Sepakbola Inggris Dan Perekonomian Indonesia: Sama-Sama Tidak Peduli
Apa persamaan klub besar sepakbola Inggris dengan perusahaan besar Indonesia? Sama-sama lezat. Keduanya makin terlihat lezat dimata pemodal asing yang punya duit banyak. Kalau klub sepakbola Inggris kita pasti tahu dengan Glazer yang mencaplok MU, lalu Roman Abramovich yang mencaplok Chelsea dan akhir-akhir ini, tokoh konglomerat yang jadi bintang dimedia massa adalah Thaksin Shinawatra yang mencaplok Manchester city.
Sedangkan perusahan besar Indonesia akhir-akhir ini yang sering jadi pusat pembicaraan karena telah dibeli pemodal asing adalah Indosat dan Telkomsel. Lalu apa hubungannya dengan Indosat/Telkomsel?
Sederhana saja. Temasek memiliki 40,8% saham Indosat melalui anak usahanya yakni Singapore Technologies Telemedia (STT) yang memiliki 75% saham Asia Mobile Holdings (AMH). Sisa kepemilikan AMH dimiliki oleh Qtel. Dalam struktur STT, AMH adalah pemilik Indonesia Communications Limietd (ICL) yang tercatat sebagai pemegang saham Indosat. Temasek juga memiliki 35% saham Telkomsel melalui anak usahanya Singapore Telecomunications (Singtel). Artinya, Indosat dan Telkomsel sudah bukan milik orang Indonesia lagi. Sama seperti klub-klub besar di Liga Inggris.
Sekarang pertanyaannya lagi, apakah ini adalah sebuah kemajuan atau sebuah kemunduran? Sejujurnya, keduanya adalah sebuah kemunduran. mengenai perusahan besar Indonesia yang telah dicaploki pemodal asing, hal ini jelas sebuah kemunduran bagi negara karena pemilik modal tidak peduli dengan pelanggan yang menggunakan jasa perusahan besar tersebut. Yang penting mereka bisa meraup untung, lalu kalau anak usahanya itu bisa memiliki revenue yang lebih baik, maka mereka bisa menjualnya lebih tinggi kepada pemodal asing yang lebih banyak uangnya.
Sedangkan bagi klub besar sepakbola Inggris, kepimilikan oleh pemodal asing juga sebuah kemunduran. Mereka sudah tidak perduli dengan suara fans. Mereka juga tidak perduli dengan pesepakbola lokal. Yang dipentingkan adalah uang dari tiket, iklan, siaran televisi dan marchendise. Bagaimana meningkatnya, adalah dengan membeli pemain asing yang bagus tapi murah.
Oleh karena itulah kenapa sepakbola Inggris dan perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Sama-sama mata duitan. Sama-sama tidak peduli dengan pemilik sesungguhnya: rakyat.


