Menuju Ernst Happel Stadium
Tiada lagi kejutan…
Tag line di atas memberikan closing statement jelang Final 29 Juni di Ernst Happel Stadium. Setelah dibuai oleh gagalnya Juara bertahan menuju babak selanjutnya, yang tidak lupa dihiasi oleh beberapa gol-gol di penghujung pertandingan, dilanjutkan oleh mentoknya tim finalis Piala Dunia maupun tim-tim kuat lainnya di phase gugur, pada akhirnya Piala Eropa 2008 akan bermuara kepada aksi “nyaris tanpa kejutan berarti”….
Nyaris tanpa kejutan ? Ya. Mungkin hanya nyaris, karena sebenarnya, dengan melajunya Spanyol ke final ketiganya sepanjang masa dalam sebuah turnamen besar, sudah merupakan prestasi fenomenal tersendiri.
Kekerasan hati dan kemampuan membaca permainan lawan, membawa Luis Aragones ke puncak perhelatan, sebelum memulai awal karirnya di Fenerbahce Turki, pasca Euro 2008 berakhir.
Meski harus kehilangan Villa, yang di sepanjang turnamen, bagai harimau mengintip mangsa di depan gawang lawan, Spanyol akhirnya tersenyum tuntas, dengan dukungan super sub Daniel Guiza dan tenacious midfielder Cesc Fabregas.
Kemenangan 3-0 ini sekaligus (lagi-lagi) menghentikan Meneer Guus di semifinal sebuah turnamen bergengsi. Setelah World Cup 1998 (kalah dari Brasil), World Cup 2002 (kalah dari Jerman), Euro 2008 akhirnya memakzulkan pelatih jenius ini di babak 4 besar.
Aksi liukan Arshavin di depan, longshot Golodin, overlapping Zhirkov di sisi kiri, berhasil “dikebiri” poros Puyol-Senna-Fabregas. Nama terakhir menjadi kartu as Aragones. Masuk di menit 34, menggantikan super striker David Villa, terjadi perubahan besar dalam pola permainan La furia roja.
Fabregas menapaktilasi perannya sebagai mata rantai terputus, seperti yang sudah dilakoninya ketika menghadapi Italia. Rajin menjemput bola, dari Marcos Senna, sebelum didistribusikannya ke segala arah. Fabre menjadi crème de la crème dari trio “mini” dirinya bersama Xavi dan Iniesta.
Sebuah umpan lob dan crossing, menjadi santapan empuk bagi Xavi dan Silva untuk kemudian dikonversi menjadi gol. Sepanjang pertandingan Fabregas membuat Spanyol tetap tajam, meski hanya menyisakan Torres di depan sebagai holding striker.
Menarik untuk ditunggu, bagaimana kontra strategi nantinya di Final.
Sudah terbayang dalam benak saya, duel one on one Podolski-Sergio Ramos di sisi kiri lapangan. Belum lagi power Simon Rolfes-Hitzpelger menghadapi liatnya Senna-Xavi-Iniesta. Defensive counter Jerman, atau possession Spanyol ?
Sabar, semua ada waktunya….
Ingat 29 Juni 2008, jadilah saksinya. Di Ernst Happel Stadium, akan terjawab siapa pemegang trofi Euro 2008 …..



apakabar mas andy…udah lama ga nulis ya…aku udah lama lho nungguin ulasan ttg piala eropa ini, mungkin mas andy sibuk bgt ya, sampai ga sempet nulis, untung ada bung adi…hehehe. Yang maju ke final diluar dugaanku, itulah seninya sepak bola,terus terang aku berharap belanda ke final, tapi ternyata anti klimaks, jagoanku dulu waktu masih ada zidane juga bermain sangat buruk…tapi siapapun yg maju aku puas nonton turnamen ini…