Kesan EURO 2008 Yang Masih Tertinggal
Piala eropa telah usai. Dan kejutan tidak terjadi di tahun 2008. tim papan atas, Jerman dan Spanyol, berhasil bercengkerama di final Piala Eropa kemarin. Seandainya Turki yang lolos, jika mampu mengandaskan Jerman, artinya kejutan macam tahun 2004 terulang kembali.
EURO 2008, juga meninggalkan kesan bagi seorang pemuda asal Russia, Andrei Arshavin. Setelah berhasil mengantarkan tim nasional Russia ke semifinal Piala Eropa, Arshavin langsung menjadi rebutan klub-klub besar hingga hari ini. Dari Barcelona, Real Madrid, Valencia hingga Inter Milan menaruh minat pada pemain berusia 27 tahun. Tapi sayang, Arshavin seperti anak perempuan yang masih dikerangkeng oleh orang tua. Zenit St Petersburg, yang kini menjadi orang tua asuhnya, masih belum mengijinkan Arshavin menikah dengan pria-pria kaya di dataran Eropa Barat.
Bukan hanya Arshavin yang sedang mendapat durian runtuh, pelatihnya pun mendapatkan buah jerih payahnya di ajang ini. Hiddink, dengan tangan dinginnya, berhasil mengantarkan Russia ke semifinal. Sebuah pencapaian yang membuatnya kembali menjadi pahlawan bagi negara yang ditukanginya. Ketika Hiddink mampu membawa Korea Selatan ke semifinal piala dunia 2002, ia juga mendapatkan tempat terhormat di Korea Selatan. Duh, enak juga yah om Hiddink ini.
Yunani, negara yang sewajibnya mempertahankan tropi piala Eropa, tanpa ampun selalu ditahan oleh lawan-lawannya. Permainnya boleh dianggap sudah bisa dibaca oleh lawannya. Hal ini memang wajar. Ketika seseorang yang bukan siapa-siapa lalu menjadi selebritis, seluruh gerak-geriknya akan dipantau oleh paparazzi. Makan dimana, pakai baju apa, akan selalu menjadi berita. Dan nasib ini tertular ke Yunani. Semua pola permainan, cara bermain para pemainnya, sudah terbaca oleh lawan-lawannya. Dan Zlatan Ibrahimovic pun pernah berkata kalau Swedia mampu membaca permainan Yunani.
EURO 2008 memang meninggalkan kesan yang mendalam. Khususnya buat penggemar La Liga dan Liga Premiership. Bintang-bintang La Liga seperti Xavi, Iniesta, Ramos, Puyol dan lain-lain ditambah bintang Premiership seperti Torres, Fabregas, Xabi Alonso dan yang lain, berhasil menyatu dalam satu racikan dibawah Aragones.
EURO 2008 kemarin memang penuh sukacita, juga penuh dukacita. Dukacita buat para penggemar Bundesliga. Bagaimana tidak, Jerman, yang 90% dipenuhi oleh superstar Bundesliga, harus tertunduk lesu setelah diketeki oleh Spanyol, satu kosong. Walau begitu, Jerman memang patut masuk final. Dengan metode berlatih super disiplin yang diterapkan oleh Loew keanak asuhnya, lalu menjelma menjadi permainan yang paling manis dilapangan, baik menyerang maupun bertahan, Jerman memang pantas masuk final.



Sini… Sini… saya yang melamar Arshavin. Pasti dikasih deh sama Zenit. *halah! Apaan sih ini??*
huuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaa…………….aku sedih banget german kalah kuakui permainan german waktu itu sangat ancur buanged, kesan yang paling mendalam kurasakan waktu itu mpe sekarang adalah german kalah dan waktu itu Q sangat sdih buanged bagaimana tidak waktu permainan dimulai bola selalu saja direbut, dikuasai sama spain dan TIMNAS GERMAN ajah sampe ga diberi peluang sama sekali, walaupun ada peluang dikit ajah langsung direbut ma pemain spain, andai sajah larinya LHAM lebih cepat lagi mendahului pemain spain bernama TORES, andai saja kiper germannya bisa nagkep, andai saja pemain belakang german pada ga maju semua en ada yang jaga di belakang mungkin hasil 0-0 masih berlangsung sampe ba2 injuri time en lebih seru lage klo sampe adu penalti khn lebih seru ntu, huhu..dasar mang sial bagi german
bagi pecinta GERMAN jangan bersedih lagi yach…
kita doakan ajh pada piala dunia 2010 akan dibalas ma GERMAN
en moga2 ajh jadi juara dunia spy dpt mengulang lagi kenangan2 masa lalu yang pernah dijuarai GERMAN tahun lalu…AMIEEEEN…