Antara Soeharto dan Juventus (Bagian I)

Ditulis oleh Luzman Rifqi Karami (Mahasiswa Fikom Unpad)

soeharto juventusMungkin banyak orang yang bertanya-tanya melihat judul di atas. Apa gerangan hubungan antara tokoh besar dengan klub besar itu? Apakah Soeharto sangat menggemari klub berjuluk I Bianconeri itu? Tentu tidak. Memang tidak ada hubungan langsung antara Soeharto dengan klub asal kota Turin, Italia tersebut. Namun, jika kita telaah ternyata ada banyak persamaan antara keduanya.

Mari kita bicarakan terlebih dahulu mantan presiden kita, Jenderal Besar Purnawiraman Soeharto. Lahir di Kemusuk, Agromulyo, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921 beliau adalah presiden yang kedua setelah Soekarno. Beliau mulai menjabat sejak keluarnya Supersemar yang dinilai kontroversial pada tanggal 12 Maret 1967 sebagai Pejabat Sementara Presiden dan dipilih sebagai Presiden pada tanggal 21 Maret 1967 oleh MPRS. Soeharto dipilih kembali oleh suara MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Beliau adalah orang yang paling lama menjabat sebagai Presiden RI, hampir selama 32 tahun. (sumber: wikipedia)


Sementara itu Juventus berdiri pada November 1897 dengan markas di Stadion Delle Alpi, Turin, Italia. Klub berjuluk La Vecchia Signora itu merupakan klub tersukses di Italia dan juga sempat merajai Eropa. Sepanjang sejarahnya klub ini telah meraih 27 scudetto, 9 Piala Italia, 4 Piala Super Italia, 2 Liga Champions, 3 Piala UEFA, 1 Piala Winners, 2 Piala Super Italia, serta 2 Piala Intercontinental.

Baik Soeharto dan Juventus pernah mengalami masa kejayaan. Pada masa kekuasaannya Soeharto sangat ditakuti. Beliau sempat dijuluki Bapak Pembangunan Nasional mengingat jasanya di bidang pembangunan dan juga pertumbuhan ekonomi. Saat itu prangko dan juga uang kertas pernah memuat gambar Soeharto. Saat itu Soeharto dianggap memiliki jasa yang besar bagi Indonesia.

Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan pasangan untuk memiliki 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup. Dalam bidang pendidikan Soeharto memelopori proyek Wajib Belajar yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.

(Bersambung)

***

Luzman Rifqi Karami bisa dijumpai di: http://kumahaanjeun.blogspot.com

2 comments:

  1. Masih Mommati, 27. May 2008, 9:45

    mesti yg nulis ini seorang losernisti…

     
  2. pembaca yang budiman, 27. May 2008, 14:12

    hahaha…

    Soeharto sudah mati mas. dia mati pun tanpa ada rehabilitasi nama baik dia sebagai koruptor pembantai kelas dunia. heheheh.

    sedangkan Juventus, dari berita berita yang saya baca akhir akhir ini malah kembali mendapat reputasi besarnya kembali semenjak rela diturunkan ke Serie-B. dengan skuad yang agak menurun kualitasnya dibanding skuad super mereka sebelum Calciopoli.

    artikel anda sebenernya lucu loh. sebab benar benar mencerminkan sebagai Interisti sejati. hahahaha… buktinya dalam artikel anda mengungkit kembali kejadian yang sudah 10 tahun lalu terjadi bagaikan itu sebuah prasati yang gak lekang oleh waktu. heheheh… musim 97/98, kekalahan Intermilan dari Juventus menyebabkan Inter kehilangan gelar scudetto… hahahaha. ini hal paling aneh yang berkali kali saya baca dalam tulisan yang dihasilkan seorang Interisti sejati.

    boleh anda lihat kembali deh hasil2 yg terjadi di musim tersebut. setelah kekalahan 1-0 itu, Inter bisa mengambil pimpinan klasemen kembali di pekan berikutnya karena Juventus hanya bermain 0-0 di Vicenza. tapi apa yang terjadi? di kandang sendiri malah imbang 0-0 melawan Piacenza. lalu pekan berikutnya malah kalah pula melawan klub kecil bernama Bari… nah disinilah sebenarnya terlihat bahwa Inter sendiri masih ada kesempatan untuk mengejar poin Juventus, bahkan dengan keuntungan bermain 2 kali di kandang sedang Juventus harus bermain di luar Turin 2 kali dari 3 game tersisa.

    selain itu Interisti selalu saja menulis ttg penalti yang tidak diberikan wasit atas jatuhnya Ronaldo di kotak penalti Juventus. apakah Inter itu cuma mengandalkan penalti saja untuk meraih kemenangan? hehehehe…

    satu lagi, kalau Interisti selalu menulis kegagalan mereka 10 tahun lalu di 1998, lain halnya dengan kegagalan mereka 6 tahun lalu, yang bahkan semua tifosi fanatik Serie-A akan selalu teringat hari bersejarah itu, 5 Mei 2002. 5 Mei 2002 tidak pernah diungkit ungkit Interisti. kenapa? entahlah. mungkin karena mereka tidak punya alasan untuk menuding klub lain melakukan kecurangan. mungkin karena tidak ada peluang mendapatkan penalti yang dianulir. entahlah.

    tanyaKEN pada Interisti saja…

     

Write a comment: