Keteguhan Hati Sang Ketua Umum
Ditulis oleh Anonim
"Coba pikir, organisasi mana yang pemimpinnya itu narapidana kecuali organisasi penjahat!"
Begitu seorang teman saya menumpahkan kekesalannya. Tentang apa? Tidak lain tidak bukan adalah tentang PSSI, induk olahraga sepakbola Indonesia.
Saat ini PSSI dipimpin oleh seorang pesakitan hotel prodeo bernama Nurdin Halid. Sudah dua kali ia masuk penjara selama menjabat sebagai ketua umum PSSI dan selama itu pula ia tidak pernah mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menganggap pemidanaannya tersebut bukan halangan untuk tetap memimpin PSSI.
Secara materiil mungkin benar. Ia tetap dapat menjalankan dan memberikan perintahnya kepada pengurus PSSI dari dalam selnya di Rutan Salemba sana. Tapi secara formil dan moral? Hmm…Patut dipertanyakan.
PSSI adalah lembaga publik, dalam artian ia dimiliki dan dicintai oleh berjuta penggila bola di Indonesia. PSSI juga tempat bernaung seluruh kegiatan persepakbolaan nasional, mulai dari timnas hingga level kompetisi divisi terendah. Artinya orang - orang yang mengurus lembaga ini haruslah kredibel dan terpercaya, gampangnya: mengerti sepakbola dan jujur. Sementara saat ini di PSSI bahkan pemimpin tertingginya saja adalah narapidana. Nah, jika pemimpinnya seorang "penjahat", apalagi pengkorup uang rakyat melalui kasus distribusi minyak goreng, bagaimana lembaga ini bisa dipercaya dan profesional. Ditambah lagi ini bukan pertama kalinya Nurdin dikaitkan dengan kasus korupsi. Ia pernah tersangkut korupsi dana Induk Koperasi Distribusi Indonesia (INKUD) dan Puskud Hasanuddin Makassar, terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam, serta dipidana dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal tahun 2004. Saat itu ia juga sedang menjabat sebagai ketua umum PSSI.
Rasanya wajar jika selama ini PSSI lebih banyak menorehkan rapor merah dibanding prestasi. Banyak contoh bisa kita ambil. Mulai dari buruknya manajemen liga yang dibuktikan dengan dihilangkannya sistem promosi-degradasi hampir tiap tahun sejak 2005, mandeknya prestasi timnas yang meski bermain bagus di piala asia2007 tetap saja kalah dan tidak lolos, hingga pembinaan pemain muda yang tidak kelihatan hasilnya (ke Argentina lah, ke Belanda lah, tetep aja memble). Semua itu bisa terjadi tentu saja karena sang ketua umum sibuk dengan bisnisnya, korupsinya, serta keluar masuk pengadilan dan penjaranya.
Baru - baru ini ia diwawancarai wartawan Lativi dari dalam penjara. Dari wawancara itu, mengemuka 3 hal yang dapat saya tangkap:
1. Nurdin merasa pemenjaraan dirinya buka masalah serius untuk tetap memimpin PSSI. Bahkan ia belum pernah menerima surat peringatan FIFA untuk mengundurkan diri.
2. Ia menganggap berita tentang penolakan dirinya mundur sebagai Ketua Umum PSSI terlalu dibesar-besarkan dan cenderung menuju pada pembunuhan karakter.
3. Ia merasa kepemimpinannya masih didukung oleh semua pengurus PSSI.
Coba bayangkan, ia merasa pemenjaraan dirinya bukan masalah serius sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal, dilihat dari segi pencitraan saja, hal itu sudah menjadi masalah. Bagaimana mungkin lembaga terhormat seperti PSSI ketuanya narapidana! Lihat saja komentar teman saya tadi.
Selain itu, bagaimana dia bisa efektif memimpin PSSI dari dalam sel. TIdak mungkin jika untuk rapat saja, semua stafnya harus datang ke penjara. Kalaupun melalui media komunikasi, tentunya menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Juga argumennya bahwa dia masih didukung oleh seluruh pengurus cabang PSSI daerah. Hmmm… Itulah akibatnya kalau berada di dalam penjara, jadinya tidak tahu perkembangan dunia luar. Sudah banyak kepengurusan PSSI daerah yang meminta Nurdin diberhentikan atau mengundurkan diri secara sukarela. Belum lagi unjuk rasa - unjuk rasa yang dilakukan masyarakat pecinta bola Indonesia meminta Nurdin mundur.
Nah, lengkap sudah. Pengurus daerah tidak mendukung, masyarakat meminta mundur. Jadi, tunggu apalagi Nurdin. Mundurlah kau sekarang juga. Ini demi kebaikan dirimu dan persepakbolaan nasional yang (katanya) kau cintai !
People Power bisa menghancurkan segalanya!!!



ganti aja tuh ketumnya, kita semua kan mau melihat sepakbola Indonesia maju