Kejatuhan “Incumbent”

boaz.jpgPesta demokrasi ini belum jua dimulai. Hajatan besar per lima tahun, menurut rencana akan diadakan tahun depan yang tinggal berselang 8 bulan mendatang.

Sebagai “pemanasan” menjelang pesta akbar tersebut, rakyat Indonesia sudah disuguhi fenomena menarik, yang terjadi di beberapa kawasan bumi nusantara.

Kejatuhan “incumbent”, adalah hal yang layak dicermati dalam beberapa waktu ini.
Incumbent merupakan istilah yang disematkan kepada pemegang tampuk kuasa/jabatan sebelumnya. Versi olahraganya adalah sang juara bertahan yang kukuh untuk mempertahankan gelarnya dan memperpanjang masa kekuasaanya.

Coba catat, bagaimana melesatnya HADE (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf) menjadi orang nomor satu-dua di  bumi Parahiyangan, dengan “mempecundangi incumbent Danny Setiawan.

Atau fenomena yang (menurut saya) jauh lebih menarik, bagaimana seorang bupati Banyuasin Alex Noerdin berhasil mengatasi incumbent dan nama besar Syahrial Oesman-Helmy Yahya.

Alex bukan hanya sukses meraup hasil akhir yang mengejutkan, namun juga prosesi kampanye yang menarik, di mana mesin politiknya mampu membalikkan keadaan dari 5% popularitas menjadi 60% dalam waktu 6 bulan saja !!!!

Kata orang awam, mempertahankan gelar jauh lebih sulit daripada merebutnya…

Lihat saja ISL 2009, Sriwijaya FC terseok-seok menjaga gelar ganda yang diraihnya musim lalu, seiring dengan “kejatuhan” pendukung utamanya, sang incumbent tadi Syahrial Oesman (mungkin lho :) ).

Tapi yang lebih diperhatikan orang, adalah kemunculan 2 tim pemuncak klasemen dari ufuk timur wilayah Indonesia. Di wilayah yang nyaris tak terjamah dan tertinggal dari sisi pembangunan infrastruktur dan kemajuan teknologi, dan hanya terbangun dengan semangat bersama atas nama otonomi daerah.

Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena sejauh ini sudah menunjukkan taring dan suara nyaring akan hasrat mereka berprestasi lebih jauh. Di balik kesederhanaan dan sedikitnya publikasi, mereka menyeruak, bagaikan seekor harimau menerkam mangsa.

Kalau mau dirunut lebih jauh, sebenarnya prestasi ini bukan kejutan yang benar-benar mengejutkan.

Persipura sedari dulu sudah dikenal sebagai tim elit dengan bakat-bakat alam tak kenal habis. Musim lalu (jika tak sial), mereka seharusnya memperoleh minimal sebuah gelar, entah dari Copa Dji Sam Soe ataupun Liga Indonesia.

Persiwa Wamena ? Hampir sama… Sempat terpublikasi dengan homecourt andalannya, yang mencekak nafas karena kontur dan ketinggiannya di atas 3000 m, Persiwa akan menyulitkan siapapun yang “menantangnya” dalam setiap pertandingan kandang.

Dan seperti hujan yang berganti kering dalam seketika, konsistensi permainan menjadi hal yang signifikan yang melemparkan keduanya dari persaingan ketat Liga Indonesia. Tapi itu cerita lama, musim ini meski masih berlangsung, menjanjikan hal yang baru dan fresh untuk keduanya.

12 pertandingan telah dilalui, macan merah Persipura sudah menerkam macan putih (Persik), singo edan (arema) dan macan kemayoran (Persija), dengan selisih gol yang di luar batas kenalaran (kumulatif 15 gol) !!!

Belum usai era Boaz Solossa, sekarang sudah muncul jiwa liar penuh bakat dalam diri Stevie Bonsapia maupun Paulo Rumere. Dipadukan oleh pemain impor (yang cocok dengan gaya main Papua), kemasan permainan Persipura sangat mengigit, ofensif dan eksplosif di semua lini. Hal ini bahkan semakin menyalak, sepeninggal pelatih “incumbent” mereka Raja Isa.

Meski tidak semencorong Persipura, Wamena masih punya asa. Wamena selalu diidentikkan dengan kemiskinan, wilayah kabupaten terasing di bumi cendrawasih ini, memang tidak cukup “makmur”.

Namun seorang Pieter Rumaropen membawa nama Wamena, lebih harum di bumi nusantara. Seorang striker mungil, dengan badan (mungkin) kurang ideal bagi seorang pesepakbola. Pieter sekarang sedang menunggu panggilan pintu timnas, sebagai bukti kehebatan permainannya di lapangan hijau.

Berkat aksinya, dan sentuhan tangan magis Djoko Susilo, Persiwa mencaplok seluruh partai kandang sebanyak 8 kali dengan hasil sempurna (24 angka) !!! . Kesebelasan tamu, memang masih mengalami kesulitan jika bermain tandang di Wamena.

Tipisnya oksigen membuat stamina siapapun akan cepat habis di daerah ini, akibatnya nama besar dan kemampuan teknis, boleh jadi dinomorduakan jika anda bermain di daerah yang merupakan bagian dari kabupaten Jayawijaya.

Perjalanan masih panjang, masih banyak pertandingan yang akan dilakoni macan hijau (Persiwa) dan macan merah (Persipura). Pertandingan tandang akan memegang peranan penting, bagaimana mempertahankan konsistensi permainan waktu demi waktu.

Cerita tentang Chris John jumat lalu, mungkin boleh menjadi motivator
. Seorang juara sejati, yang tiada takut melakoni permainan tandang. Mempertahankan gelar secara terhormat dengan kemenangan mutlak.

Pada akhirnya cerita berujung bahagia, Chris menjadi 1 dari 5 super champion dunia tinju yang pernah ada, yang sukses mempertahankan gelar sampai argo pertandingan yang ke sepuluh.

Sebuah kebanggaan Indonesia, yang coba dinapaktilasi oleh Persipura dan Persiwa, saat ini.

3 comments:

  1. loushevaon7, 29. October 2008, 15:51

    Salut buat prestasi Persipura dan Persiwa. Jika salah satu dari mereka jadi juara Liga Super dan menjadi wakil Indonesia di Liga Champion Asia, semoga mereka bisa unjuk gigi pula. Persipura sudah menjadi juara paruh musim setelah menang 2-0 atas Persiwa.
    Btw, pelatih Persiwa sekarang namanya Suharno, sdh bukan Joko Susilo lagi, bang Andy.

     
  2. rudi, 10. November 2008, 10:04

    Sayang… masih seringnya ada pelemparan batu jika tim tamu bisa mengimbangi dan tuan rumah belum memasukkan gol … + lapangan yang berpasir, koq bisa lolos verifikasi BLI yaa…?

     
  3. seno, 12. November 2008, 11:51

    yah saya rasa emang edukasi yg kurang dan sepakbola belom menjadi sebuah kebutuhan “primer” di indonesia makanya klo di eropa itu orang2nya takut kalo kena sanksi ga boleh nonton di stadion selama2nya tapi klo di indonesia blom kayak gitu and pihak penyelenggara juga takut kalo tiket nya ga abis… heheheheh CMIIW

     

Write a comment: