In Wenger, We trust…
17 Mei 2008, Cardiff City ditekuk oleh The Pompeys. Angka 1-0, tidak cukup menenggelamkan secercah berlian yang belum terasah di kubu Cardiff. Aaron Ramsey, nama sang berlian, digamit oleh the King of Wheeler Dealer, Mr Wenger pasca Piala Eropa 2008.
Sudah banyak yang mengenal sang professor a.k.a Arsene Wenger. Spesialisasi beli, bentuk dan jual pemain adalah masterpiece manager asal Perancis ini. Pengalamannya melatih klub asal macan asia, Nagoya Grampus Eight, menumbuhkan intuisinya, bahwa banyak pemain “brondong” berkapasitas bagus di luar sana, dan pada waktu yang tepat, lempar kembali pemain tersebut ke pasaran.
Wenger adalah akademisi manajemen. Dan untuk itu prinsip ekonominya tidak jauh beda dengan Warren Buffet. Beli ketika semua orang berpikir untuk menjual, dan juallah ketika anda merasa tawaran tersebut sudah jauh di atas nilai wajar.
Tetapi Wenger tidak selalu berhasil….. terutama jika menyangkut pemain muda Inggris. Theo Walcott contohnya. Sampai musim lalu, pada umur , Walcott belum mampu diorbitkan secara maksimal. Alih-alih berkembang, masuk dalam starting eleven-pun, belum dapat dipastikan setiap minggunya.
Dan sekarang, lagi-lagi Wenger “berjudi”, Ramsey yang masih “hijau” akan dipadukan dengan nama-nama besar, Fabregas, Rosicky, Hleb, Eboue, van Persie, dll. Status sebagai sub, sudah barang tentu bakal dilakoni Ramsey, sukur-sukur beliau tidak menapaktilasi Theo Walcott.
Samir Nasri ? Setali tiga uang….
Dari dulu saya tidak pernah beranggapan pemain ini spesial. Lihat saja, Piala Eropa 2008, dirinya hanya bermain 90 menit, itupun pada gim penentuan menghadapi Italia. Permainannya tidak istimewa dan tim yang dibelanya, kalah pula…..
Mungkin Wenger tidak mengikuti Piala Eropa yang lalu, karena jika pun iya, saya yakin beliau tidak akan kepincut terhadap pemain yang digadang-gadang akan menjadi the next Zinedine Zidane tersebut.
Karena jika memang Wenger menyimak jelas pada kejuaraan tersebut, seorang Joao Moutinho akan lebih bernilai dibanding Nasri sekalipun. Moutinho bisa menyerang dan bisa bertahan, dan yang lebih penting dirinya punya konsistensi dan karakter yang dapat membuatnya menjadi pemain yang lebih berprospek di masa depan.
Wenger punya memori. Memori akan Marseille 98. Memori di mana, sekerlip cahaya ditumpukan semenjana. Robert Pires namanya. Frenchman dengan lintangan janggut tipis di bawah mulut bak Robert D’artagnan. Seorang playmaker yang nantinya melejit sebagai winger. Dan memori ini mungkin cocok untuk Nasri.
Wenger bukan saya… Wenger jauh lebih baik daripada saya, yang hanya mampu menulis artikel dengan banyak kekurangan di sana-sini. Wenger punya cara pandang sendiri. Yang dengan cara itulah Arsenal sanggup mendapatkan dana segar 50 kali lipat dari investasi awal ketika membeli seorang Nicolas Anelka.
In Wenger, We Trust !!! Arsenal percaya untuk tumbuh dan berkembang.
Suka tidak suka, pemain boleh datang silih berganti, but Monsinyeur Wenger selalu berarti….



jujur aja, walau aku ga suka arsenal tapi aku tetap angkat topi buat permainan arsenal yg bisa di bilang memainkan ” sepakbola cantik ” dan aku percaya itu semua adalah “ulah nya” pak wenger ini… cara wenger membeli pemain juga membuat aku ga bisa membenci dia karena aku termasuk orang yg menggilai pemain muda berbakat ( apalagi dari inggris ) heheheheh… aku harap MU bisa ngikutin jejak wenger untuk lebih memilih membentuk pemain berbakat walau itu butuh waktu yg ga sebentar di samping juga membeli pemain2 hebat untuk memperkuat semua lini… ( ayo benzema… ke MU aja ) wakakkakakkakaka