Spain’s Lovely Football Stopped the Magic of Hiddink
Menyaksikan pertandingan Spanyol vs Russia seperti menyaksikan miniatur dari Barcelona. Lini tengah dan lini pertahanan yang dikuasai oleh anak-anak Barcelona, menjadikan pertandingan ini seperti menyaksikan pertandingan-pertandingan masa keemasan Barcelona 2004-05 dan 2005-06. penguasaan bola yang baik, passing-passing tingkat tinggi dan visi yang bagus dari 2 gelandang serang, Xavi dan Iniesta, benar-benar enak untuk ditonton.
Babak pertama tidak ada gol. Yang ada adalah ditarik keluarnya David Villa karena cidera dan digantikan Cesc Fabregas. Pada babak ini, 3 kekawatiran dari fans Spanyol sedikit berkurang. Kekawatiran kalau: 1) Sergio Ramos kembali menjadi “king of wrong pass”; 2) kembalinya semangat spartan yang ditunjukkan anak asuh Guus Hiddink seperti ketika menghadapi Belanda; 3) berhasilnya Russia mencuri gol di babak pertama. Sedangkan dari kedua kubu, ada satu kekawatiran yang sangat ditakuti: petir yang menggelegar sangat ditakuti bisa menyambar para pemain.
Pada babak kedua, gol pertama tercipta oleh Xavi Hernandez di menit 50. Gol ini bisa dibilang ada sedikit keberuntungan karena mungkin sebenarnya Iniesta akan menendang langsung ke gawang namun terlalu melebar, tapi Xavi muncul tiba-tiba dan menyosor bola tepat dibawah selangkangan kiper Russia.
Guiza kembali menambahkan pundi gol Spanyol melalui sontekan jenius Cesc Fabregas. Gol ini sebetulnya ada sedikit kesalahan dari pertahanan Russia dengan membiarkan Guiza berlari tanpa terperangkap off side.
Menit ke 81, David Silva memberikan keyakinan bagi tim matador untuk masuk ke final euro 2008. Melalui passing Iniesta yang mampu melihat Fabregas berdiri bebas, lalu dengan mudah, Fabregas kembali memberikan passing cantik ke Silva untuk terjadinya gol ke 3 bagi Spanyol.
Kredit tersediri perlu disematkan kepada sektor pertahanan dan penjaga gawang Spanyol. Sektor pertahanan wilayah tengah sangat kokoh yang dikomandoi oleh pemain asal Brazil, Senna. Alhasil, Andrei Arshavin dan Roman Pavlyuchenko tidak bisa berbuat banyak karena bola tidak banyak mengalir ke mereka berdua. Begitu pula dengan wilayah belakang yang dikomandoi Puyol. Pertahanan Spanyol jadi sangat sulit ditembus. Lalu dengan kiper, Cassilas tidak terlalu banyak bekerja keras. Namun pada menit 87 ada 1 shot on target dari Russia yang bisa saja menjadi gol seandainya penjaga gawangnya bukan Cassilas.
Akhirnya, Spanyol kembali ke final piala Eropa setelah menunggu 24 tahun dengan mengalahkan Russia. Luapan kegembiraan sudah terlihat ketika gol ketiga tercipta. Sedangkan dari kubu Russia, tidak ada raut kesedihan dari pemain-pemain Russia ketika pertandingan usai karena mungkin ini sudah pencapaian yang sangat membanggakan bagi negaranya. Untuk pertama kalinya negara beruang merah bisa menembus semifinal setelah Uni Soviet pecah.



padahal gw dukung rusia tuh buat ke final..
tapi apa mau dikata..spain maennya emang ciamik..
Ancaman besar sedang menanti Spain, karena Jerman dengan mental juaranya akan menaklukkan Spain.
Saya melihat Jerman akan kesulitan melawan team spt Croatia, Rusia dan Czech, tetapi lawan SPAIN mereka akan bisa mengatasinya.