Yin dan Yang

Indonesia bagaikan kawah kekuasaan. Belum lagi penguasa lama kelar bekerja, penguasa baru siap mengangkasa. Pilpres yang baru akan dimulai tahun depan, sudah terasa gaungnya 1 tahun di muka.
Calon-calon bertebaran dijamin cukup bervariasi.” Arak lama dalam kemasan baru”, (umumnya) masih tetap akan muncul. Dalam rangkaian “kereta tua” banyak calon yang masih berusaha mencari simpati, meski hirupan nafas sudah lewat setengah abad.
Pesaingnya ? Muka baru, yang memang terpendam, atau bahkan baru mencuat, meski cibiran dan rasa pesimis sering dimunculkan dari mereka yang baru mendengar.
Pilpres 2009, saya jamin akan menarik. Persaingan muda-tua bukan hanya untuk urusan calon individu, tapi juga dalam kompetisi antar partai, di mana partai gurem akan mencoba peruntungannya menggerogoti muka “lama” yang kerap berjaya. Fenomena 2 partai muda dalam pemilu terakhir, bisa jadi pemicu dan referensi yang bermutu.
Sedari dulu orang muda memang dinilai berbakat, penuh motivasi dan senang tantangan, namun potensi hanya tetap potensi sampai mereka mendapat kesempatan.
Dan bukanlah orang muda namanya jika sering melewatkan kesempatan, karena di situlah seleksi alamnya, bagaimana melihat satu peluang, mengambilnya dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
Tiba-tiba teringatlah saya akan 2 alumnus Piala Eropa juni lalu. Dua orang muda yang fresh, berbakat dan terlalu “menyolok” untuk dilupakan. Representasi jiwa muda mereka, ternyata (belum) juga direspon oleh pasar. Saya yang salah melihat atau anda sependapat ?
Yuri Zhirkov adalah jebolan CSKA Moskow. Seorang kamerad berambut kriwil ala Rudi Voeller yang senang berpetualang dalam area kidalisme.
Zhirkov di umur ke 25, sudah siap melanglang buana. Julukan sebagai “ronaldinho-nya rusia” bukanlah tanpa alasan. Dribbling dan pace-nya kelewat maut, dengan coverage lapangan yang “terlalu luas”. Saya pastikan, Zhirkov adalah bek kiri terbaik sepanjang kejuaraan.
Permainannya nyaris tanpa cacat. Zero error, membuat tidak ada gol tim lawan yang bersarang ke gawang rusia akibat kesalahannya. Sebaliknya, Zhirkov terus konstan memberikan teror di area kanan lawan, yang berujung kepada assist maupun gol.
Zhirkov adalah berlian muda. Jauh lebih berpotensi daripada Arshavin, dari tilikan usia. Posisi lapangannya pun lebih miskin pesaing dan dominasi. Ketika stok gelandang berlimpah, porsi pemain sayap akan selalu terlihat menonjol. Kebutuhan klub akan pemain kreatif yang bisa membuka permainan lewat skill individu adalah satu hal yang menjadi keharusan. Dan Zhirkov adalah solusinya.
Seperti kata pepatah, ada gelap maka ada terang, ada siang dan ada malam.
Sehebat apapun Zhirkov, klub harus mencari padanannya, dan Moutinho adalah jawabannya.
Moutinho adalah antithesis dari sebuah risiko. Risiko akan overoffensive. Resiko akan permainan terbuka, dan resiko akan jogo bonito demi kepuasan penonton.
Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika kejuaraan Piala Dunia Junior dilangsungkan. Seperti biasa saya mencoba menjadi “pengamat” amatir dari bakat-bakat yang terpendam. Saya catat beberapa nama dan saya buka kembali file tersebut saat ini.
Saya ternyata melewatkan nama Lionel Messi, tetapi (syukurnya) saya tidak salah menempatkan Joao Moutinho sebagai calon dagangan berkualitas di masa depan. Memilih pemain muda hebat memang gampang-gampang susah, bukan kepada skillnya, tetapi lebih kepada selera dan subyektifitas.
Subyektivitas juga berlaku bagi Little Joao, seorang pemuda mungil dalam standard eropa (170 cm), namun besar dalam citarasa sepakbola.
Joao adalah seorang saviour. Pengorban dalam arti sebenarnya, sebagai benteng dalam rentetan kanon gelombang serangan.
Joao memang tidak eksplosif seperti Ronaldo, tapi juga tidak se”boring” Costinha. Joao adalah sebuah daun teh yang siap untuk diseduh dan punya keharuman rasa plus aneka khasiat dalam lingkungan yang tepat.
Joao adalah kemurnian akan fifty-fifty football play, sebuah kemasan akan citarasa kemenangan di dalam balutan kenyamanan bermain. Sebuah orchestra mini, meski tak seindah Pirlo, namun punya gaya sendiri yang tidak kalah elegan.
Di usia 21 tahun, Moutinho sudah siap dipanen. Seorang kapten seumur jagung, yang telah terbukti di kota Lisabon.
Moutinho-Zhirkov bagi saya adalah fenomena. Bak Yin dan Yang keduanya berkolaborasi. Kestabilan dan kejutan adalah elemen penting dalam sepakbola. Masing-masing tentu dengan warnanya sendiri.
Zhirkov yang kriwil atau Moutinho yang kecil ?
Silahkan diambil sebelum jadi mubazir….. ![]()


