Perancis, Le Championnat & Bekamenga
Krisis itu belum juga usai, bahkan nyaris bertambah akut, jika saja dua sayap “tanggung” Prancis, Ribery dan Gourcuff tidak “berkokok” di depan gawang lawan.
Anak-anak asuhan Victor Piturca dari negeri asal diktator bengis, Nicolae Ceaucescu, nyaris berpesta di rumahnya sendiri, sebelum disamakan skornya 2-2, oleh perjuangan keras pemainnya (bukan pelatihnya) !!!
Pelatihnya sendiri, Raymond Domenech masih punya “muka” untuk berujar kepuasan atas hasil pertandingan ini, seraya “berdalih” masih banyak pertandingan penting yang akan dilakoni dalam kualifikasi menuju Piala Dunia 2010. Di masa kepelatihannya yang mencapai tahun ke-5, Domenech mulai bereksperimen “aneh-aneh” dengan skuad Les bleus.
Domenech seperti “mengingkari” kekuatan Perancis yang selama era Aime Jacquet-Roger Lemerre-Jacques Santini yang terkenal dengan jarak rapat antara gelandang-gelandangnya. Alih-alih bermain padat dengan “mentabukan” permainan sayap dan lebar lapangan, Domenech mengubah total gaya permainan dengan mentransformasikan 2 semi playmaker menjadi wing murni.
Syukurnya, keduanya (Ribery-Gourcuff) mencetak gol. Jika tidak mungkin Domenech perlu lebih banyak dukun dan permainan klenik (yang memang sangat dipercayainya), untuk menyelamatkan dirinya dari pemecatan.
Kembali ke Liganya sendiri. Prestasi Perancis di ajang kualifikasi PD 2010, sesungguhnya tidak terepresentasi dengan kondisi persepakbolaan di sana. Sejauh ini Lyon masih belum mau turun dari puncak singgasana, dengan kehadiran beberapa tim sebagai pesaing kuat.
Toulouse, muncul sebagai kejutan awal dari tim promosi, Marseille menunjukkan diri sebagai kandidat juara, meski ditinggal gelandang berbakatnya, Samir Nasri di awal musim. Ada lagi yang mengejutkan, Bordeaux secara stabil mencuat dengan komposisi muda diusung oleh nakhoda berkharisma, Laurent Blanc, salah satunya adalah eks gelandang U-21 yang tersia-sia di AC Milan, Yoann Gourcuff.
Jika tak ada aral melintang, Le Championnat musim ini akan jauh lebih kompetitif dibandingkan musim lalu. Semoga saja hasil ini juga akan turut membantu timnasnya ke arah hasil lebih baik.
Seminggu sebelum tulisan ini dibuat, pada matchday ke 8, saya melihat hasil pertandingan sebuah klub elit Perancis, yang sempat nyaring tajinya di medio 90-an, Nantes. Klub bernuansa kuning-hijau, yang mulai mengalami pasang-surut persaingan, menghajar tuan rumah, Grenoble, 0-1.
Sang pencetak gol bernama Christian Bekamenga. Familiar ? Bisa ya, bisa tidak. Saya pilih jawaban pertama, YA. Pemain legam berperawakan kekar (185m-79kg), pernah turut menghiasi sengitnya warna-warni Liga Indonesia. Bekamenga yang berbaju Persib Bandung, bahkan masuk dalam jajaran pemain asing berkualitas pada masanya.
Di umurnya yang masih muda (22 tahun), Bekamenga memberikan kebanggaan pada saya dan (mungkin) penggemar Liga Indonesia lainnya. Meski dirinya bukan WNI, Bekamenga memberi bukti bahwa pengalaman dan kerja keras adalah kunci dari segalanya.
Bagaimana seseorang mengubah nasib dari Liga minor menuju Liga major bukan hanya terwujud lewat mimpi siang bolong. Mungkin ada keberuntungan, namun tiada yang mustahil dengan usaha dan doa.
Bak gayung bersambut, kisah ini masih berlanjut….
Nafas sengalnya belum juga usai, Bekamenga masih terus mencoba. 6 pertandingan sudah dilewati, 2 sebagai starter dan 4 sebagai cadangan. Sebuah gol adalah pembuka baru lembaran kehidupan. Dan ketika keran sudah dibuka, usaha nyata adalah kunci jawabannya.



Lu demen amat ama liga perancis cuy…
tapi bagus sih, nambah pengetahuan… huehehe…
moga2 Emile Mbamba mengikuti jejak Bekamenga, “terusir” dari carut marut Ligina dan kembali bermain di Eropa
Zoel, lu demen amat ama liga indonesia cuy…
tapi bagus sih, nambah pengetahuan… huehehe…
keliatannya klo pemain yg udah pernah main di ligina pasti punya mental dan ketahanan tubuh yg maknyos…. soalnya sering menghadapi tekel2 ala bruce lee di ligina… wakakkakakakak