No Guts, No Glory !!!!

chelsea_manutd.JPGOrang optimis selalu berkata, forget the past, do the best for today and there will be good things in the future…..

Hidup ini bagaikan 2 sisi mata uang, di mana selalu ada pro dan kontra (dalam hal apapun), dan untuk alasan itu, hidup akan jauh lebih menarik.

Tanpa banyak basa-basi, sebuah kisah menyongsong pagelaran final Liga Champions akan coba saya bahas dalam artikel berikut ini.

Blues versus Red Devils. Cerita lama yang memanas kembali setelah menyelesaikan Perang Bubat I dalam perebutan gelar Premiership. Di mana “si merah” keluar sebagai pemenangnya. Perang kedua, akan jauh lebih menegangkan. Tidak ada lagi menggantungkan nasib kepada hasil pertandingan tim lain, seperti apa yang terjadi di liga, ketika mereka menyelesaikan “masalah” dengan mengalahkan tim lain.

Kali ini semua ditentukan dalam sebuah final game. Tanpa batas, dan sampai penghabisan sekalipun. Semuanya bergantung kepada “diri sendiri”. Pemain, pelatih, fans, manajemen, bahu membahu terfokus demi keutuhan kondusivitas tim.

Setan Merah, Manchester United menjadi tim terbaik LC musim ini. Raja Prancis 7 musim berturut-turut, Lyon, ditebas di perdelapan final. Pemegang attacking football Italia, AS Roma, ditundukkan di perempat final. Puncaknya, maestro sepakbola indah (yang tidak lagi terlalu indah), Barcelona, digulung di semifinal.

Perjalanan Man Yoo, ke final boleh dibilang komplet. Ryan Giggs dan kawan-kawan, telah teruji, meski menghadapi tim-tim “buas” sekalipun. Uniknya, kesamaan karakter diantara ketiga tim yang dilewatinya adalah sama, yaitu attacking minded. Sekarang pertanyaannya, sanggupkah MU, melewati partai melawan tim yang “stabil” ketika menyerang atau bertahan (Chelsea) ?

The Londoners (fans Chelsea) tidak pernah membayangkan musim ini akan jauh lebih panjang dari yang diperkirakan. Ketika seorang Abraham Granat a.k.a Avram Grant, seorang diri melepas anak panah di penghujung Liga Champions.

Avram lepas dari bayang-bayang Jose Mourinho, yang (mungkin) pada saat ini sedang mengutuki dirinya, karena selalu gagal di semifinal. Tidak bisa dipungkiri, bahwa hasil yang dicapai Grant, tak terlepas dari tangan dingin Jose juga. Semua punggawa inti tim Chelsea sekarang adalah hasil “bawaan” Mourinho di bursa transfer.

Meski demikian, elemen pelengkap semua komponen, tetap adalah Avram Grant. Taktik terbesarnya ? Mungkin adalah penemuan pola 4-1-2-3, ketika menghancurkan Liverpool di semifinal. Makelele berhasil menjaga mati Gerrard dan membuat aliran bola The Kop mandek.

Kali ini, Makelele akan melakukan tugas serupa terhadap Ronaldo. Masih ingat LC 2007 ? Gattuso merapat habis Ronaldo di semifinal. Hasilnya ? MU kalah dan Milan juara. Artinya, ada kemungkinan yang positif yang dapat terjadi, jika Makelele berhasil menunaikan tugasnya.

Perjalanan Chelsea ke final, tidak seimpresif MU. 2 tim medioker Olympiakos dan Fenerbahce, bukanlah tim yang sepadan. Meski demikian, Chelsea mendapat ujian mental yang sangat genting. Bagaimana mereka “menentukan” hasil akhir di tangan mereka sendiri. Termasuk ketika menghadapi Liverpool di semifinal.

Gol bunuh diri Riise maupun gol Drogba di perpanjangan waktu, adalah kesahihan kesiapan mental pemenang ala Chelsea. Tiada kata menyerah, sampai menit akhir. Sebuah keberuntungan pun, adalah hasil dari usaha tak kenal lelah, sampai (mungkin) Yang Kuasa iba melihat jerih payah kita, dan memberikan suatu anugerah.

Anugerah di menit terakhir, pernah menghampiri Manchester United dalam final LC terakhirnya. Semua orang tahu, MU menjadi pemenang episode LC 1999, dengan 2 gol emas Ole Solksjaer dan Teddy Sheringham. Tapi tak banyak yang tahu bahwa “anugerah” itu menutupi usangnya strategi Fergie di final.

Waktu itu Fergie kehilangan Paul Scholes di tengah, akibat akumulasi kartu. Fergie kemudian memaksa Beckham bermain di tengah, dan menggeser Giggs ke sayap kanan. Perjudian ini gagal, dan memaksa MU terus tertekan sepanjang pertandingan. Beruntung akhirnya MU menang akibat pergantian 2 pemain.

Sekarang, Fergie akan berusaha “menyelamatkan” muka. Dirinya tidak mau kalah taktik lagi. Kemenangan mutlak di atas lapangan adalah yang diincarnya.

Entah mengapa, hati kecil saya berteriak, Chelsea yang akan menang. Chelsea akan mengulangi hal yang menimpa MU di LC 1999. Chelsea mungkin akan kalah taktik. Namun, kemenangan mental sudah kepalang tanggung, dan menit-menit akhir akan menjadi penentunya.

Apapun itu hasilnya, saya berharap final akan berlangsung menarik. Puncak persaingan antar klub di 2008, akan menjadi “pemanasan” yang bagus sebelum tontonan akbar Piala Eropa.

Prepare for the Battle……. No guts, no glory !!!!!

1 comment:

  1. Al, 21. May 2008, 22:33

    beda neh…kl hati gw tetep MU yg jd juara.
    may be skor 2-0 bt MU ;)

     

Write a comment: