Sensasi Sepp Blatter

blatter sepp sensasi2 minggu yang lalu, Opa Sepp Blatter membuat pernyataan yang cukup bikin kuping panas para pelaku bola dataran Eropa. Dari Sir Alex Ferguson, Fabio Canavarro hingga pemilik MU, Malcolm Glazer dibikinnya gerah. Sepp Blatter bilang jikalau seorang pemain kepingin pindah ke klub lain, solusi terbaik adalah membiarkan si pemain pindah jika memang dia sudah tidak betah berada di klub tersebut.

Tambahnya, "Sekarang sudah terlalu banyak perbudakan modern, baik dalam transfer pemain maupun pembelian pemain. Kita sedang berusaha memecahkan masalah itu.

Seperti dikutip dari Guardian, ketika Sepp Blatter ditanyakan tentang keinginan CR 7 pindah ke Real Madrid, Blatter menghimbau kepada pemain supaya selekasnya CR 7 pindah saja kemanapun dia inginkan.


Alhasil, atas pernyataan ini, banyak yang beranggapan kalau Sepp Blatter adalah penggemar Real Madrid. Atas istilah Modern Slavery-nya, secara tidak langsung media-media maupun blogger-blogger langsung beranggapan kalau Blatter sangat ngefans Real Madrid.

Kini, yang jadi poin penting adalah, kenapa Sepp Blatter bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Hal ini tidak lepas dari puncak kekesalan Blatter menyorot Liga Premier sebagai gudangnya klub pengumpul pemain asing. Blatter menilai, Liga Premier hanyalah mengumpulkan pemain-pemain asing, lalu memeras talentanya habis-habisan untuk keuntungan yang setinggi-tingginya. Sebuah fenomena yang tidak asing untuk disamakan dengan perbudakan tentunya.

Selain itu, Presiden FIFA ini menyatakan untuk kesekian kalinya soal pembatasan pemain asing di klub-klub Liga Premier. Blatter yakin formulanya soal lima pemain asing plus enam pemain lokal di klub-klub papan atas akan mendapat pengesahan dari seluruh anggota FIFA. Dengan formulanya itu ia yakin tidak akan lagi ‘jarak’ kekuatan di liga yang selama ini dikuasai empat klub saja—the big four—yaitu Manchester United, Arsenal, Chelsea dan Liverpool.

Kepada Daily Mirror, Blatter berkata: “Di Inggris, Anda hanya menjumpai empat atau lima tim saja yang bersaing ketat untuk menjadi juara dan merebut tempat di kejuaraan Eropa seperti Liga Champions. Selain itu, klub lain hanya berjuang untuk terhindar degradasi. Mereka semua hanya sebagai lawan latih tanding—sparring partner. Tidak lebih, dan kompetisi berjalan tidak sehat.”

Blatter memang menyorot Liga Premier, namun dalam komentarnya itu ia tegaskan juga kepada liga-liga utama Eropa lainnya seperti di Italia, Spanyol, Jerman dan Prancis. Akibat tim-tim kaya lebih mengedepankan membeli pemain jadi, para pemain muda lokal tidak memiliki kesempatan bermain di tim utama. Terpinggir dan semakin terpinggirkan tanpa jam terbang memadai sampai akhirnya menyebrang ke klub kecil dengan gairah berkompetisi yang sudah luntur.

Sebaliknya, Blatter lebih suka dengan gagasan mendidik pemain lokal. Tapi, bukannya untuk kemudian dijual. Itulah fenomena yang terjadi di tim-tim medioker dan papan bawah. Memoles pemain namun hasilnya kemudian diserahkan kepada tim besar dengan iming-iming gaji dan bonus lebih besar.

Kemurnian sepakbola sebagai daya tarik lokal berkurang karena tidak jarangnya pemain setempat yang bermain di klub asal kelahirannya. Pertandingan sepakbola tak ubahnya sebagai sebuah pagelaran artis-artis internasional. “Tidak. Pertahankan identitas nasional. Jika hal itu bisa dipertahankan maka keuntungan-keuntungan lain akan segera menyusul,” lanjutnya.

Selain memberi keuntungan pemerataan kekuatan, Blatter juga menyoroti kemajuan kualitas bagi tim nasional. Inggris merasakan efeknya setelah gagal meluncur ke putaran final Euro 2008. Karena kegagalan tersebut pemain asing barulah di jadikan ‘kambing hitam’. “Tanyakan saja ke negara manapun soal dukungan masyarakatnya terhadap timnas. Mereka pasti sepakat mendukung timnasnya, (terutama) lengkap dengan atribut lagu kebangsaan, warna kebesaran dan bendera negara yang terpatri di dada pemain,” pungkasnya.

No comments yet.

Write a comment: