Penikmat Sepakbola Indonesia Masih Rasis?

2 bulan terakhir ini, setiap 2 minggu sekali saya bermain futsal di Metro Futsal, Pondok Indah. Saya bermain bareng dengan temannya-temannya-teman saya. Intinya saya diajak teman saya, dan teman saya itu diajak temannya dan teman yang lainnya. Mereka adalah kelompok bermain bola di sebuah lapangan Universitas Indonesia yang tersisih, lalu mencari lapangan futsal dan dapatlah di Metro futsal Pondok Indah.

Sabtu kemarin, tanggal 2 Agustus, setelah bermain untuk mencari keringat saja, kami beristirahat diruang tunggu atau ruang penuh meja yang biasanya dikhususkan untuk menunggu plus minum-minum. Ketika duduk santai sambil ngobrol, ada seseorang yang berbincang-bincang dengan temannya, tentang bola tentunya, seperti ini:

"Eh, Ronaldinho pakai baju merah, ga pantas yah…"

"Ga pantas gimana?" Tanya temannya.


"Iya. Ga pantas aja. Kalau di Barcelona, masih cukup pantas karena ada biru-birunya. Sama seperti ketika Dinho di PSG, kan masih ada biru-birunya, jadi pantas aja. Nah, di Milan, rasanya ga pantas aja dia pakai baju merah."

"Lah, Milan juga ada baju putihnya." Balas temannya.

"Ya, kalau baju putih sih, baikan deh."

"Eh, kalau Seedorf, pantas aja tuh." Sahut temannya.

"Ya, kalau Seedorf sih beda."

Lalu mereka memperbincangkan topik-topik lain tapi saya sudah malas menguping lagi karena sudah merasa kurang nyaman dengan perbincangan itu.

Kalau dipikir-pikir, apa yang diperbincangkan, sebenarnya ada rasa tidak suka kedatangan Ronaldinho ke AC Milan dari pencetus Ronaldinho tidak pantas pakai baju merah. Mungkin dia bermaksud ingin berkata seperti itu. Tapi, kalau ditilik kembali, apa yang diperbincangkan berdua, malah menjadi sebuah topik yang sangat rasis ketika dikaitkan dengan Seedorf, yang notabene adalah pemain berkulit hitam. Ronaldinho memang berkulit hitam, tapi dia tidak sepenuhnya negro, karena berasal dari Brazil.

Ras adalah salah satu isu yang canggung untuk diperbincangkan di dunia persepakbolaan. Olahraga ini telah menjadi salah satu ajang pemersatu selama dua dekade ini. Sehingga, ketika ada fans yang mengolok-olok seorang pemain kulit hitam, maka, sangsi berat akan menimpa klubnya. Contoh kasus akan hal ini bisa ditanyakan ke Real Zaragoza ketika menjamu Barcelona dimana Samuel Eto’o melakukan walk out tapi dicegah oleh Ronaldinho ketika fans Real Zaragoza menghina Eto’o dengan bertingkah seperti monyet.

Sayangnya, kesadaran soal ras ini tidak berlaku di Indonesia. Pecinta sepakbola masih menganggap pemain kulit hitam adalah kelas nomor 2 dibawah pemain kulit putih. Hal ini memang mendasar, orang Indonesia masih disuguhi dengan semua hal yang berbau bule. Artis sinetron yang indo, bintang iklan yang musti bule, barang-barang asal Eropa, adalah segalanya dibanding lokal punya ataupun orang negro. Dan dampak ini juga mempengaruhi akan mindset para pencinta sepakbola mengenai pemain.

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk hal ini memang. Semua orang berhak untuk berpendapat. Selama tidak ada yang merasa terganggu.

Tidak lama kemudian, saya membayar uang patungan bermain futsal ini dan setelah itu pulang menyimpan sebuah mozaik kehidupan tentang sepakbola Indonesia, khususnya para penikmatnya.

4 comments:

  1. Andy N. Gultom, 5. August 2008, 8:56

    @ adi :

    mentang2 sesama negro, jd deh ente membela “sejenisnya”…hahhahhahhah

     
  2. luhursatya, 5. August 2008, 12:27

    kalo cuma diobrolin sih gak masalah, bung. yg jadi masalah kalo hal itu terus jadi bahan hinaan dan caci maki. sbtlnya lucu juga kalo org indonesia ikut2 rasis, wong kebanyakan kita juga kulitnya sawo mateng, banyak yg hitam pula, lha kok melu2 ngenyek?

     
  3. Adi Wirasta, 5. August 2008, 18:19

    @Andy:
    Iya, gue bangga sebagai negro, hehehe…

    @luhur:
    masalahnya cuma ga enak dikuping aja, kenapa masalah kulit diperbincangkan. Bukan kualitas permainan.
    Gue bete dengernya.

     
  4. yopie pieters, 7. August 2008, 16:00

    HUehehehe…

    Bung Adi cocok kok klo pake baju Milan :)

     

Write a comment: