Komersialisasi Sudah Melanda Media Massa Kita. Terus, Bagaimana?
Pemilik media massa, online maupun offline, cuma kepingin cepat kaya? Pertanyaan ini mungkin akan terjawab melalui kutipan dibawah ini setelah seorang pembaca memberikan komentar bagus terkait dengan kenapa Liga Super ogah diliput oleh media massa nasional secara besar-besaran.
Ada yang menarik ketika (saya) membaca (tabloid) Bola edisi 1844 (selasa 15 juli 2008) dalam rubrik OLE nasional. Ada fakta menarik tentang perhelatan Liga Super, liga yang amat prestisius. Liga yang amat dibangga-banggakan. Liga yang sangat menyita konsentrasi publik karena untuk menentukan siapa pesertanya, BLI harus melakukan berkali-kali penundaan pengumuman pesertanya.
Ya, faktor klasik persepakbolaan indonesia. Kerusuhan. tercatat ada 2 partai yang yang menjadi sorotan ketika Sriwijaya bertemu Persipura dan Pelita Jaya bertemu Persiba Balikpapan. Walaupun tidak berskala besar akan tetapi sedikit mengusik saya untuk menulis artikel ini. Sebenarnya saya berharap dalam bola edisi kemarin ada sebuah liputan khusus tentang Peringatan Hari Suporter Nasional. Walaupun tidak diadakan secara besar-besaran tapi di Solo ada sebuah kegiatan dalam memperingati sewindu hari suporter tersebut.
8 tahun silam di kantor bola hari itu dideklarasikan untuk penyatuan visi dan mempererat tali silaturahmi antarkelompok suporter yang beragam. Entah karena tabloid Bola tidak mengetahui itu atau memang berita itu tidak menjual saya tidak tahu.
Memang ada berita tentang itu tapi hanya di kolom kecil saja. Sungguh ironi. Teringat obrolan dengan salah seorang wartawan surat kabar harian ketika demo di kantor PSSI, dia cerita kalau media sekarang nyari yang menjual saja. Waduh, pikir ku dalam hati kok bisa bisanya ya. ya itulah fakta nya kalau memang komersialisasi sudah melanda bangsa kita. Cak Nun pernah bilang, tujuan hidup kita itu cuma satu. cuma pengan kaya. dan emang sih, uang jadi tujuan nomor satu. kalau kita saja berpikir uang dan uang apalagi sebuah perusahaan media yang jelas di didirikan untuk mencari omset yang luar biasa.
- - -
Liga Super memang tidak menjual. Dan memohon kepada media massa mainstream untuk mengulas Liga Super lebih maksimal, adalah pekerjaan bagai punduk merindukan bulan. Karena itu, mungkin… inisiatif peliputan harus dilakukan oleh kita sendiri, blogger.


