Antara Soeharto dan Juventus (Bagian II)

Ditulis oleh Luzman Rifqi Karami (Mahasiswa Fikom Unpad)

soeharto juventusSetali tiga uang dengan Juventus. Klub ini sangat ditakuti pada masa jayanya. Direktur Umum Juventus saat itu, Luciano Moggi sangat lihai dalam membeli pemain. Pemain-pemain top dunia semacam Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon yang menjadi kiper termahal di dunia, Pavel Nedved, dan juga Fabio Cannavaro sempat didatangkan ke Stadion Delle Alpi. Dengan skuad yang penuh bintang tentunya tak sulit bagi Juventus untuk meraih berbagai macam gelar baik domestik maupun Eropa.

Namun, dibalik kesuksesan keduanya selalu diwarnai dengan kontroversi. Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.


Beliau memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Beliau menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Beliau juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam. Sama halnya dengan Juventus. Klub ini sering sekali mendapat "bantuan" wasit dalam memperoleh kemenangan. Yang paling fenomenal adalah pada musim 1997-98. Saat itu Juventus bersaing ketat dengan Inter Milan untuk merebut scudetto. Hingga pekan ke-30 Inter menempel ketat Juventus dengan selisih satu angka. Partai Juventus kontra Inter di pekan ke-31 diprediksi menjadi penentuan juara.

Saat itu Inter kalah karena keputusan wasit yang kontoversial. Striker Inter, Ronaldo - saat itu membela Inter - dijatuhkan oleh Mark Iuliano. Kubu Inter meminta penalti. Wasit Piero Ceccarini menolaknya. I Nerazzuri akhirnya kebobolan oleh gol Alessandro Del Piero. Inter kalah 0-1. Scudetto pun melayang ke Turin. Itu hanyalah salah satu contoh keputusan kontroversial yang sering "membantu" Juventus.

Jatuhnya Soeharto dan Juventus Mekipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap memastikan ia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan, tekanan politik dan militer, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie. (Sumber: wikipedia)

Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.

Sedangkan Juventus tampil digdaya di Italia setelah merebut scudetto dua kali berturut-turut pada musim 2004-05 dan 2005-06. Namun, akhirnya kedua gelar tersebut dicabut karena Juventus, bersama klub Italia lainnya: AC Milan, Lazio, Fiorentina, dan Reggina, terlibat skandal pengaturan skor yang dikenal dengan sebutan Calciopoli. Gelar musim 2005-06 "diberikan" kepada Inter Milan sedangkan gelar musim 2004-05 dinyatakan kosong.

Skandal ini pertama ditemukan karena penyelidikan doping di Juventus, di mana beberapa alat penyadap dipasang. Transkrip pembicaraan telepon diterbitkan di surat-surat kabar Italia, di antaranya adalah pembicaraan manajer umum Juventus, Luciano Moggi pada musim pertandingan 2004-05 mengenai pengaturan pertandingan, perjudian, dan pemalsuan catatan keuangan. Moggi sendiri kemudian diberi sanksi dilarang aktif di persepakbolaan selama lima tahun.

(Bersambung)

***

Luzman Rifqi Karami bisa dijumpai di: http://kumahaanjeun.blogspot.com

2 comments:

  1. Kamaludin Abdillah, 28. May 2008, 9:13

    Setali tiga uang dengan Juventus. Klub ini sangat ditakuti pada masa jayanya. Direktur Umum Juventus saat itu, Luciano Moggi sangat lihai dalam membeli pemain. Pemain-pemain top dunia semacam Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon yang menjadi kiper termahal di dunia, Pavel Nedved, dan juga Fabio Cannavaro sempat didatangkan ke Stadion Delle Alpi. Dengan skuad yang penuh bintang tentunya tak sulit bagi Juventus untuk meraih berbagai macam gelar baik domestik maupun Eropa.

    Ralat = Masa jaya Moggi hanya tahun 96, ketika sukses menang dalam adu penalti melawan Ajax. Sedang dengan formasi yang diisi Canna, Nedved, dan Buffon, mereka tak pernah menang di Eropa. Prestasi terbaik mereka hanya di tahun 2003. Kalah dari Milan.

     
  2. Erwin Mulyawan K, 15. September 2008, 13:05

    Soeharto sudah meninggal
    tidak perlu dibahas lagi
    Pamali ceuk urang sunda mah….
    Lagian, Soeharto masih harus kita hargai sebagai
    tokoh yang membawa Indonesia membangung (Pelita, Repelita)

    Juventus masih eksis
    masuk kembalinya Juventus ke Seri-A
    langsung menebar ancaman buat tim2 dgn banyak bintang

    Harus bisa membedakan
    mana Manajemen dan mana JUVENTUS
    Moggi itu manajemen bukan Juventus

    Buffon, Nedved, Del Piero, Trezeguet, Zambrotta, Cannavaro itu JUVENTUS
    Mereka gak ada waktu untuk nyuap wasit
    Waktu mereka tersita untuk menjadi yang terbaik saat itu

    Sebagai mahasiswa di jurusan sebenarnya (baca: menulis, jurnalis, dll)
    sebaiknya untuk lebih memberikan fokus pada tulisan
    Tidak melebar dan menimbulkan provokasi

    salam
    Erwin MK (Author)

     

Write a comment: