai dari Final UEFA 2008, St Petersburg, kota nomor 2 terbesar di Rusia, melejitkan nama klubnya, Zenit menjadi partisipan di City Stadium of Manchester, untuk menantang Glasgow Rangers.

Keberhasilan Zenit menembus final, bak kisah Cinderella, Zenit menghantam tim elit Eropa, Marseille, dan ditutup oleh pembantaian Muenchen 4-0.

Dick Advocaat, adalah manusia impor negeri Belanda, yang pantas mendapat aplaus dari keberhasilan ini. Jika sebuah tim memiliki SDM yang terbatas, faktor pelatih pantas memegang peranan. Kegagalannya di Korea, yang memang gemar memakai pelatih Belanda (efek Guus Hiddink), tidak serta merta membuat dirinya patah arang.

Dick memang tidak pernah terlalu bagus ketika menangani timnas, seperti apa yang pernah dia lakukan untuk Belanda, Uni Emirat Arab, dan Korea. Sebaliknya prestasinya cukup melejit ketika “memegang” suatu klub.

Zenit “terima” bersihnya. Leverkusen, Marseille, dan terakhir, Bayern Muenchen, yang notabene merupakan salah satu “penguasa” Eropa, berhasil ditebas tanpa ampun. Pola standar 4-4-2 yang terkadang diratifikasi menjadi 4-4-1-1, sudah cukup melambungkan Zenit ke Final Kejuaraaan Eropa pertamanya.

Another big moment adalah Luzhniki 21 Mei 2008, ketika ajang penutup Liga Champions dipuncaki.

Akan beradu Si Merah melawan Si Biru, yang sangat cosmopolitan. Si Merah dimiliki Amerika Serikat, dengan pelatih kewarganegaraan Skotlandia, berasisten seorang Portugal. Si Biru ? Lebih berwarna lagi, dimiliki oleh taipan Rusia, dengan pelatih seorang Israel, asisten dari Belanda, menggunakan apparel dari Jerman, dan disponsori oleh produk Korea.

Publik Rusia, memang tidak terlalu menanti-nanti kejadian di Luzhniki. Kehormatan untuk masyarakat di sana adalah hanya untuk menghargai salah satu warganya, yang masuk dalam jajaran 50 org terkaya di dunia, untuk kebanggaan suatu klub yang ironisnya, tidak punya seorang pemain rusia di dalam skuadnya.

Sebenarnya ada yang lebih ditunggu-tunggu oleh the Russian. Piala Eropa 2008….

The Red Army squad berhasil melaju dari grup bersama-sama Kroasia, yang uniknya menggagalkan ambisi negara yang (justru) kedua klubnya hadir di final Liga Champions 2008.

Rusia menanti keajaiban. Benar, bahwa skuadnya kali ini, masuk dalam kategori skuad “menengah ke bawah” dalam sejarah panjang keterlibatannya di pentas eropa. Namun, bedanya “kami punya manusia setengah dewa” dalam diri sang pelatih.

Rusia boleh merajut mimpi. Mereka masih terbalut keyakinan, ketika seorang diri, meneer Guus Hiddink berhasil membawa tim liliput, Korea ke semifinal Piala Dunia 2002. Landasannya pun jelas, ketika di saat-saat akhir, Rusia nyaris tidak lolos ke Eropa 2008, karena hanya berharap Kroasia mampu menebas Inggris di partai akhir penyisihan.

Dan doa pun terkabul, Rusia lolos… Dan meski ribuan orang berpikir itulah “pemberian” Kroasia, ada ratusan ribu warga Rusia yang punya pendapat lain, itulah MAGI Hiddink.

Hiddink, memang bak tulip pilihan. Peruntungannya, berbeda dengan meneer Dick, yang lebih sukses di timnas, dibandingkan klub. Spesialisasinya jelas, kejuaraan berlevel dunia dan eropa. 2 tim sukses dibawanya ke semifinal piala dunia, Belanda di 1998 dan Korea di 2002. Hanya sebuah penalti Totti yang bisa merusak tawa Hiddink ketika Australia pun nyaris terbawa ke babak yang lebih jauh di tahun 2006.

Rusia 2008 ? Berada satu kerangkeng dengan Yunani, Spanyol dan Swedia, lolos dari grup pun sudah bagus. Namun, asa sudah terlalu jauh. Harapan dan mimpi dalam status kemuskilan, tidak lagi dipedulikan. Jika mimpi adalah manusia, maka Hiddink adalah “Tuhannya”.

Zenit, Luzhniki dan Rusia, akan diwarnai oleh Dick Advocaat, Roman Abramovich maupun Guus Hiddink. Setelah sekian lama “ditelan” oleh Uni Eropa, kali ini mereka kembali dihargai.

“From Russia with Love, just like James Bond said…..”

2 comments:

  1. Hedi, 9. May 2008, 12:24

    Mudah2an Zenit nggak antiklimaks karena sudah membantai Alkmaar, Nurnberg, Everton, Villarreal, Marseille, Leverkusen dan Bayern — para klub elite yg sebagian pernah juara uefa dan champions.

     
  2. Andy N. Gultom, 10. May 2008, 7:51

    @ Hedi :
    Feeling saya, Zenit tidak akan antiklimaks, mengikuti jejak CSKA Moskow yang berhasil mengalah Sporting Lisbon, 3 tahun lalu……. kecuali jika Rangers bermain tertutup di belakang, mengandalkan raksasa Carlos Cuellar dan mengejar hasil adu penalti…..

    So, Go for it Zenit !!!!!!

    Bung hedi pilih mana ?

     

Write a comment: