Legitimasi Legenda
Vale, begitu dirinya biasa disapa, merupakan salah satu olahragawan terbesar di muka bumi ini.
Bukan hanya prestasi “maut” dengan 5 gelar berurutan di kelas bergengsi 500 cc/Moto GP, melainkan dengan torehan pemecahan gelar statistik aneka kategori, mulai dari jumlah kemenangan, total poin, sampai kepada rentetan nominal kemenangan pada kelas lainnya.
Saya tidak terlalu tergiur dengan angka statistik di atas, buat saya ukuran juara sejati adalah comeback dan motivasi. Dan untuk yang satu itu Vale-lah jawaranya. Gelar comeback 2008, adalah jawaban dari puasa gelar setelah menjuarai gelar terakhirnya di 2005.
Tiba-tiba ingatan saya tertuju kepada derby Milan. Sebuah heading Ronaldinho ke tiang jauh mencoreng aksi sempurna Inter dalam 4 minggu pertama Lega Calcio. Ronaldinho menutup malam dengan indah.
Fakta ini juga menjawab segala macam tudingan miring yang dialamatkan kepada dirinya. Aksi semalam memang tidak akan menghapus hujan setahun. Tetapi minimal Dinho masih bisa unjuk gigi, demi menghindari tuntutan dan harapan yang sedemikian besar.
Ketika Vale sudah “kembali”, Dinho masih mencari-cari…
Dinho adalah pemain hebat, dengan prestasi pemain terbaik dunia 2004, 2005 dan pemain terbaik eropa 2005. Barcelona dibawanya melambung tinggi dengan gaya permainan memikat plus assist-assist “no look pass” ala NBA. Semasa jaya, tidak ada yang pernah mengira bahwa tidak sampai 3 tahun kemudian, pemain macam dirinya akan berpindah klub bahkan lintas negara.
Dengan fulus terbilang “murah” (20 juta euro saja), Dinho diboyong oleh Milan, yang menganggap diri sebagai “spesialis” reparasi pemain tua nan reot.
Ketika datang, Dinho tiada beda dengan Ronaldo, kompatriot idolanya dengan berat badan membubung, plus fisik tak terurus. Tagline Milan pun serupa dengan selalu menyebut pemain yang bersangkutan akan menampilkan kembali permainan terbaiknya di masa jaya.
Tak ada gading yang tak retak….
Semua orang tahu, Ronaldo akhirnya gagal dan sekarang mencoba menapak karir baru di Flamengo. Nah bagaimana dengan Ronaldinho ?
Menjadi pemain terbaik dunia adalah hal yang spesial. Mempertahankannya ? Lebih spesial lagi. Tercatat sangat jarang seorang pemain melakukan comeback atas gelar terbaik 2 tahun atau 3 tahun berselang. Kalaupun ada itulah pemain sangat spesial dengan kualitas kelas satu, macam van Basten dan Zidane.
Kompetisi sepakbola yang sedemikian ketat dan keras, menjadi alasan utama kesulitan seseorang menjadi yang terbaik. Dan dominasi menjadi hal yang jarang dimiliki.
Janganlah mencoba untuk membayangkan juara 6 kali berturut-turut seperti Pamela Jelimo, seorang atlet lari Kenya yang memenangkan ajang 800 meter dalam 6 ajang di tahun ini.
Atau bagaimana kuatnya seorang Alberto Contador Velasco, dengan menjuarai 3 grand prix balap sepeda (Giro d’Italia, Tour de France, dan Vuelta a espana) pada tahun 2008.
Sepakbola bukanlah olahraga individu, sepakbola menuntut kesiapan tim dan koordinasi semua posisi pemain di lapangan.
Kemunculan pemain hebat hanyalah merupakan akibat dari sistem permainan yang sudah ada. Ketenaran dan kehebatan pemain tersebut juga merupakan output dari decak kagum dan subyektifitas atas nama selera penontonnya.
Dan jika kehebatan individu yang dicari, kepongahanlah yang akan datang. Ketika tim dibentuk bukan berdasarkan harmonisasi tim, melainkan pendukung dari seseorang yang dinamakan poros tim.
Lain Vale, lain Ronaldinho. Ketika Vale masuk Yamaha, dirinya membentuk poros baru di tim tersebut. Vale tidak gila hormat, bersama-sama para mekanik, Vale membangun motor pada pabrikan yang dianggap hanya “kelas dua”. Vale serasa ingin membuktikan legitimasi individu di atas kehebatan teknologi.
Kepindahan Dinho ke Milan adalah pencarian sebuah harga diri dan kehormatan. Dinho mencari performa terbaik. Dan untuk hal tersebut Dinho sudah mulai tersadar, bahwa dirinya bukanlah aktor utama di klub barunya. Milan sudah kadung sayang kepada Kaka, seorang bocah ajaib teman sepersaingan Dinho di timnas Brasil.
Semakin cepat Dinho sadar, semakin cepat dirinya berevolusi, tentu demi kebaikan di masa depan. Dan untuk itu Vale boleh jadi anutan.



baik