CR 7 - Money isn’t Everything
Membaca tabloid olahraga bertiras terbesar seantero Indonesia, ramai sekali pembicaraan soal gaji tinggi pesepakbola. Topik tentang apa yang lazim disebut sebagai kompensasi atas kelelahan dan keringat para bintang lapangan hijau ini, memang menjadi berita hangat dalam 2 minggu terakhir.
Hal ini sedikit banyak dipicu oleh kasus transfer (yang tak kunjung kelar) Cristiano Ronaldo. Ronaldo dalam beberapa masa, terus menerus “digosok” rumor kepindahannya dari Manchester United menuju ibukota Spanyol, untuk berlabuh di klub putih, Real Madrid.
Berita-berita seperti ini, tanpa disengaja atau tidak, telah menghipnotis seluruh dunia. Semua pihak angkat bicara, mulai dari Sepp Blatter, asosiasi pemain, sampai kepada tukang minuman di sebelah kantor saya.
Mungkin jika pemain yang dibahas bukan Ronaldo, ceritanya tidak se”ramai” biasanya. Sangat mengagumkan, pada usia yang sebanding dengan lulusan kuliah strata 1, CR 7 memasuki puncak kulminasi prestasi di dalam dan di luar lapangan. Secara materi dan kepuasan batin sebagai pesepakbola, kehidupan Ronaldo boleh dibilang komplet.
Torehan prestasi dengan 2 gelar juara (Liga Inggris dan Liga Champion), yang diperolehnya tahun lalu, dan digenapi oleh prestasi individu sebagai pemuncak pencetak gol terbanyak di kompetisi britania.
Jikalau ada “utang” Ronaldo mungkin hanyalah kegagalan membawa negeri leluhurnya menjadi nomor satu di ajang Piala Eropa di Swiss-Austria. Meski demikian, banyak yang memaklumi, karena memang “keringat dan tenaga” Ronaldo telah habis dieksploitasi dalam musim panjang yang melelahkan bersama klub Setan Merah.
Ronaldo adalah seorang profesional sejati. Saya tidak subjektif, saya pribadi tidak terlalu perduli dengan kebiasaan pribadinya yang gemar kehidupan malam, gonta-ganti cewek dan sebagainya. Sejauh permainan di lapangannya di atas rata-rata, tidak ada alasan bagi kita untuk menghakimi seorang atlet, pesepakbola atau pelaku olahraga cabang apapun, tidak juga Ronaldo. Jago yah jago aja….
Keinginannnya untuk pindah ke klub lain, juga bukan karena mata duitan. Sisi profesionalisme seringkali kita melihatnya dari sisi ekonomi. Seperti lazim dilakukan oleh aneka profesi kerja, seorang pekerja dapat dengan mudah berpindah dari satu perusahaan menuju perusahaan lain dengan alasan bayaran yang lebih tinggi ataupun kompensasi yang menggiurkan.
Namun tidak sedikit pula yang memiliki alasan lain yang lebih manusiawi. Alasan ini sepertinya menyentuh pemain Portugal yang terkenal dengan aksi stepovernya. Ronaldo butuh tantangan baru. Sudah 5 tahun dirinya berlabuh di Old Trafford. Dibina dari hanya sekedar anak muda bermain polos dan mengumbar skill, menjadi seorang dewasa yang punya visi matang dan bermain efektif.
Ronaldo sudah “kenyang gelar” di Inggris. Liga, Piala Liga, Carling Cup, Community Shield semua sudah dalam genggaman. Gelar individu ? Mulai dari pemain muda terbaik, pemain terbaik sampai kepada pemain asing terbaik. Tidak ada catatan gelar yang terlewatkan, baik untuk tim maupun individu. Kalaupun ada, mungkin hanya gelar pemain cadangan terbaik, yang lepas dari Ronaldo, yang otomatis tidak akan pernah diraih oleh winger atraktif ini.
Ronaldo butuh “dahaga” baru, bukan untuk gelar, tapi demi menemukan kenikmatan bermain yang segar dan murni. Semurni ketika dirinya menjejakkan kaki 5 tahun lalu, setelah tumbuh di kota Lisabon. Kejenuhan dapat melanda siapapun, yang merasa tidak mendapatkan tantangan maupun lingkungan baru. Hal ini lumrah dan sangat manusiawi.
Dahaga yang mungkin diimpikannya semenjak belia, dahaga bermain bersama para legenda. Ada legenda captain Italia yang dipimpin sebongkah batu karang bertubuh mungil (Cannavaro), ada pangeran Madrid yang justru dibesarkan oleh klub pesaing (Raul), ada juga sang pejuang yang bertahun-tahun mengatasi bobroknya lini pertahanan Los Merengues (Casillas).
Bagi Ronaldo…. Cannavaro, Raul dan Casillas is beyond my reach…. mereka tidak sama dengan Rio, Giggs atau van der Sar, kapasitas kebintangan tidak selalu melulu soal skill, namun bagaimana anda bermain dalam kapasitas internasional. Dan Ronaldo butuh itu… Masa-masa memulai kejayaan, masa-masa bermain bersama mentor, masa-masa memupuk satu kebersamaan baru dan menutup kejayaan dengan sebuah legitimasi legenda.
Jadi bukan uang yang dicari Ronaldo ? Saya jawab YA. Jika memang kepindahannya ke klub lain menghasilkan fulus yang besar, itu adalah “bonus” buat CR 7. Setidaknya buat sang agen yang bisa tersenyum sumringah tersamar bahagia.
Seperti sebuah gosip yang digosok makin asyik, cerita Ronaldo akan selalu menarik.



betul bung adi, pastinya ronaldo perlu tantangan baru dlm karier sepakbolanya, apalagi madrid konon adalah klub impiannya. kalo pun musim depan dia msh bertahan di old trafford, mungkin tahun2 berikutnya dia akhirnya jadi bergabung dengan madrid. tapi kalo raul masih bernomor 7, ronaldo bakal pake nomor brp ya di madrid?
@ luhursatya
bukan bung adi loh mas (ralat) tapi andy….
cepat atau lambat, ronaldo sepertinya akan berlabuh di el real, sepertinya dia cocok utk menjadi penerus no 7 Raul Gonzales
Klo dia benar seorang profesional sejati, sejatinya pula lah dia harus menghormati kontrak yang telah ditandatangani…Selama dia tak bisa menahan diri buat mengekpos keinginan dia u/ menkhianati kontraknya, dia tak lebih dari seorang loser.
@ yopie :
mungkin anda benar, masalahnya MU juga menetapkan standar ganda, ketika “mengganggu” Dimitar Berbatov dengan cara yang sama
@ Andy :
No…itu tidak jadi masalah. Yang sedang dibahas adalah Ronaldo. Tapi, kalau MU juga melakukan hal yang sama seperti Madrid, kita bisa bilang apapun keputusan CR7 sudah tepat, Loser belongs to losers…
FORZA MILAN!!!