The Man behind the gun…
Dua minggu ini merupakan periode yang menyenangkan buat saya. Sebenarnya hanya hal sepele yang “kebetulan” saya (atau mungkin) rekan-rekan pembaca mengalami juga. Kemacetan sepanjang perjalanan menuju kantor secara signifikan berkurang.
Di tengah-tengah himpitan kenaikan BBM maupun harga barang-barang kebutuhan, hal yang demikian, merupakan “kenikmatan” (yang meskipun) cuma sesaat, sedikit memberikan antusiasme tersendiri sebelum memulai aktivitas. Dampak liburan sekolah, bukan hanya membahagiakan para pelajar se-jakarta, tapi juga berefek pada kami, buruh, karyawan dan kuli tenaga…
Nun jauh di sana, pasca Euro 2008, sepakbola di musim libur tetap menggeliat. Meski belum dikejutkan dengan berita blockbuster transfer (yang hampir pasti akan didominasi oleh CR7), masih banyak rumor maupun informasi affirmative yang dapat dikonfirm.
Justru di tengah sepinya bursa pemain, masih ada yang lebih nikmat digali dan diikuti. Sepertinya nikmatnya menyeruput secangkir kopi di pagi hari, “It’s the man behind the gun…”
Juergen Klinsmann sudah hampir 2 tahun lebih, tidak pernah menghadiri sebuah konferensi pers, sampai 4 Juli kemarin di Munich. Klinsi, yang semasa muda selalu kelihatan “bersinar” di kamera dengan rambut pirang yang selalu mengembang kesana kemari, menemani lari kencangnya di tengah rumput lapangan hijau, akan menangani FC Hollywood pada musim ini.
Klinsi pernah membuat mata dunia terbelalak, dengan me”reformasi” gaya permainan Jerman, dari text book membosankan (meski selalu menang), menjadi “diesel muda, yang atraktif dan hiperaktif”. Efek panjang, yang nantinya akan meletakkan pondasi the new nationalmanschaft, untuk “dinikmati” oleh koleganya, Joachim Loew.
Menarik untuk ditunggu, bagaimana sentuhan “si kijang dari Goppingen” setelah bersemedi di Amerika Latin ditambah ramuan ilmu tambahan, yang justru didapatnya bersama Los Angeles Lakers dan Phoenix Suns (CATAT: mereka klub basket, bukan klub sepakbola !!!!).
Dari Munich, kita beringsut ke selatan, ketika matahari menyengat panas,menuju kota dengan perilaku kemacetan, setengah mirip dari Jakarta, MILAN. Nafsu buta, raja minyak, Massimo Moratti, telah membawa seorang pelatih berkharisma, Jose Mourinho menjadi orang nomor 1 di kamar ganti Nerrazuri.
2 gelar lokal dalam 2 tahun terakhir, tidak juga memuaskan dahaga para petinggi tim biru hitam. Mungkin saja mereka “iri” akan kesuksesan tim sekotanya, yang justru lebih “alon-alon asal kelakon” dan kenyang gelar internasional.
Memang, para raja minyak tidak pernah “puas”. Di kota London, di klub yang juga dimiliki “seorang taipan minyak dari Rusia”, berfalsafah sama dengan Moratti. Tidak ada kepuasan yang sebanding dengan menjadi yang terbaik di Eropa.
Dan untuk itu, mereka “melupakan” jasa Avram Grant, seorang mentalis yang hanya membutuhkan waktu 9 bulan untuk dapat menunjukkan apa itu sebuah harmonisasi tim, di tengah-tengah tuntutan manajemen maupun publikasi pers yang terkadang memojokkan.
John Terry, dkk, nantinya akan dibesut oleh Luiz Felipe Scolari. Big Phil, sudah pasang kartu, janjinya Chelsea akan lebih bertenaga. Bertenaga ? Ya. Bukannya Chelsea sudah bermain bertenaga ? Akan seperti apa Chelsea nantinya ?
Lebih baik kita tunggu saja sendiri, meski pers Inggris lebih suka hal lain. Personalitas Scolari sungguh menenangkan pers Inggris, yang kerap berkomentar secara pedas. Scolari tampil percaya diri dengan “body language dan real English language” yang mumpuni. Hal yang juga dilakoni suksesornya di Seleccao, Carlos Queiroz.
Carlos Queiroz akhirnya keluar dari bayang-bayang Sir Alex Ferguson. Dengan mengambil jabatan sebagai pelatih timnas Portugal, Queiroz mengambil tantangan terbesar dalam hidupnya. Kegagalan ketika memegang Real Madrid di musim 2003-2004, seharusnya memberikan pelajaran penting dalam karier kepelatihannya.
Queiroz harus membuktikan, bahwa dirinya bukan hanya seorang “yes-man”, yang mengekor kepada kesuksesan karir seorang Sir Alex . Quieroz harus punya added value dari sekedar kecakapannya dalam berbahasa maupun berinteraksi.
Queiroz juga harus berani melatih kemampuannya dalam mengeksplorasi kemampuan terbaik dari pemainnya, dan menujukkan keberanian dalam mengubah pakem strategi anak asuhnya.
It’s the man behind the gun, and when the man is right, the gun will blow…



Buy tarmadol ….
Buy tarmadol ….