Impossible is Nothing
Chris Paul, David West dan rekan-rekannya yang tergabung dalam New Orleans Hornets, sampai saat ini masih mengungguli San Antonio Spurs, 3-2. Dalam partai terakhirnya, mereka unggul dengan margin 21 point !!!
New Orleans adalah fenomena menarik playoff NBA musim ini. Bagaimana sebuah tim yang berumur jagung, dilengkapi pemain-pemain bau kencur, mampu bermain dan menghantam tim veteran dan berkelas sekaligus sang juara bertahan San Antonio Spurs.
Kita sekarang berpindah ke Zenit St. Petersburg. Zenit menancapkan kuku eropa pertamanya dengan merengkuh Piala UEFA 2008. Zenit memang lebih diunggulkan daripada lawannya di final, Glasgow Rangers. Namun siapa yang berani “memegang” tim ini ketika merangkak dari babak penyisihan.
Best offense against best defense…. Itulah jargon Final UEFA tahun ini. Zenit menjadi tim yang mencetak 29 gol pada pertandingan UEFA-nya musim ini. Selain tentunya, Zenit didukung oleh sang top skorer UEFA, Pavel Pogrebnyak (yang ironisnya absen di partai puncak karena akumulasi kartu.
Rangers ? Hanya kebobolan 2 gol semenjak sistem gugur sampai partai final. Kuncinya ada kepada pola negatif spesial ala Walter Smith dan aktor kelas wahidnya, bek raksasa Carlos Cuellar, yang telah dinobatkan sebagai MVP Liga Skotlandia musim ini.
Dan ketika patron itu bertemu, hasilnya “sesuai” harapan. Di tengah kekhawatiran pelaku sepakbola akan final yang berlangsung pasif, Zenit berhasil menjadi solusinya. Meski berkali-kali gagal menembus tembok tebal, akhirnya sebuah umpan terobosan Arshavin pada 15 menit akhir pertandingan, berhasil dikonversi Igor Denisov menjadi sebuah gol.
Zenit dan Rangers bermain normal, dengan gayanya masing-masing. Dan ini adalah permainan normal mereka. Dengan cara yang “lebih menarik”, Zenit telah membuktikan bahwa adalah wajar, jika tim sekelas Marseille, Villareal, Bayer Leverkusen dan Bayern Muenchen, mereka tuntaskan satu-persatu, sebelum mencapai parta final. Dan Rangers pada akhirnya mengalami hal yang serupa.
Ada hal yang menjadi sorotan bagi saya, bahwa Zenit bermain dengan hati. Sebuah chemistry yang terjalin dengan baik, sehingga kalau kita melihat ke pertandingan, Zenit tidak punya poros yang jelas, semua aliran bola dan perputaran posisi pemain, terus terjadi di sepanjang pertandingan. Setiap personil melakukan rotasi dan bergantian mengisi area yang kosong.
Sebuah chemistry, yang mungkin bisa disamakan dengan Detroit Pistons 2005. Dengan pemain “kelas dua”, Chaunchey Billups, Rasheed Wallace, Tayshaun Prince, Richard Hamilton dan Ben Wallace, berhasil menjuarai NBA.
Tidak ada bintang di sana, tidak ada yang lebih dominan dibanding lainnya. Mereka mematahkan dogma, yang menyatakan, selalu ada superstar di dalam tim juara. Kuncinya hanya satu, CHEMISTRY.
Kesehatian karena sering bermain, kebersamaan demi mental menjadi pemenang, dan kepercayaan terhadap rekan untuk kepentingan tim. Itulah yang terjadi di Detroit dan juga Zenit.
Impossible is Nothing !!!!


