Dilema “All Around Player”

get-rich-or.JPG50 Cent di album perdananya, mengambil tagline Get Rich or Die tryin… Sepertinya dia ingin menampilkan impian pribadinya, ataupun impian orang-orang di sekelilingnya, atau malah lebih luas lagi, adalah impian semua orang di dunia.

Menjadi kaya memang nikmat, tidak hanya cukup secara materi, namun juga terkenal dan punya kesempatan mengaktualisasikan diri. Karena itu orang berlomba-lomba memberikan segala daya upaya dan usaha, untuk apa ? Yah, for being rich itu tadi…

Apa sih hubungannya antara Get Rich or Die Tryin dengan Dilemma All Around Player
?

Begini koneksinya. Dalam sepakbola, strategi dan taktik pelatih merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan tim, yang di dalamnya tercakup mengenai player selection.

Memilih pemain adalah perkara yang mudah, jika posisinya sudah terspesialisasi, contoh : Inzaghi = striker, Buffon = Kiper. Tetapi akan menjadi sulit, jika banyak pemain mengalami cedera, atau pemain yang diharapkan mengisi posisi tersebut dianggap tidak capable.

Akibatnya, pelatih harus membeli pemain baru lagi, dengan resiko cost gaji yang membengkak, jika pemain yang tadinya cedera, sudah sembuh dan siap bermain kembali.

Di sinilah pemain serba bisa tersebut berkontribusi. Sebagai bagian dari tim, mereka “dipaksa” untuk berkorban bermain sesuai posisi yang diinginkan pelatih. Akan menjadi cerita indah, jika mereka mampu bermain dengan baik, bahkan menjadi bintang di posisi barunya. Namun faktanya, lebih banyak cerita kelam yang terjadi.

Gianluca Zambrotta adalah anomali sepakbola
, transformasi posisinya dari Bari ke Juventus adalah dari forward menjadi winger. Setelah Camoranesi datang, beliau “dibuang” lagi menjadi bek kiri/kanan.

Hasilnya tokcer !!! Satu tempat di timnas Italia sebagai bek kanan, disematkan kepada dirinya. Padahal hal ini sulit terjadi, jika dia memaksa untuk tetap bermain sebagai forward/winger, karena banyak pemain bintang bermain di posisi tersebut.

Kisah sebaliknya dapat kita lihat pada Phillip Neville. Phillip bersama abangnya Gary, adalah alumnus Class of 92, yang kesohor di Britania Raya. Kebisaannya bermain di kiri dan kanan lapangan, membuat dirinya melejit sebagai pengisi spot MU Squad (entah sebagai line up atau bench).

Hal ini sangat memudahkan Ferguson (bukan karena permainannya loh), melainkan karena bench di Inggris hanya untuk 5 pemain saja. Memiliki Neville adalah satu keuntungan, karena setara dengan 2 posisi pemain di lapangan.

Serba bisanya Phillip, tidak serta merta membuat posisinya awet. Ferguson terlalu kebingungan melihat kapabilitasnya, sehingga mem”buang”nya ke Everton. Di timnas pun, Phillip dianggap tidak lebih dari sekedar pemain tambal sulam, padahal siapa yang tahu, jika dia fokus dan terspesialisasi di salah satu posisi (misalnya bek kiri), karirnya akan lebih mencuat ?

Kasus yang kurang lebih sama, juga dapat dilihat pada Luciano Zauri (eks bek kiri/kanan Lazio). Being all around player memang gampang-gampang susah. Ibaratnya anda punya 2 gelar S-1, dibandingkan spesialitas sebuah gelar S-2, mana yang akan dipilih oleh perusahaan ?

Tulisan ini akan menjadi lebih rumit jika melihat kasus Micah Richards, yang di klubnya bermain sebagai stopper, dan di timnas sebagai right full back. Penjelasannya, adalah itu bagian dari hak prerogatif pelatih timnas untuk bereksperimen dengan pemainnya.

Tugas pemain cuma satu, bermain dengan baik, sisanya serahkan kepada pelatih. Kalo cocok, yah langgeng, ga cocok tinggal dibuang.

All around players are trying so hard to become team member, the choice is clear, adopt or die….

No comments yet.

Write a comment: