Audere est Facere

audere-est-facere.jpgAudere est Facere… untaian kata-kata ini sempat terpampang jelas, sebagai identitas Lilywhites.

Sebuah kumandang makna yang tak jauh dari pengertian “To dare is to do “…

Anehnya, mulai 2006, carikan kata ini lenyap bak ditelan bumi, yang muncul tetap seekor ayam jago dengan pisau ala sabungan, mencengkeram erat bola di kakinya.

To dare is to do….

Mungkin hal ini telah mengubah manajemen sang pemilik motto, Tottenham Hotspur. Bahwa berbuat nyata lebih baik daripada sekedar jargon kata. Ketika perjuangan tidak sekedar retorika, melainkan didapat dari setiap tetes keringat nyata di lapangan hijau.

Tidak perlu banyak berpikir, ungkapan aksi akan jauh lebih berarti. Dan revolusi telah dimulai, seiring ekspektasi yang meninggi.

Tottenham adalah legenda. Sebuah klub pemancang tonggak sejarah bagi persepakbolaan Inggris, ketika 45 tahun yang lalu menjadi yang tim Britania pertama yang pernah merengkuh trofi Eropa (Piala Winners). Gelar prestisius, melengkapi kesuksesan 2 tahun sebelumnya (1960-61), untuk menjadi (lagi-lagi) yang pertama menggabungkan Gelar Liga dan Piala FA pada 1 musim kompetisi.

Ironisnya, itulah gelar terakhir Premiership yang berhasil dibawa The Lilywhites sampai saat ini. Setelah era Jimmy Greaves lewat, tiada lagi yang sanggup merengkuhnya.

Terry Venables, Osvaldo Ardilles, Glenn Hoddle, Gary Lineker, Paul “Gazza” Gascoigne, Juergen Klinsmann, dan Teddy Sheringham, nama-nama ini bukanlah pemain ayam sayur. Bakat dan teknik kelas satu, adalah hal nyata yang jarang dimiliki oleh orang lain, namun melekat kepada pemilik-pemilik nama di atas.

Kenyataannya semuanya gagal, dan list ini berlanjut kepada Ledley King dan Jermaine Jenas. Mungkinkah lagi-lagi tahun ini berakhir sama ? Juande Ramos-lah yang berhak menjawab. Guliran 50 juta poundsterling yang telah digeber habis oleh Daniel Levy lewat perpanjangan tangan Damien Comolli, tentu bukannya tanpa dasar.

Sudah terlalu lama, harkat dan martabat klub putih ini “diinjak-injak” rekan sekota (baca : Arsenal), selama belasan tahun. Kini saatnya semuanya harus dikembalikan pada tempat yang seharusnya.

Lupakan sudah sentimen nasionalis untuk mengutamakan pemain lokal. Kolaborasi Robinson, King, Jenas, De foe, tidak berujung pada hasil yang diharapkan. Barisan asing pun disiapkan demi pencapaian kesuksesan.

Heurelho Gomes muncul sebagai pemberi jaminan kenyamanan lini belakang, menutup aksi blunder Robinson yang sudah dilego ke klub lain. Luka Modric, si kurus yang ulet nan liat, siap hadir memberi letupan kreasi dan aksi, yang pasti lebih yahud dari Steed Malbranque.

Dan yang terakhir, David Bentley akan menghilangkan kerinduan yang sering muncul dari winger asli khas Britania, yang terakhir kali sempat muncul periode 90-an, atas nama Darren Anderton.

Spurs memang terlihat sangat fokus pada sektor tengah dan belakang. 2 sektor ini adalah yang terlemah di musim lalu. Average hampir mencapai angka 2, dalam hal kebobolan bukanlah prestasi yang dapat dibanggakan dalam iklim persaingan Premiership 2007-2008 (61 kali kebobolan dalam 38 pertandingan).

Akankah Hotspur sukses ?
Tergantung apa yang ingin diraih. Jika sasarannya juara, 99% saya yakin TIDAK. Namun jika sasarannya Liga Champion, 60% saya pun masih yakin untuk berkata TIDAK .

Angka ini dapat berkurang seiring dengan beberapa catatan. Untuk mencapai Eropa, Hotspur harus bersaing dengan Liverpool, Newcastle, Everton, Aston Villa, dan Porstmouth (dengan asumsi 3 besar akan dikuasai Chelsea, MU, Arsenal). Dan hal ini bukanlah sesuatu yang ringan.

Tottenham perlu amunisi tambahan, khususnya sektor gelandang bertahan, untuk menambal kelebihan tenaga yang terlalu ofensif dalam diri Dos Santos, Modric, Jenas dan Bentley. Seorang Tom Huddlestone yang tambun, ataupun Didier Zokora, masih belum cukup untuk mengarungi kerasnya pergulatan tengah-belakang.

Catatan kedua, Hotspur perlu mencatat start bagus, untuk tancap gas mengungguli para pesaingnya. Suatu hal yang berat, melihat jadwal tim ini, yang harus menghadapi Middlesbrough, Sunderland, Chelsea, Aston Villa dan Wigan, dalam 5 gim awal.

Jika Tottenham mampu mengemas 12 poin dalam lima pertandingan perdana, dan Berbatov berhasil “dijaga” dari rayuan Man-Yoo, angka ramalan saya bergerak ke 75% demi kans Spurs menuju LC 2010.

Ditambah sedikit bumbu dewi fortuna, untuk menjauhkan dari hantu cedera, mungkin tawa nyata Juande beserta kolega akan muncul di akhir musim.

Audere est facere….to dare is to do….

1 comment:

  1. Forget Spurs, say Hello to City !!! | BOLANOVA.COM (Pingback), 8. September 2008, 0:02
     

    […] namun bagi saya tidak ada ubahnya seperti lonceng kematian. Seperti sudah saya katakan dalam “Audere est Facere”, kans Spurs boleh dibilang punah sudah, jika gagal meraup 12 poin dalam 5 pertandingan […]

     

Write a comment: