Naturalisasi = Bagai Membeli Kucing Dalam Karung
Tulisan saya “Naturalisasi? Bukan PR Nomor Satu PSSI” mengundang opini yang bagus dari Bung Hedi. Begini katanya, “Naturalisasi mungkin bagus, tapi kelihatan banget pikiran instannya. Ngambil pemain naturalisasi tapi kalo dia main di liga yang ga bagus, katakanlah sekelas liga indonesia, hasilnya akan sama saja, ga berubah dari sekarang.”
Iseng-iseng, saya tambah tanya mengenai naturalisasi yang sedikit mengganggu pikiran saya apakah naturalisasi memang perlu dilakukan. Pertanyaan pertama, meneruskan komentar Bung Hedi sebelumnya, “Contoh pikiran instan apalagi yang sering
terlontar dari masyarakat bola Indonesia, mas?”
Dan dijawab, “Contoh instan? Udah jelas, kompetisi kita instan, ga punya jenjang. Dari mana pemain (bagus) mau muncul kalo ga pernah dididik di kompetisi berjenjang. 80 persen pemain di liga indonesia kan asalnya dari tarkam. Mental dan skill udah keliatan ga terasah. Repotnya, liga kita ga mendukung pula. Berantakan, mulai jadwal, wasit dan manajemennya.
Saya selalu percaya, pembinaan yang bagus adalah di kompetisi. Ada kompetisi kelompok umur, 5-8-12-15-18-20-yunior-senior. Semua negara maju punya itu. Dari sana pemain diasah cara nenndang, ngumpan, cetak gol, penempaan mental dan semangat, psikologi. Jadi tehnik dasar bermain ga lagi ditangani timnas. Timnas cuma ngurus strategi bermain, pematangan mental dan psikologi. Makanya kalo timnas hancur, perlu ditanya juga pelatih di klub: “Apa yg anda latih bung? karena pemain itu tiap hari bersama anda.”
Mengakhiri persoalan Naturalisasi, saya melontarkan sebuah pertanyaan lagi yang mungkin bisa menjadi pencerahan bahwa naturalisasi memang tidak perlu dilakukan PSSI, “kalau PSSI menaturalisasi pemain asal Brazil, komentar mas Hedi gimana?”
Naturalisasi dari Brasil? Harus jelas dulu, mainnya (karir) di kompetisi mana? Nggak usah jauh-jauh, singapura yang 50 persen darahnya naturalisasi pun babak belur di kelas asia. Itu karena “pemain asing” mereka main di Liga Singapura. Bukti baru mereka gagal di Piala AFF. Lalu kita mau ikut mereka? Wah kacau.
Jika Christian Gonzales atau Danilo Fernando ikut timnas, saya yakin tim kita tetap belum bisa merajai Asia Tenggara lagi.
Contoh lain bahwa kompetisi yg berkualitas akan berguna buat timnas adalah Brasil. Mereka pernah nyaris nggak lolos ke Piala Dunia, sampeyan pasti tahu. Sisa 5-6 partai, mereka urutan 6 klasemen amerika latin. Gara2nya 90% skuad diisi pemain dari liga Brasil. Tapi karena di ujung tanduk, mulai dipanggil para pemain brasil yang berkarir di Eropa dan Brasil pun lolos ke piala dunia.
Kita tahu skill pemain brasil mirip satu dengan yg lain. Beda tipis aja. Yang membedakan pemain liga lokal mereka dengan di Eropa sana ya penempaannya. di Eropa persaingan lebih ketat, pemain dipacu untuk terus mengasah kemampuan (luar dalem), dan akhirnya jadi produk siap tanding.”
Kesimpulan sementara yang didapat, naturalisasi memang tidak perlu dilakukan. Ada komentar?



Menurut saya ada betulnya pendapat saudara.. memang kita tergiur mengetahui ada banyak pemain keturunan Indonesia yang merumput di Eropa … sehingga naturalisasi itu menjadi opsi yang sangat masuk akal .
Namun demikian, memilih pemain yang akan dinaturalisasi harus selektif mengingat kebanyakan dari mereka bermain di tim yunior, reserves, dan kalau menjadi pemain inti di klub2 divisi 1 ke bawah yang kualitas permainannya tidak jauh dan bahkan sama dengan LIGINA. tetapi pemain2 tadi memiliki advantage yaitu mereka berkembang di atmosfir sepakbola dengan kompetisi yang lebih sehat dan pembinaan yang lebih jelas.. sesuatu yang tidak didapatkan pemain-pemain kita yang besar dari sistem PSSI karena kebobrokan sepakbola indonesia adalah pada sistem pembinaan.
Dan ingat!, kebanyakan dari mereka adalah pemain muda sehingga kemungkinan mereka untuk berkembang masih sangat terbuka. Harapan untuk menemukan diamonds in the rough masih ada . Konkritnya, terlepas dari masalah status hukum, kewarganegaraan, dan sejarah yang masih perlu diperjelas dalam forum tersendiri, pemain-main ini perlu dimanfaatkan setidaknya untuk 10 tahun kedepan sebagai basis timnas indonesia didukung pemain-pemain muda terpilih produk pssi. Mengingat susah untuk mengandalkan sistem pembinaan pssi yang tidak jelas, perlu juga digalakkan metode2 swadaya (di luar sistem pssi) untuk mendistribusikan pemain-pemain belia indonesia ke klub2 yunior eropa.. a la PJTKI tapi khusus pemain-pemain sepakbola muda.
Thailand dan Vietnam yg tdk melakukan naturalisasi nyatanya bisa berada di atas Indonesia. Kalo gak salah di negara kita banyak sekali SSB yg pesertanya dari mulai bocah. Ya, mestinya memang dari bocah sdh ada kompetisi berjenjang yg kontinyu. Btw, bakal jadi apa ya para pemain bocah kita yg pernah bermain di Danone Cup? Semoga mereka gak mengalami salah urus dan bisa jadi tulang punggung timnas kita di masa depan.
Memang instan. Maklumlah, Aku kira itu karena tekanan di pihak PSSI sudah sedemikian tinggi. Gara2 kekalahan lawan Oman dan ulah nekat bin ajaib Hendri M. Tapi kalau dipikir-pikir wacana naturalisasi ini memang penuh kontroversi. Dulu aja pernah ada wacana naturalisasi beberapa pemain Brazil (tapi sekarang nasibnya bagaimana coba?). Bagaimanapun, semuanya kembali kepada PSSI, pilihan mana yang dipilih (naturalisasi atau tidak) ada konsekuensinya dan keberhasilan TIMNAS tergantung kinerja PSSI sendiri. Naturalisasi atau tidak aku yakin masih ada jalan terang untuk “Negara Bola” tercinta. Semoga bukan sekedar ide atau pemikiran untuk “pengayem-ayem” (yang ternyata didengar media
).