Raihlah Kemenangan Dengan Segala Cara, Merdeka!

Legenda Utah Jazz, Antoine Carr, pernah berkata bagaimana caranya mengalahkan Chicago Bulls, "Salah satu cara untuk mengalahkan Chicago Bulls adalah dengan menanamkan bom remote diperutnya Michael Jordan, lalu diledakkan dengan menekan tombol pemicu dipinggir lapangan." Komentar Antoine Carr yang ditulis di tabloid olahraga nasional terekam oleh saya hingga hari ini karena pada saat itu, musim NBA 1997-1998, Chicago Bulls sangat dominan sekali yang dipimpin oleh Michael Jordan.

Nah, mungkin saja komentar konyol Antoine Carr ini teringat juga oleh ofisial timnas Indonesia. Untuk mengalahkan lawan, jangan sungkan-sungkan berbuat agresif bin konyol yang penting menang. Entah terasuki juga ajaran filsuf edan Machiavelli yang mengajarkan raih kemenangan dengan segala cara, ofisial Timnas Indonesia berhasil memukul pelatih Libya, Gamal Adeen Nowara, supaya pingsan lalu koordinasi pemain dari pimpinannya jadi tidak berjalan dengan baik.


Ya, partai puncak Piala Kemerdekaan atau Pertamina Independence Cup 2008 berkesudahan anti-klimaks. Walaupun Indonesia A menjuarai turnamen yang kembali digelar setelah terakhir berlangsung pada tahun 2000 lalu, cara mengakhirinya tidak lazim. Indonesia A atau timnas senior juara setelah Libya menolak untuk melanjutkan bertanding di babak kedua.

Terkait dengan hal ini, blogger Hedi punya komentar menarik:

Buat saya, gelar juara pertama Piala Kemerdekaan kemarin justru tidak menggambarkan kemerdekaan. Harusnya Piala Pemberontakan.

Para pengurus bola di Senayan itu berontak karena ada tanda-tanda timnas kita bakalan kalah (lagi) karena tertinggal 0-1 dari Libya di babak pertama.

Akhirnya, pukul saja itu pelatih Libya biar dia WO. Terbukti, Libya ogah main lagi di babak kedua dan Indonesia pun juara. Menyedihkan. Tragis banget sepakbola kita ini.

Kalau sudah begini, pertanyaannya apa perlu sepakbola prestasi dihapus dari Indonesia. Nggak perlu ada liga atau turnamen resmi. Cukup main bola di kampung saja, maksimal main tarkam. Di sana, cabang olahraga pencak silat berpadu dengan sepakbola adalah hal jamak.

Akhir kata, dengan mengusap dada, sudah sebaiknya sepakbola Indonesia dikaji ulang. Atau nggak, sebelum bertanding, seluruh tim ofisial dan pemain dites dulu kondisi psikologisnya oleh psikolog supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

No comments yet.

Write a comment: